Penjaga Hutan Ajaib

Oleh: Aiko Danisya (SDIT Sahabat Qu’ran, Koba)

 

Di suatu desa, ada sebuah rumor mengatakan bahwa ada hutan ajaib. Di sana, terdapat sebuah bunga permohonan. Tetapi, di hutan itu terdapat penjaga bunga harapan. Tidak sembarang orang bisa mengambilnya. Mulai dari ksatria, pria berotot, seorang penjelajah sampai orang luar desa pun tertarik. Tetapi, tidak satupun dari mereka berhasil mendapatkannya. Ada yang berhasil keluar dari hutan tersebut tetapi memiliki trauma mendalam. Bahkan ada yang sampai sekarang tidak kunjung kembali. Ada seorang anak bernama Vira. Ayahnya sedang sakit keras. Ia ingin mengambil bunga itu untuk meminta ayahnya agar segera sembuh.

“Ah! tidak mungkin ia mendapatkannya!”

“Gadis polos dan lugu itu ingin mengambil bunga itu? Tidak mungkin! Ksatria saja gagal mendapatkannya, apa lagi dia!” ujar orang-orang yang tidak memercayainya. Ia tidak peduli apa perkataan orang. Keesokan harinya, ia sudah siap untuk pergi dengan membawa tas punggung yang berisi perlengkapan untuk perjalanannya. Mulai dari perbekalan, obat-obatan, hingga alat bertahan hidup. Saat ingin pergi, ia pamit dan meminta restu kepada kedua orang tuanya. Setelah pamit ia pergi ke hutan ajaib. Ibunya berlinang air mata karena harus melepas putri kecilnya pergi bertualang antara hidup dan mati.

Saat pertama kali masuk, ia merasa tidak ada yang begitu aneh. Hanya hutan biasa saja, tidak ada ajaibnya. Saat kembali melangkah ia melihat ada seorang Nenek tua yang sedang kesusahan karena apel-apelnya terjatuh. Karena merasa iba, ia membantu Nenek itu dengan hati-hati.

“Terima kasih Cu, karena sudah membantu Nenek. Kamu baik sekali Cu. Oh ya Cu, Cucu kesini mau ngapain?” tanya Nenek tua itu.

“Anu, Nek saya mau mengambil bunga harapan untuk ayah saya yang sakit keras. Saya harap ayah saya segera sembuh dari penyakitnya,” ungkap Vira.

Nenek terharu melihat usaha Vira untuk ayahnya agar bisa sembuh.

“Nenek terharu, Cu melihat usahamu itu. Karena itu, nenek mau kasih kamu beberapa apel buat perbekalan kamu.”

Vira diberi empat buah apel karena sudah membantu nenek itu. Ia meletakkannya di dalam tas untuk perbekalan.

Setelah kembali berjalan ternyata Nenek tadi adalah kurcaci kecil yang menyamar untuk membuktikan bahwa ia layak atau tidak untuk mendapatkan bunga itu. Saat kembali berjalan ternyata hari sudah gelap, ia mendirikan sebuah tenda kecil untuk tempatnya tidur. Ia juga membakar sedikit daging untuk makan malamnya. Ia melihat ada dua ekor kelinci yang kedinginan. Ia mengajak kelinci-kelinci itu agar meneduh dan juga makan bersama. Ternyata, kelinci itu adalah ibu dan anak. Tiba-tiba masuklah dua peri kecil yang ingin berteduh. Ia kaget sekaligus senang karena baru pertama kali melihat peri seumur hidupnya. Ia memberi makan kelinci dan juga peri-peri itu. Setelah makan ternyata, Peri dan juga kelinci itu bisa berbicara.

“Hai manusia, terima kasih ya sudah memberi makan kami, kami senang sekali,” ujar Peri itu.

“Iya! kami juga sangat senang!” tambah Kelinci.

Peri memberi Vira sebuah peluit dan kelinci memberi Vira jaket

“Wah terima kasih ya!” kata Vira.

Vira mulai mengantuk dan mulai tertidur, peri dan kelinci juga terlelap di sana.

Pagi sudah tiba, saatnya untuk pergi lagi untuk mendapat bunga itu. Tapi, sebelum itu ia merapikan tenda dan berpamitan dengan kelinci dan peri-peri itu. Saat di jalan ia melihat sebuah naga yang sedang tertidur.

“Aduh…aku harus pelan-pelan nih, agar gak bangunin naga itu!” Vira berjalan perlahan-lahan melewati naga itu. Tiba-tiba…

“Huaaah!! siapa yang berani membangunkan raja naga ini?” tanya Naga.

Naga itu melihat ke arah Vira.

“Kau, kau yang membangunkan ku? beraninya kau!” tambah Naga lagi.

“Ma-maafkan aku tak sengaja membangunkanmu,” ujar Vira terbata-bata.

Vira menunduk. Saat ia menunduk ia melihat kaki sang naga terluka. Ia mendekati kaki naga dan membuka tasnya.

“A…apa yang kau lakukan!” tanya Naga.

Vira mengeluarkan obat-obatan dan juga perban. Ia mulai mengobati kaki naga yang terluka. Ia mulai memerban kaki naga yang terluka hingga sembuh.

“Nah kan jadi gak sakit lagi!” ucap Vira.

Naga tersenyum dan melihat ke arah Vira.

“Terima kasih wahai manusia. Karena kau telah membantuku, aku akan memberimu sebuah hadiah.” Naga berbalik dan mengambil sebuah tongkat ajaib untuknya. “Ambillah wahai manusia!” Vira mengambilnya dan kembali berjalan.

Ia berjalan melalui goa dan melihat makhluk yang sudah siap untuk menyerang. Vira memakai jaket yang diberi oleh kelinci dan mulai meniupkan peluit dari peri. Ternyata mereka tak bisa melihat Vira karena ia memakai jaket tembus pandang. Selain itu mereka takut akan kebisingan. Mereka mulai menjauh dari Vira. Saat vira berjalan ia melihat ada seekor kucing bersayap. Tetapi, sayap kucing itu sedang terluka akibat diserang oleh makhluk-makhluk itu. Vira membawa kucing itu dipelukannya dan membawa pergi kucing itu dari goa yang menyeramkan itu. Setelah keluar, Vira mengobati sayap kucing itu.

“Waah, terima kasih manusia, kau telah membantuku. Sebagai hadiah aku akan memberimu sesuatu!” ujar Kucing itu.

Kucing pergi terbang sangat cepat hingga bulu-bulu sayapnya beterbangan. Ia turun kembali dan menumpulkan bulu-bulu sebagai hadiah.

“Ambillah!” perintah kucing.

Vira mengambil bulu-bulu itu dan menyimpannya. Ia berterima kasih dan pamit untuk pergi.

Setelah berjalan sangat lama, akhirnya ia menemukan gerbang yang di balik gerbang itu terdapat bunga harapan. Saat ingin masuk, Vira dihadang oleh sekumpulan kurcaci. Ia menjauh karena takut disakiti oleh kurcaci-kurcaci itu. Tiba-tiba, kurcaci-kurcaci itu membuka jalan.

“Silakan masuk. Kami sudah melihat usahamu sepanjang jalan. Tapi, keluarkan dulu barang-barang yang kamu dapat selama perjalanan!” pinta kurcaci-kurcaci.

Vira mengeluarkan barang-barang yang ia dapatkan selama perjalanan. Apel, jaket, peluit, tongkat, dan bulu. Kurcaci mengambil tongkat dan mengayunkannya sambil membaca mantra. Tiba-tiba, semua barang tadi termasuk tongkatnya bersatu dan menjadi sebuah kunci ajaib. Kurcaci kecil itu menyuruhnya untuk memasukkan kunci ke dalam lubang kunci pintu tersebut. Terbukalah pintu itu dan ia melihat sebuah bunga harapan yang sangat indah. Bunga itu berwarna biru muda dan bercahaya. Ia sangat bergembira. Ia memetik bunga itu dan keluar dari tempat itu. Kurcaci mengunci gerbang itu dan mengubah kunci itu menjadi barang-barang lain. Kurcaci meminta satu barang dari Vira untuk dijadikan kunci. Selanjutnya ia mengeluarkan ketapel. Ketapel itu adalah mainan kesayangannya tapi baginya itu tak apa. Vira berbalik dan ingin pulang. Sebelum pulang ia menoleh dan berkata pada kurcaci itu.

“Eummm…. sebelum aku pulang bolehkan aku meminta sesuatu kepada kalian?”  “Apa itu?” tanya Kurcaci.

“Bolehkah jika dunia kita bersatu? Aku ingin orang-orang merasakan adanya keajaiban juga!” pinta Vira.

Para kurcaci berdiskusi.

“Boleh, kenapa tidak?”

Akhirnya Vira pulang ke rumah dan bergegas ke kamar ayahnya dan membuat permohonan.

“Aku ingin ayah ku sembuh dan sehat, bunga Ajaib.”

Saat dilihat, ayahnya tiba-tiba bisa bergerak dan menjadi sehat lagi. Ia terharu karena usahanya tidak sia-sia. Ia keluar dan memanggil para kurcaci dan makhluk-makhluk ajaib lainnya untuk menampakkan dirinya. Tak lama keluarlah semua makhluk itu. Akhirnya dunia ajaib dan desa itu pun hidup berdampingan. (BP)*

 

Tulisan ini merupakan karya peserta Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N Tahun 2025 Tingkat Kecamatan Koba. 

Exit mobile version