Pentingnya Karakter “Melu Handarbeni” bagi Peserta Didik

 

Oleh Rudiyanto, S.Pd.,Gr

Guru Pendidikan Agama Islam SDN 9 Airgegas, Bangka Selatan

Dewasa kini, perkembangan arus globalisasi dan pertumbuhan Teknologi, Informasi dan Komunikasi (TIK) turut mempengaruhi jiwa dan karakter peserta didik. Para peserta didik cenderung apatis (acuh tak acuh, tidak peduli, masa bodoh) terhadap lingkungan sekitarnya. Contoh nyata yang sering kita jumpai dalam satuan pendidikan misalnya ketika peserta didik acuh tak acuh dengan lingkungan kelasnya yang kotor, membuang sampah sembarangan, tidak peduli dengan temannya yang sedang membutuhkan bantuan dan pertolongan, masa bodoh melihat WC sekolah yang kotor dan lain sebagainya. Sikap apatis ini akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan serta kesuksesan anak. Oleh karena itu, satuan pendidikan perlu membiasakan diri dengan budaya positif yang dapat menanamkan dan meningkatkan rasa kepedulian peserta didik terhadap lingkungan sekitarnya. Salah satu budaya positif yang dapat diimplementasikan adalah budaya yang sesuai dengan prinsip-prinsip Jawa “Melu Handarbeni”.

Pentingnya memiliki karakter “Melu Handarbeni” bagi sebuah bangsa yang maju telah disampaikan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti pada saat pidato upacara bendera Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI) ke-80, minggu 17 Agustus 2025 lalu.

Karakter “Melu Handarbeni” merupakan karakter merasa ikut memiliki yang teramat mendalam akan sesuatu. Dengan demikian, seseorang yang memiliki karakter “Melu Handarbeni” akan senantiasa memiliki sikap tanggung jawab, menjaga, merawat dan melestarikan sesuatu, disiplin, sabar, syukur dan lain sebagainya.

Dalam dunia pendidikan, para peserta didik pada satuan pendidikan diharapkan memiliki sikap yang sesuai dengan prinsip “Melu Handarbeni” ini. Menurut hemat penulis, beberapa manfaat memiliki karakter “Melu Handarbeni” bagi karakter peserta didik antara lain adalah sebagai berikut:

1. Menanamkan Karakter Kepedulian

Karakter “Melu Handarbeni” yang telah tertanam dalam diri peserta didik, akan memberikan dampak yang positif. Peserta didik akan lebih peka dan peduli terhadap lingkungan sekitarnya.Dalam satuan pendidikan misalnya, peserta didik yang memiliki jiwa “Melu Handarbeni” tidak akan membiarkan sampah berserakan dikelasnya. Ia memiliki panggilan jiwa dan inisiatif untuk segera membersihkan sampah tersebut dan membuangnya ke tempat sampah

2. Menanamkan Karakter Tanggung Jawab

Peserta didik yang memiliki karakter “Melu Handarbeni” akan memiliki sikap tanggung jawab dalam dirinya. Jika ia diberikan sebuah amanah, maka peserta didik tersebut akan melakukannya dengan penuh tanggung jawab. Salah satu contoh dalam satuan pendidikan, peserta didik yang memiliki jiwa “Melu Handarbeni” akan senantiasa melaksanakan piket kelas dengan penuh tanggung jawab. Ia datang pagi-pagi dan membersihkan lingkungan kelasnya dengan optimal

3. Menanamkan Karakter untuk Menjaga, Merawat dan Melestarikan

Karakter “Melu Handarbeni” yang telah tertanam dalam jiwa peserta didik akan mendorong peserta didik menjadi insan-insan yang pandai menjaga, merawat dan melestarikan. Dengan demikian ia akan menjaga, merawat dan melestarikan fasilitas atau sarana dan prasarana satuan pendidikan dengan baik

4. Menanamkan Karakter Sabar dan Syukur

Peserta didik yang memikiki karakter “”Melu Handarbeni” akan memiliki karakter sabar dan syukur. Ia tidak memaksakan egonya untuk selalu di kedepankan. Ia akan lebih mengedepankan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi

5. Menanamkan Karakter Kedisiplinan

Karakter “Melu Handarbeni” yang telah tertanam dalam diri peserta didik akan mempengaruhi tingkat disiplin dalam diri peserta didik. Dengan demikian, peserta didik tersebut akan menjadi generasi yang cerdas dan berkarakter serta memiliki integritas yang tinggi.

Pada akhirnya, implementasi budaya satuan pendidikan yang sesuai dengan prinsip-prinsip dan karakter “Melu Handarbeni” akan memberikan dampak baik bagi peserta didik, satuan pendidikan, keluarga dan lingkungan sekitarnya. Dampak bagi peserta didik, keluarga dan lingkungan sekitar adalah akan lahir generasi penerus bangsa yang cerdas dan berkarakter. Bagi satuan pendidikan, selain akan memiliki lulusan yang cerdas dan berkarakter, juga akan meningkatkan mutu satuan pendidikan. Karakter “Melu Handarbeni” cenderung mulai memudar seiring dengan perubahan dan perkembangan zaman. Dengan demikian, sebagai pendidik yang profesional hendaknya kita semua dapat menciptakan dan mengimplementasikan budaya satuan pendidikan yang positif yang sesuai dengan nilai-nilai jati luhur bangsa Indonesia. Sehingga cita-cita bangsa Indonesia untuk melahirkan generasi emas demi menyongsong Indonesia emas tahun 2045 dapat tercapai dengan optimal.

 

 

Exit mobile version