PASAR GHAIB KARANG BELING

Dwikki Ogi Dhaswara

Ilustrasi Pasar Ghaib Karang Beling

Bekaespedia.com_“Hei, anak yatim! Tunggu di situ!”

Khalid berhenti. Bukan karena patuh, tapi kerana kakinya sudah terbiasa berhenti ketika mendengar panggilan itu.

Wahab keluar dari pintu kedai papan, tubuhnya yang gempal dengan langkah sempoyongan seakan menunjukkan perangai yang sombong.

“Ikan kau itu, aku ambil dulu sepuluh ekor,” ucap Wahab.

Khalid mengetatkan pegangannya pada tali bakul. Hari ini kesabarannya sudah terasa tipis seperti kulit bawang.

“Tuan Wahab,” kata Khalid, suaranya tegas, “sudah tiga minggu hutang ikanmu belum terbayarkan. Hari ini saya mohon maaf. Ikan ini harus aku jual, bukan lagi diberikan.”

Wahab tertawa. Bukan tertawa gembira, tetapi tertawa yang dijadikan sebagai senjata untuk mengecilkan orang lain, supaya si penawa ini merasa lebih besar dan hebat.

“Aku tak minta diberikan, tapi kuambil dulu. Akan kubayar nantinya. Kau ini seperti orang bodoh saja!”

Hening sekejap. Angin di siang itu berhembus membelai daun-daun ketapang seolah-olah menjadi saksi. Muka Wahab berubah bukan karena malu, melainkan karena tidak dihiraukan dan tidak disegani lagi.

Khalid beranjak melangkahkan kakinya ke depan, membawa bakul ikan yang ia bawa. Ia menyusuri jalanan pasir yang diapit oleh pokok-pokok pandan liar dan debur ombak menuju Tanjung Sabang. Tempat yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya.

Di kampungnya sudah tidak ada ruang untuk ia berjualan. Ikan-ikannya kalah bersaing dengan jeritan para penjual yang lebih lantang, gerai-gerai yang besar, dan wajah-wajah yang sudah dikenali selama bertahun-tahun.

Ketika akan melangkahi bebatuan sebelum Tanjung Sabang, tatkala itu matanya terasa silau. Bukan silau yang biasa, melainkan cahaya keemasan, bagai api lilin yang tertiup angin.

Khalid menggosok matanya, kemudian silaunya mulai meredup. Di hadapannya, terlihat pasar yang ramai. Penuh dengan suara bising percakapan, gelak tawa, dan tawar-menawar.

Tercium juga asap dengan wewangian khas rempah-rempah dan buah-buahan yang tidak Khalid kenali. Ia bingung, tapi merasa lebih bersemangat.

“Akhirnya datang juga!” gumam Khalid.

Beberapa orang-orang di situ berpaling ke arah Khalid. Satu persatu menghampirinya, kemudian menjadi ramai dengan senyuman yang sama.

Khalid berdiri di tengah-tengah mereka yang mengerumuni bakul ikannya. Hari itu ia merasa seperti berada di dalam mimpi. Ia menoleh ke kiri, ke kanan, dan ke belakang semuanya ada orang.

“Ketulusanmu yang membawamu ke sini,” suara bisikan orang dari belakang.

Sontak Khalid terdiam, beberapa orang di tempat itu langsung mengambil ikannya dan memberikan kepadanya sebuah benda.

Khalid memandang benda itu. Di tangannya terletaklah sebuah kepingan emas bulat. Ia pun tak menyangka.

“Cukup… ini lebih tuan, bagaimana aku memberikan kembaliannya,” katanya perlahan.

“Ambil saja, kamu berhak menerimanya,” ucap salah satu dari orang-orang itu.

Selepas itu, satu demi satu.  Ikan merah, ikan kerisi, ikan duri, semua ditukar dengan kepingan yang sama. Hanya menyisakan ikan kembung yang tidak laku dijual.

Khalid pun sangat berpuas diri, kepingan-kepingan emas itu ditimbang-timbang dengan tangannya sendiri.

“Ting… ting… ting…”

Seperti lonceng yang berdenting.

Ia bergegas pulang dengan senyum yang merona. Perjalanannya terasa lebih ringan dibandingkan ketika saat perjalanan pergi. Segala beban pikirannya pun hilang.

Akan tetapi, tak lama kemudian dari celah dua batang pokok kelapa, muncullah Wahab.

Khalid berhenti. Jantungnya berdegup kencang.

“Eh, eh, eh,” kata Wahab dengan senyuman jahatnya. “Dari mana kau Khalid? Jauh sungguh perjalananmu hari ini.”

Khalid menggenggam erat bungkusan kepingan emas yang ia taruh di ikatan pinggangnya.

“Ya Tuhan… jangan beri tahu dia. Semoga tidak terlihat,” gumamnya.

“Dari pesisiran pantai, Tuan Wahab,” kata Khalid, dan tubuhnya gemetar. “Jual ikan,” sambutnya dengan suara terpatah-patah.

“Jual ikan,” ulang Wahab seperti tak percaya. “Di mana? Di sana hanya ada perkampungan cina kecil, sepi… seperti tak berpenghuni.”

Khalid pun tidak berani menjawabnya.

Wahab semakin mendekatinya. Bakul ikan yang berisi beberapa ekor ikan kembung direbut oleh Wahab.

“Bagi sini,” kata Wahab. Bukan lagi permintaan, tapi paksaan.

Khalid membiarkannya.

Bukan ia tak marah, tapi demi melindungi bungkusan kepingan emas di pinggangnya. Kehilangan bakul ikan jauh lebih ringan daripada kehilangan bungkusan itu.

Wahab membuka penutup bakul itu, memandang isinya dan wajahnya berubah seperti langit yang mendung diselimuti petir.

“Ini saja?” ucapnya dengan suara keras.

“Ikan kembung! Kau anggap aku ini kucing ya?” sahut Wahab marah.

“Hanya itu yang ada, Tuan Wahab, ikan lain sudah habis,” jawab Khalid sambil ketakutan.

“Habis terjual? Kau tak menjualnya, aku tak melihatmu di sana! Kau pergi ke mana?” tanya Wahab menuding ke arahnya.

Khalid terkejut, ia tak tahu apa-apa akan tempat itu.

Khalid memusingkan badannya, ia berlari dengan ketakutannya. Hingga dengan langkah gemetarnya itu membuat satu kepingan emas jatuh dari pinggangnya.

“Ting…”

Wahab membeku, matanya mengarah ke tanah.

Tergeletaklah sebuah kepingan emas bulat, berkilau dengan cahayanya. Wahab mengambil kepingan itu, perlahan memandang punggung Khalid yang berlari menjauh.

Khalid tak sadar. Ia terus berlari, jantungnya berdegup kencang, tangannya masih menggenggam erat bungkusannya. Fikirannya sudah jauh ke depan agar cepat sampai ke rumah.

“Dari mana… dari mana anak yatim ini dapat benda ini?” bisik Wahab.

Seketika itu di dalam fikirannya, muncul rencana jahat.

Sesaat sampai di rumah, Khalid masuk membawa bungkusannya. Ibu sudah lama menunggunya, sambil memasak dengan tangannya yang kasar. Semua itu dikarenakan oleh kerja kerasnya sendiri sejak suaminya hilang diambil oleh laut.

Matanya menatap Khalid dari ujung kepala sampai ke ujung kaki dalam sekelip mata. Ketika seorang ibu memeriksa anaknya yang baru pulang ke rumah.

“Maaf, Mak. Aku telat,” kata Khalid yang bermakna akan seribu persoalan.

“Ikanmu laku?” tanya Ibunya.

“Laku, Mak. Semua habis,” jawab Khalid.

Khalid meletakkan bungkusan kepingan emas di atas meja. Kepingan-kepingan emas itu keluar dengan membersamai kilauannya.

Ibunya terdiam, seperti tak disangka-sangka. Matanya membesar, bibirnya bergerak, namun tak dapat mengeluarkan suara. Jarinya menyentuh satu, perlahan.

Kepingan itu dingin, namun semua itu nyata.

“Khalid… ini dari mana?” tanya Ibunya gemetar.

Khalid mendongak memandangi Ibunya. Ibunya menangis, hingga ingin mencoba bertanya lagi dengan tenang, meskipun di hatinya bagai timbunan runtuh.

“Kau… kau tak buat hal yang tak baik kan, Khalid?” tanya Ibunya dengan meneteskan air mata. “Mak takut Khalid,” sambungnya lagi.

“Mak.. mak dengar cerita Khalid dulu,” jawab Khalid.

Dan Khalid pun bercerita. Ia bercerita tentang pasar, tentang kepingan emas, tentang orang-orang yang tak pernah ia jumpai sebelumnya.

Ibunya mendengar. Diam, dengan airmata yang masih membasahi pipinya, tapi tak lagi mengalir jatuh. Sekejap matanya menyimpit, sekejap matanya kembali terbuka lebar.

Ia memandang anaknya, mengenali wajah itu, bagai wajah yang berkata benar.

“Anak Mak… Mak tahu. Kau bukan pencuri. Tapi Mak takut,” bisiknya dengan suara yang terbeban.

Khalid memandangi Ibunya, membuat Ibunya merasakan bahwa anaknya sudah beranjak dewasa daripada yang ia sadari.

“Mak… jangan khawatir, besok aku akan bawa pulang lebih banyak lagi. Khalid janji,” ucapnya.

Di keesokan harinya, Khalid sudah bersiap dan berdiri di ambang pintu rumahnya. Ikan-ikan segar pun sudah terisi di dalam bakulnya. Kali ini tak lagi membawa ikan kembung.

Ibu pun berdiri di belakangnya, tidak lagi berkata-kata, hanya senyuman dan doa yang tak sempat ia ucapkan dengan kata-kata.

Khalid kembali melangkah berjalan menyusuri pantai. Wahab sudah menunggu, mengikutinya dengan diam-diam.

Ketika Khalid hampir melewati bebatuan besar yang menjadi gerbang antara jalan biasa dan teluk tersembunyi itu. Langkah kaki dari belakang tergesa-gesa mendekatinya.

“Tunggu! Khalid, tunggu!” teriak Wahab.

Tanpa berpikir lagi, Khalid berlari melompat melewati batu terakhir. Cahaya silau menyambut matanya. Gerbang itu kembali terbuka. Pasar itu ada.

Tapi, dengan nafas terengah-engah, Wahab pun berhasil melewati gerbang itu. Wahab terheran, di depannya ada pasar yang tak pernah ia sangka dan tak pernah ia jumpai.

Wahab memandang orang-orangnya, mereka seperti manusia. Tetapi ada sesuatu yang berbeda. Kulit mereka putih pucat. Wahab memandangi lebih dekat. Di antara hidung dan bibir mereka tak memiliki alur lekukan.

Tak ada tanda yang Tuhan buat di setiap wajah anak Adam sejak awal mula diciptakan.

“Ini pasar ghaib, ini bukan manusia,” gumamnya.

Khalid pun menyadarinya demikian. Ia tak melihat lagi keramaian seperti kemarin, dan hari ini mereka tak menghampirinya lagi.

Khalid bergerak menjauh, menerobos celah-celah antara gerai. Wahab ingin mengejarnya, namun fikiran jahatnya tertarik dengan sesuatu yang ada di pasar itu.

Di atas meja kayu, di dalam peti-peti kecil yang tak terkunci, terdapat kepingan-kepingan emas yang banyak sekali. Dan ia pun mengambil dengan banyaknya.

Anehnya lagi, orang-orang di situ hanya memandang dengan tatapan kosong. Tak bergerak sama sekali, tak bersuara, tak menghampiri, dan tak menghalangi.

Wahab perlahan memadamkan ketakutannya. Ketamakannya mengubah rasa takut menjadi berani. Hingga akalnya pun telah tergadaikan oleh nafsu dan keserakahannya sendiri.

Sedangkan di tempat lain, Khalid menjumpai penjara tinggi, berdinding rapat, berpintu besi. Ia berhenti, memandanginya dari luar, lalu keluarlah suara.

“Tolong…”

Perlahan dengan suara serak. “Tolong aku… aku manusia biasa… tolong bebaskan aku…”

Khalid pun penasaran dan melangkah mendekatinya.

Tetapi, penjara itu dijaga oleh penjaga berbadan tinggi. Tatapannya kosong, dengan keberaniannya Khalid ingin mencoba mengajaknya berbicara.

“Tuan… maaf tuan,” ucap Khalid dengan gugup.

Penjaga itu memandangnya dengan senyuman mengerikan. Matanya jatuh ke bakul ikan di tangan Khalid.

Khalid hanya bisa menelan liur. “Mereka bukan manusia,” gumamnya.

Khalid tak menyia-nyiakan kesempatan baik itu. Ia memberikan bakul ikannya kepada penjaga dan menukarkannya dengan kunci penjara.

Khalid pun berhasil membuka penjaranya. Ternyata yang ia tolong adalah seorang lelaki tua yang berumur kisaran empat puluh tahun.

Alhasil mereka menjauh dari tempat itu. Mereka pun berjalan menuju gerbang pasar.

Sedangkan Wahab sibuk memasukkan kepingan-kepingan emas  ke dalam peti besar yang ia temui di pasar ghaib.

Ia mencoba membawanya dengan tertatih-tatih. Akan tetapi, dua bayangan besar di hadapannya sudah menghalangi. Pengawal berbadan besar itu menatap Wahab dengan seram.

Wahab tak berani memandanginya lama-lama.

Suara pengawal itu keras, “Manusia serakah… kau tak layak untuk pulang.”

Khalid, dari kejauhan melihat semuanya. Ia berhenti melangkah sesaat, memandang Wahab diseret dengan paksa.

Kemudian lelaki tua di sisinya menyentuh pundaknya.

“Jalan, Nak! Sebelum terlambat” bisik lelaki itu.

Dan Khalid berpaling dari pandangannya ke Wahab, ia tak berani menoleh lagi.

Hanya angin yang berhembus dari arah laut, seperti mempersilahkan. Mereka melangkah melewati gerbang pasar itu. Dan suasana pun berubah. Mereka kembali ke dunia nyata.

“Khalid…” suara Ibunya dari kejauhan.

Khalid pun berpaling. Ibunya berlari menghampiri mereka. Matanya merah, tanda seorang Ibu ketika gelisah usai menangis.

Ibunya terkejut, lelaki tua itu pun memandanginya. Di dalam matanya yang cekung, Ibu Khalid melihat sosok lelaki tua itu terakhir kali ketika masih mengandung Khalid. Dan wajah itu masih sama seperti yang dulu.

“Halimah…” bisik lelaki itu.

Nama itu, nama yang sudah lama tak terucap dan tak terdengar, sekarang jatuh ke telinga Ibunya Khalid.

Tangannya menyentuh wajah lelaki itu, wajah itu nyata.

“Suamiku…” ucap Halimah lirih.

“Ini ayahmu, Khalid. Ini ayahmu… ini ayahmu, Nak!” sambut Ibunya dengan tangisan bahagia.

“Yusuf,” bisik Halimah.

Yusuf memeluk istri dan anaknya. Tangannya kurus gemetar, tapi pelukannya hangat dan penuh kebahagiaan.

Yusuf pun bercerita.

“Dulu, aku pernah masuk ke pasar itu, aku benar-benar tak tahu akan tempat itu,” kata Yusuf.

“Maafkan aku, aku khilaf. Aku sudah meninggalkan kalian selama ini, semua memang salahku, aku sudah mengambil barang yang bukan milikku. Aku pikir, aku bisa membawanya untuk biaya melahirkan anak kita ini, ternyata aku salah,” sambut Yusuf sambil menangis sesal.

“Satu kepingan emas di sana, adalah hutang yang tak mereka biarkan aku untuk pulang. Mereka tahan aku di penjara yang gelap, dan ternyata sudah sepuluh tahun lamanya,” ucap Yusuf lirih.

Hening di antara mereka bertiga. Hanya suara laut yang terdengar.

“Sudah, cukup… jangan kau teruskan lagi,” kata Halimah akhirnya, “Ayo, kita pulang…”

Mereka pun pulang dengan langkah yang letih, namun hati dipenuhi kebahagiaan.

Khalid tak menyangka, sebutan “Anak Yatim” yang selama ini melekat padanya kini seakan telah sirna. Untuk pertama kalinya, ia merasakan kehangatan keluarga yang utuh.

Dalam hatinya bergumam, “Terima Kasih, ya Allah. Engkau telah mengembalikan kebahagiaan yang sempat hilang. Kini kami memulainya kembali!”

 

 

TAMAT

Toboali, 4 Juni 2026

Exit mobile version