Penulis: Belva Al Akhab dan Satrio
Bekaespedia.com, Mentok,- Senja di Kampung Tanjung selalu datang dengan cara yang sama setiap Ramadhan. Cahaya matahari meredup di balik laut Mentok, lampu-lampu kecil dinyalakan di sepanjang jalan dan aroma santan serta gula merah mulai menguar dari lapak-lapak sederhana. Di bawah tenda plastik yang bergoyang pelan, warga Melayu, Tionghoa dan berbagai latar belakang agama berdiri berdampingan. Mereka menawar harga kue, tertawa kecil dan menunggu azan magrib dengan perasaan yang sama.
Di pasar Ramadhan ini, orang-orang tidak hanya berburu takjil. Mereka sedang merawat sesuatu yang lebih rapuh dari kue bangkit dan lebih berharga dari uang receh yaitu kerukunan.
Bazar Ramadhan di Kampung Tanjung, Kecamatan Mentok, Minggu (22/2/2026), dipadati ratusan warga sejak siang hari. Program Pasar Ramadhan yang difasilitasi Dinas Koperasi, UMKM dan Perdagangan Kabupaten Bangka Barat menampung puluhan pelaku UMKM kuliner lokal, dari penjual es buah hingga pembuat kue tradisional turun-temurun.
Menurut data Badan Pusat Statistik Kabupaten Bangka Barat, sektor kuliner UMKM menjadi tulang punggung ekonomi rumah tangga di wilayah pesisir Bangka Barat, terutama saat Ramadhan ketika omzet pedagang meningkat signifikan. Tetapi di Mentok, ekonomi rakyat hanyalah pintu masuk menuju cerita lain tentang perjumpaan manusia.
“Setiap Ramadhan saya beli takjil di sini. Walaupun saya bukan Muslim, tapi ini tradisi keluarga,” kata Hendrawan (47), warga keturunan Tionghoa. Ia membeli kue bangkit dan bingka labu untuk dibagikan kepada tetangganya yang berpuasa.
Di lapak sebelah, Siti Aminah (54) tersenyum melihat pembelinya yang beragam. “Kalau Imlek mereka kirim kue keranjang. Kalau Ramadhan mereka datang beli dagangan kami. Kami hidup seperti keluarga,” katanya.
Di antara suara tawar-menawar dan plastik yang berdesir, kalimat itu mengandung sejarah panjang yang tak tercatat dalam buku sekolah.
Kota Mentok di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung telah lama menjadi pelabuhan perdagangan timah sejak abad ke-18. Pedagang Melayu, Tionghoa, Arab, dan Eropa pernah berlabuh di dermaganya. Mereka datang dengan bahasa berbeda, iman berbeda dan masakan berbeda, lalu belajar hidup berdampingan.
Masjid tua seperti Masjid Jami Mentok berdiri tidak jauh dari klenteng-klenteng tua. Dari menara masjid terdengar azan, dari klenteng terdengar doa dan masyarakat berjalan di antara keduanya tanpa rasa takut.
Arsip sejarah Mentok sebagai kota pelabuhan timah mencatat tradisi saling berbagi makanan saat hari besar agama telah berlangsung sejak abad ke-19. Kue bangkit dibuat untuk pelaut Melayu, kue keranjang dibagikan saat Imlek kepada tetangga Muslim. Dapur menjadi ruang diplomasi yang paling jujur.
Dalam laporan Indeks Kerukunan Umat Beragama oleh Kementerian Agama Republik Indonesia, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung termasuk wilayah dengan tingkat toleransi tinggi. Namun di Kampung Tanjung, toleransi bukan angka. Ia adalah kebiasaan.
Pakar kuliner Nusantara William Wongso menyebut makanan tradisional sebagai arsip budaya. Dalam setiap resep tersimpan jejak perdagangan, migrasi dan pertemuan manusia.
Di Mentok, arsip itu hidup dalam rasa.
Kue rintak yang harum kelapa panggang, tekniknya dikenal dalam tradisi Tionghoa. Bingka labu dengan santan dan pandan adalah warisan Melayu. Kue bangkit yang tahan lama dibuat untuk pelaut menuju Selat Malaka. Setiap kue adalah cerita tentang perjalanan, tentang pertemuan, tentang kesediaan manusia menerima perbedaan.
Peneliti pariwisata kuliner Erik Wolf dalam Food Tourism Around the World menulis bahwa makanan lokal mampu membangun identitas sekaligus kohesi sosial. Laporan gastronomi dari World Tourism Organization juga menegaskan festival makanan tradisional dapat menjaga warisan budaya sekaligus memperkuat ekonomi komunitas.
Di Mentok, teori-teori itu hidup dalam tindakan sederhana warga non-Muslim membeli takjil untuk tetangga Muslim, pedagang Muslim menyimpan kue halal khusus untuk pembeli lintas iman.
Melayu dan Tionghoa: Dua Tradisi, Satu Meja
Hendrawan bercerita bahwa keluarganya membuat kue keranjang setiap Imlek dan membagikannya ke tetangga Muslim. Sebaliknya, saat Ramadhan, ia ikut membantu tetangganya mengemas kue bangkit.
“Kami belajar dari orang tua. Mereka bilang, kalau mau hidup tenang, hormati tetangga,” katanya.
Tokoh masyarakat Melayu setempat menyebut pasar Ramadhan sebagai ruang silaturahmi tahunan. Ia menilai berburu takjil menjadi simbol bahwa identitas keagamaan tidak menghalangi kemanusiaan.
Di antara lapak-lapak itu, anak-anak bermain tanpa tahu siapa Melayu atau Tionghoa. Mereka hanya tahu rasa manis kue dan dinginnya es buah.
Kerukunan tumbuh dari kebiasaan yang diwariskan diam-diam.
Julukan Mentok sebagai Kota 1.000 Kue menemukan maknanya di bazar kecil ini. Jika dikembangkan secara sistematis, pasar Ramadhan dapat menjadi festival toleransi tahunan yang memadukan wisata kuliner, religi dan sejarah kota pelabuhan.
Bukan sekadar destinasi wisata, tetapi ruang pendidikan sosial.
Di banyak negara, festival makanan menjadi simbol perdamaian. Di Mentok, hal itu tumbuh alami tanpa panggung megah, tanpa slogan besar.
Hanya lapak kayu, senyum sederhana, dan tangan-tangan yang saling memberi.
Ketika azan magrib berkumandang dari Masjid Jami Mentok, kerumunan perlahan bubar. Warga pulang membawa plastik berisi takjil.
Di rumah Melayu, kue bangkit disajikan bersama kolak.
Di rumah Tionghoa, sebagian kue dibagikan kepada tetangga Muslim.
Di antara santan yang mengepul dan gula merah yang meleleh, Mentok mengajarkan pelajaran yang jarang ditulis di buku sejarah tentang kerukunan tidak selalu lahir dari perjanjian besar. Kadang ia lahir dari sepotong takjil yang dibeli dengan senyum.
Di Kampung Tanjung, setiap Ramadhan, kerukunan beragama menemukan bentuknya sederhana, hangat dan jujur.
Dari pasar kecil itu, kota pelabuhan tua di ujung Bangka menulis ulang harapan: bahwa perbedaan bisa hidup berdampingan, selama manusia masih mau saling menyapa di meja yang sama.
