Petualangan di Hutan

Print

Karya: Valen Savela (SD Negeri 7 Namang)

 

Pada suatu hari nenek mengajak aku dan teman-temanku pergi ke kebun.Temanku bernama Aris, Afika, Afila, dan Ravin. Nenek dan kakak Rindi menggunakan motor sedangkan kami, berjalan kaki. Aku dan teman-teman sedang asyik bercerita, kami tidak menyadari bahwa nenek sudah meninggalkan kami. Aku dan teman-teman mengejar motor nenek tetapi nenek dan kakak Rindi terlalu cepat. Kami harus bagaimana, dengan tangan kosong yang tidak membawa makanan satu pun. Kami sudah berlari jauh sekali dan sangat lapar. Kami tersesat di hutan. Kami akan mencari jalan keluar. Saat kami berjalan, kami melihat jalan tiga arah lalu, kami berdiskusi harus memilih jalan yang mana. Akhirnya kami memilih jalan ke kanan. Saat kami berjalan kami melihat seorang paman yang sedang memegang gergaji dan kayu-kayu. Ketika paman tersebut hendak memotong kayu, kayu-kayunya bergelinding dari atas dan hampir menimpa Afila, “aaa tidak!” teriak afila . Lalu Aris mendorong Afila dari kayu-kayu yang akan menimpa Afila. “Huuh syukurlah kamu selamat!’’ kata Aris.

Lalu kami melanjuti perjalanan dan tiba-tiba melihat seekor kera. kera itu mengajak aku dan teman-teman ke sungai yang sangat bersih, jernih dan dingin. Kami meminum air sungai tersebut. Aku dan teman-teman beristirahat di tepi sungai sambil menikmati angin yang sangat kencang. Tiba-tiba aku merindukan keluargaku lalu kami berterima kasih kepada kera dan pamit pulang. Saat kami akan pulang kami melihat buah rambutan dan memakannya lalu kami melanjuti perjalanan dan tak lupa membawa sisa rambutan yang kami makan. Di saat kami berjalan tiba-tiba langit mendung dan hujan deras pun datang. Baju kami basah dan kami berteduh di bawah pohon. Ketika petir menyambar, pohon tumbang dan kami berlari. Kami selamat tetapi satu temanku bernama Ravin tertimpa batang pohon, “Tolong!” teriak Ravin. Kami menolong Ravin dengan cara yang tak biasa. Aku mengambil batu dan meletakan batunya di bawah batang pohon lalu menarik kaki Ravin, “tariiik!” dan kaki Ravin pun selamat, “terima kasih teman-teman,” ucap Ravin. Saat kami berjalan, hujan tiba-tiba reda dan kami memakan buah rambutan yang kami bawa. Lalu kami berjalan mengelilingi hutan. Tak lama kemudian kami beristirahat karena lelah. Setelah beristirahat kami berjalan lagi dan menemui jalan dua arah. Kami berdiskusi harus memilih jalan yang mana. Akhirnya kami memilih jalan ke kanan. Saat berjalan kami melihat sebuah rumah ternyata itu rumah seorang kakek. Kakek mengundang kami dan memberi makanan yaitu biskuit dan air teh. “Biskuit dan tehnya enak sekali!” kata Ravin. Setelah kami makan biskuit dan teh kami bercerita apa saja kepada kakek. Setelah kami bercerita, aku dan teman-teman akan pulang tetapi kami tidak mengetahui jalan keluarnya lagi. Lalu kakek menunjukan jalan keluarnya. Kami berterima kasih kepada kakek dan pulang. Saat di perjalanan kami melihat anjing dan anjing itu mengejar kami. Aku melempar anjing itu dengan batu-batu kecil yang sangat banyak tetapi, tidak berhasil. Kami tidak ada aktivitas lain lagi. Kami memutuskan untuk berlari saja dan tak lama kemudian anjing itu tidak lagi mengejar lagi. Kami melanjutkan perjalanan lagi dan dalam waktu yang singkat kami sudah menemui jalan keluarnya. Setelah keluar dari hutan matahari terbenam dan menandakan hari sudah hampir malam. Kami bersyukur di berikan jalan keluar kepada tuhan. Saat ingin pulang ke rumah masing-masing ibu langsung memarahiku karena rasa khawatirnya. Itulah usaha kami, jika bekerja sama pasti ada jalan keluarnya. (BP)*

 

Tulisan ini merupakan karya peserta Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) Tahun 2025 Tingkat Kecamatan Namang. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *