Satu Juni tercatat dalam lembar sejarah,
Lahirnya dasar negara, penuntun arah.
Pemersatu bangsa di tengah beragam rupa,
Fondasi damai bagi dunia yang merdeka.
Pancasila jiwa, identitas yang nyata,
Menyatukan hati, hapus segala batas.
Nilai luhur terpatri jadi pondasi kokoh,
Adil dan sejahtera tujuan yang terang.
Bukan sekadar teori, bukan sekadar tulisan,
Bukan hanya lambang di atas kertas indah.
Harap kami tulus, kepada pemegang kuasa,
Amalkan isinya dalam setiap kebijakan.
Buatlah aturan yang berpihak pada rakyat,
Bukan keuntungan segelintir kelompok saja.
Pancasila hidup lewat tindakan nyata,
Biar rasakan manfaat dari ujung ke ujung desa.
Lihatlah mereka yang berjuang sepenuh jiwa,
Tenaga kesehatan rawat nyawa tanpa lelah.
Mereka garda depan saat sakit dan bahaya,
Layak dihargai, sejahtera, terjamin haknya.
Jangan lupa guru, pelita masa depan,
Mendidik tunas bangsa dengan sabar dan ikhlas.
Tingkatkan kesejahteraan, berikan tempat layak,
Agar ilmunya sampai, tak terbeban kekurangan.
Pancasila tak boleh jadi sekadar seremonial,
Dibaca, diingat, lalu hilang begitu saja.
Satu Juni ini bukan cuma perayaan,
Tapi saatnya lahir aturan yang pro rakyat jelata.
Kebijakan adil, berpihak pada yang lemah,
Menghapus kesenjangan, membasmi ketidakadilan.
Karena makna sila yang pertama sampai akhir,
Adalah kesejahteraan bagi seluruh penduduk.
Negeri ini besar karena kita yang beragam,
Dipersatukan oleh janji yang terpatri kuat.
Jangan biarkan semangat ini pudar dan luntur,
Ganti dengan kebijakan yang menyakiti dan merugikan.
Pemerintah yang adil adalah cerminan sila,
Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Bukan janji manis yang hilang ditelan waktu,
Tapi bukti nyata yang dirasakan setiap waktu.
Mari kita jaga, amalkan, dan lestarikan,
Pancasila berjalan seiring langkah negara.
Biar damai menyelimuti, persatuan terjaga,
Indonesia makmur, bahagia sepanjang masa.
Satu Juni lahir kembali semangat yang sejati,
Dasar negara hidup dalam aturan dan perbuatan.
Pancasila nyata, rakyat hidup sejahtera,
Itulah harap kita, cita-cita yang abadi.
Bendungan Metukul, 1 Juni 2026












