Petualangan Rio Mencari Istana Embun

Oleh: Meilanto

 

Rio adalah seorang anak laki-laki berusia delapan tahun yang sangat mencintai pagi hari. Baginya, pagi hari adalah waktu yang ajaib. Setiap kali ia membuka jendela kamar, daun-daun di kebun ibunya selalu dihiasi dengan butiran kristal bening yang berkilau terkena sinar matahari.

“Ibu, lihat! Ada berlian jatuh dari langit!” seru Rio suatu pagi.

Ibu tersenyum sambil mengaduk teh hangat. “Itu namanya embun, Rio. Bukan berlian.”

Rio mendekati tanaman mawar. Ia mencoba menyentuh butiran bening itu dengan ujung jarinya. Dingin dan segar. Namun, keajaiban itu tidak bertahan lama. Saat jam dinding menunjukkan pukul sembilan pagi dan matahari mulai terasa hangat di kulit, butiran-butiran itu menghilang. Daun mawar itu kembali kering, seolah-olah berlian-berlian tadi tidak pernah ada di sana.

“Ibu, ke mana embun-embun itu pergi? Apakah mereka diculik oleh matahari?” tanya Rio dengan wajah cemas.

Ibu tertawa kecil. “Mengapa tidak kamu tanyakan langsung pada mereka besok pagi?”

Keesokan harinya, Rio bangun lebih awal. Bahkan sebelum ayam jantan di kandang Pak RT berkokok. Ia memakai jaket tebal dan membawa sebuah kaca pembesar. Ia bertekad menjadi detektif embun.

Di bawah pohon mangga, Rio menemukan “tersangkanya”. Ada jutaan butiran embun yang sedang beristirahat di atas rumput. Rio berjongkok, mengarahkan kaca pembesarnya ke sebuah tetesan yang paling besar.

“Sstt… halo, Embun,” bisik Rio. “Boleh aku tahu ke mana kalian pergi setiap siang? Apakah kalian takut pada matahari?”

Tiba-tiba, Rio merasa seolah-olah ia mendengar suara gemericik halus, seperti suara harpa kecil yang ditiup angin. Meski embun tidak bisa bicara, imajinasi Rio mulai bekerja. Ia membayangkan embun itu bercerita.
Rio mengamati dengan saksama saat matahari mulai merayap naik. Lewat kaca pembesarnya, ia melihat sesuatu yang luar biasa. Butiran embun itu tidak hilang begitu saja. Perlahan-lahan, ukurannya mengecil. Mereka tampak seperti sedang “berasap” tipis, lalu terbang melayang ke udara.

“Oh! Jadi kalian berubah menjadi udara?” gumam Rio takjub.

Ibu yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Rio menjelaskan dengan lembut. “Itu namanya penguapan, Rio. Embun itu seperti musafir kecil. Mereka tidak hilang, mereka hanya berganti wujud.”

“Tapi ke mana mereka pergi setelah terbang?”

Ibu menunjuk ke langit biru yang mulai dihiasi awan putih seperti kapas. “Mereka berkumpul di sana. Menjadi awan yang sejuk. Nanti, kalau mereka sudah rindu pada bumi dan teman-teman mereka sudah cukup banyak, mereka akan turun lagi sebagai hujan.”

Rio terperangah. Jadi, embun yang ia lihat pagi ini mungkin saja adalah tetesan hujan yang turun minggu lalu, atau mungkin air dari sungai yang terbang ke atas lalu kembali lagi untuk menyapa daun mawar ibunya.

Rio kini mengerti. Embun tidak pergi karena takut. Mereka pergi karena memiliki tugas lain. Mereka naik ke langit untuk memayungi bumi dari panas matahari yang terik, lalu turun kembali untuk memberi minum tanaman yang haus.

“Berarti mereka tidak diculik ya, Bu?” tanya Rio meyakinkan diri.

“Tentu tidak. Mereka sedang berpetualang,” jawab Ibu.

Sejak hari itu, Rio tidak lagi sedih saat melihat embun menghilang di siang hari. Setiap kali ia melihat awan putih berarak di langit, ia akan melambaikan tangan dan berteriak pelan,

“Sampai jumpa besok pagi, teman-teman kecil! Jangan lupa turun lagi ya!”

Rio belajar bahwa di alam semesta ini, tidak ada yang benar-benar hilang. Semuanya hanya berubah bentuk, bergerak dalam sebuah lingkaran keajaiban yang disebut kehidupan. Dan baginya, rahasia ke mana embun pergi adalah petualangan paling hebat yang pernah ia temukan di halaman rumahnya sendiri. (BP / KM)*

Exit mobile version