Kue Pelite Kesukaan Bung Karno
Penulis: Belva Al Akhab dan Satrio
Bekaespedia.com, Mentok, -Di ruang kerja sederhana Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bangka Barat, Fachriasyah, peta destinasi wisata tergantung di dinding seperti peta mimpi yang belum selesai digambar. Di atas mejanya, daftar kuliner Ramadhan bertumpuk, diapit daftar UMKM dan rencana promosi digital.
Di antara semua dokumen itu, satu ide terus ia ulang: Mentok harus hidup sebagai Kota 1.000 Kue, bukan sekadar slogan.
“Branding ini bukan iklan. Ini identitas budaya masyarakat Mentok. Ramadhan adalah momentum terbaik memperkenalkan warisan kuliner ini ke Indonesia,” kata Fachriasyah, Senin (23/02/2026).
Dari ruang itu, strategi wisata disusun untuk menghidupkan dapur-dapur warga, memperkuat ekonomi UMKM, dan menempatkan Mentok sebagai destinasi Ramadhan unggulan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Setelah meninjau bazar Ramadhan Desa Tanjung, Fachriasyah melihat ratusan jenis kue tradisional berjajar termasuk maksuba, bangkit, jongkong, bolu kojo, keretek dan puluhan resep keluarga yang tidak pernah tertulis di buku.
Branding Kota 1.000 Kue, katanya, lahir dari dapur-dapur perempuan Mentok.
Bukan dari baliho.
Bukan dari media sosial.
Tetapi dari tungku arang, loyang tua, dan doa yang dipanjatkan sejak subuh.
Pemerintah Kabupaten Bangka Barat kini menggerakkan:
Festival Kuliner Ramadhan tahunan
Promosi digital wisata Mentok
Sertifikasi higienitas UMKM
Paket wisata religi dan kuliner
Pelatihan generasi muda pembuat kue
Menurut Fachriasyah, strategi ini bertujuan menjadikan kuliner Mentok sebagai ikon wisata nasional.
“Kue Mentok bukan sekadar makanan. Ia sejarah keluarga, identitas kota, dan peluang ekonomi masyarakat,” katanya.
Liputan media seperti Bangka Pos dan laporan ANTARA News sebelumnya mencatat bazar Ramadhan Mentok sebagai magnet wisata tahunan yang menarik pengunjung dari Sumatera hingga Jawa.
Namun bagi Fachriasyah, kekuatan wisata bukan pada jumlah pengunjung, melainkan cerita yang dibawa pulang wisatawan.
Di Kampung Tanjung, Siti Aminah menata kue bangkit di atas tampah bambu. Resep itu ia warisi dari neneknya.
“Kalau Ramadhan, kami bukan cuma jualan. Kami menjaga cerita keluarga,” katanya.
Di kota ini, tepung beras adalah sejarah. Santan adalah memori. Gula merah adalah doa ekonomi keluarga.
Branding wisata 1.000 kue bukan kerja pemerintah semata. Ia adalah kerja sunyi warga Mentok.
Fachriasyah memahami itu. Ia ingin wisatawan datang bukan hanya membeli kue, tetapi merasakan kisah kota.
Mentok menjual rasa, sekaligus ingatan.
Kue Penganan Pelite Dan Nilai Sejarah Bung Karno Di Mentok
Di antara ratusan kue bazar Ramadhan Mentok, ada satu nama yang disebut dengan bangga dan pelan yaitu Penganan Pelite.
Kue sederhana dari tepung beras, santan, gula merah dan daun pandan ini dipercaya masyarakat pernah disantap Presiden pertama Indonesia, Soekarno, saat menjalani masa pengasingan di Bangka pada akhir 1940-an.
Di masa pengasingan itu, Mentok bukan hanya kota pelabuhan timah, tetapi kota sunyi tempat sejarah bangsa menunggu waktu.
Dalam cerita turun-temurun masyarakat, seorang warga kampung membawa kue pelite kepada Bung Karno. Ia mencicipinya, tersenyum, dan berkata rasa sederhana itu mengingatkannya pada kampung halaman.
Tidak ada arsip resmi yang menyebut jenis kue itu. Namun dalam biografi karya Cindy Adams, Bung Karno dikenal menyukai makanan tradisional rakyat.
Tradisi lisan masyarakat Mentok menjaga cerita itu seperti menjaga api kecil dalam gelap.
Kini, Dinas Pariwisata Bangka Barat mengangkat penganan pelite sebagai ikon wisata sejarah.
Branding yang disiapkan meliputi:
Storytelling wisata jejak pengasingan Bung Karno
Festival “Pelite Heritage” Ramadhan
Paket wisata sejarah kuliner Mentok
Dokumentasi resep pelite generasi tua
Promosi nasional kue sejarah Mentok
“Pelite adalah kue sederhana, tapi ia membawa sejarah bangsa. Ini kekuatan wisata Mentok,” kata Fachriasyah.
Dalam strategi pemasaran, pelite bukan hanya makanan, tetapi narasi nasional.
Wisatawan tidak sekadar membeli kue.
Mereka mencicipi sejarah.
Dinas Pariwisata Bangka Barat menargetkan Kota Mentok menjadi destinasi kuliner Ramadhan nasional dalam lima tahun ke depan.
Strategi mereka berbasis ekologi budaya seperti pendekatan jurnalisme mendalam ala laporan pembangunan daerah:
Penguatan UMKM lokal
Pelestarian resep tradisional
Wisata berbasis sejarah pengasingan Bung Karno
Promosi digital storytelling budaya
Kolaborasi hotel, pelabuhan, dan komunitas
Mentok tidak ingin menjadi kota wisata instan.
Ia ingin menjadi kota yang dikenang.
Menjelang magrib, lampu bazar menyala. Anak-anak membawa kotak kue. Wisatawan memotret. Para ibu tersenyum.
Di kota ini, branding wisata bukan proyek birokrasi.
Ia hidup dalam rasa.
Ia hidup dalam cerita Bung Karno.
Ia hidup dalam Ramadhan yang hangat.
Fachriasyah percaya, ketika wisata kuliner bertemu sejarah, Mentok akan menemukan masa depannya.
Di setiap penganan pelite yang hangat, Mentok seperti berbisik kepada Indonesia:
Bahwa sejarah bangsa pernah singgah di kota kecil ini melalui selembar kue sederhana yang penuh cinta.
Di bulan Ramadhan, Kota 1.000 Kue itu kembali menyalakan tungku-tungku harapan bagi masyarakat Bangka Barat.
