Opini  

Perpisahan yang Menggugat Jiwa – Benarkah Hatimu Sudah Berubah?

Oleh: Yanto,M,Pd ( Guru, Motivator & Da’wah Indonesia)

Bekaespedia.com,- Bayangkan Ramadhan seperti sahabat setia yang datang membawa angin segar rahmat, membersihkan dosa-dosa kita seperti hujan deras yang menyapu debu jalanan Jakarta yang panas. Hari ke-29 ini, saat kita tak tahu apakah besok adalah hari terakhir atau masih ada satu malam lagi, perpisahan sudah mengintip di ufuk. Bukan perpisahan biasa, tapi yang menguji kejujuran hati kita. Allah SWT perintahkan dalam QS. Al-Baqarah: 185, “Walitukmilul ‘iddah walitukabbirullaha ‘alaa maa hadaakum wa la‘allakum tasykurun” – sempurnakanlah bilangannya dan agungkan Allah atas petunjuk-Nya, agar kita bersyukur.

Opini saya: Ramadhan bukan sekadar bulan puasa, tapi laboratorium jiwa. Di sini, kita muhasabah diri. Keluar Ramadhan lebih bersih atau justru lebih lelah karena ibadah formalitas? Al-Qur’an sudah jadi sahabat karib yang dibaca setiap malam, atau kembali berdebu di rak setelah Lebaran? Malam-malam terakhir kita hidupkan dengan tahajud penuh khusyuk, atau sekadar menunggu opor ayam dan ketupat? Para salafush shalih menangis bukan karena rindu bertemu lagi, tapi khawatir amal mereka tak diterima. Itulah kejujuran sejati!

Hari ke-29 ini seperti cermin: jika Ramadhan benar-benar mengubahmu, perubahan itu takkan pudar. Bayangkan, puasa taqwa yang kita jalani sebulan ini harus bertahan di bulan Syawal. Jangan sampai shalat lima waktu kembali molor, sedekah jadi langka, dan lidah kembali kotor gosip. Saya yakin, Ramadhan menguji kita bukan untuk dirayakan kepergiannya dengan pesta, tapi ditangisi karena kita sadar betapa rapuhnya hati manusia. Seperti pantun lama: “Ramadhan datang bagai tamu mulia, bawa rahmat hapus dosa sekalian. Jangan pergi tinggalkan warisan sia, biar hati tetap suci selamanya.”

Kejujuran hati adalah kunci. Jika amal kita diterima, Ramadhan akan rindu kembali padamu tahun depan. Semoga kita keluar Ramadhan diampuni, amalnya diterima, dan jiwa kita abadi dalam taqwa. Mari, di hari ini, perbarui niat: Ramadhan bukan akhir, tapi awal perubahan panjang!

Exit mobile version