Perempuan Indonesia, Zamrud Khatulistiwa

Oleh: Novita Sari Yahya

(Peneliti dan Penulis)

 

Ketika saya mengagumi kecantikan dan keanggunan perempuan Indonesia, yang terlintas dalam pemikiran saya adalah keindahan Nusantara. Indonesia, negara kepulauan terbesar di dunia, terdiri dari 17.380 pulau berdasarkan verifikasi dan penelaahan oleh Badan Informasi Geospasial (BIG) bersama kementerian dan lembaga terkait.

Jumlah ini termasuk pulau-pulau yang memiliki nama dan koordinat. Deretan pulau yang membentang dari Sabang di Aceh hingga Merauke di Papua, digambarkan seperti Zamrud Khatulistiwa.

Indonesia merupakan gambaran hijaunya hutan tropis terluas di dunia. Berdasarkan data terkini 2024 dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), luas hutan tropis Indonesia sekitar 95,5 juta hektare. Indonesia memiliki 1.340 suku bangsa dengan kebudayaan yang sangat beragam di Nusantara.

Zamrud yang bercahaya karena hijaunya hutan tropis Indonesia. Keanekaragaman flora dan fauna yang terdapat dalam ekosistem hutan tropis Indonesia merupakan keindahan alam yang tidak bisa ditemui di negara mana pun, hanya ada di Indonesia.

Ketika saya membayangkan kecantikan perempuan Indonesia seperti zamrud. Zamrud adalah batu permata yang berwarna hijau seperti lumut. Keindahan permata zamrud mengandung makna bahwa perempuan Indonesia berharga karena merupakan perpaduan kecantikan alam Indonesia yang hijau dan kecantikan yang mewakili 1.340 suku yang terdapat di Indonesia.

Sejarah Nusantara mencatat pahlawan wanita yang merupakan ratu dari kerajaan Nusantara, antara lain:

– Ratu Kalinyamat (Jepara): Memimpin perlawanan terhadap Portugis di abad ke-16.

– Tribhuwana Wijayatunggadewi (Majapahit): Ratu yang memperluas kerajaan pada abad ke-14.

– Ratu Shima (Kalingga): Terkenal dengan keadilan dan kejujurannya di abad ke-7.

– Sultanah Safiatuddin Syah (Aceh): Penguasa yang memajukan budaya dan diplomasi di abad ke-17.

– Ratu Nahrasiyah (Samudera Pasai): Ratu Muslim pertama di Asia Tenggara, menjaga kerajaan dari ancaman.

 

Ketika kita membaca sejarah perjuangan dan perlawanan ratu Nusantara, maka kita akan menemukan jiwa berani, tangguh, rela berkorban, kesabaran, dan semangat perjuangan. Perjuangan perempuan Indonesia zaman kolonialisme yang dilakukan oleh pahlawan nasional seperti Cut Nyak Dhien, Cut Nyak Meutia, Martha Christina Tiahahu, Nyi Ageng Serang, R.A. Kartini, Dewi Sartika, dan Maria Walanda Maramis.

Beberapa pahlawan perempuan nasional yang berkontribusi untuk pemberdayaan perempuan dan pendidikan di Indonesia antara lain: Raden Adjeng Kartini, Dewi Sartika, Maria Walanda Maramis, Rasuna Said, dan Rohana Kudus. Perjuangan kemerdekaan yang didasari dengan kecerdasan dan pengetahuan.

Hari ini, ketika kecantikan dan keanggunan perempuan Indonesia hanya dilambangkan dengan perempuan yang memakai mahkota dan berjalan berlenggak-lenggok di atas panggung pemilihan beauty pageant, maka ada kekhawatiran yang menyelinap dalam ruang kewarasan etis dan logis. Ketika kecerdasan dan semangat rela berkorban, berani, dan setia pada perjuangan direduksi dengan penampilan seremoni di atas panggung, ada kegelisahan yang memasuki relung hati dan pemikiran.

Sejarah Nusantara adalah sejarah kejayaan kerajaan Nusantara dan kebudayaan. Perempuan dilambangkan dengan ibu yang merawat tanah dan kebudayaan. Ibu yang melindungi tanah dan keluarganya ketika ada ancaman. Ketika kecantikan dan keanggunan perempuan ditampilkan dengan balutan gaun modern di panggung beauty pageant, terasa ada yang hilang tentang sejarah kebudayaan Indonesia yang terkenal dengan julukan “1000 candi”.

Kenapa kita jarang melihat pakaian tradisional Indonesia menjadi gaun di setiap event pemilihan beauty pageant nasional atau pun internasional? Kalau pun ditampilkan, hanya pada saat sesi pertunjukan kebudayaan, bukan pada keseluruhan penampilan finalis dalam sehari-hari ketika karantina.

Ketika saya merasa menjadi perempuan Indonesia seutuhnya, maka saya mencoba melestarikan budaya Indonesia dengan cara berpakaian dan penampilan sehari-hari seperti batik dan kebaya.

Kekayaan budaya Indonesia merupakan kekayaan wisata yang tidak akan pernah habis jika kita melestarikan kebudayaan dalam kehidupan sehari-hari. Perempuan sebagai ibu merupakan garda terdepan yang akan menjaga kebudayaan Nusantara.

Sumber daya alam ketika dieksploitasi terus-menerus, maka satu saat akan habis dan bahkan menimbulkan kerusakan lingkungan jika tidak dikelola dengan baik.

Tapi kebudayaan adalah sumber kekayaan yang akan terus menjadi kebanggaan dan sumber devisa pariwisata jika kita menjaga pelestarian kebudayaan Nusantara

 

Penulis puisi Perempuan Indonesia Zamrud Khatulistiwa. (BP/ KM)*

Exit mobile version