Rembulan Kesiangan
Karya: Mamuk SMPA
Ketika pesanan tanpa pesan
Dan Rembulan kesiangan sehabis semalaman mengetuk-ngetuk pintu langit
Dengan Tadrus Dzikir “Nderes” Serta Sholawatan
Maka bertemulah sang kekasih yang saling merindu
Dua insan penebar cahaya
Penyebar semangat
Penyalur keberkahan juga kebermanfaatan ruar biasah namun sering disepelekan kerna terbiasa
Ada dengan sendirinya
Rembulan dan Matahari hanya bertemu sesekali
Itupun hanya sesaat hanya dalam ruang waktu yang sangat sempit
Akan tetapi sangat berkualitas pertemuan itu
Menumpahkan segala rindu
Menyandandarkan resah dan gelisah
Menyadarkan kebuntuan-kebuntuan jaman
Saijah dan Adinda bertemu sejenak berpadu kasih
“Sa resmi”
Antara gelap dan terang sesaat
Meski tubuhnya semakin susut “mengelipsis” Dan akhirnya menghilang dari pandangan mata manusia mahkluk
Tuk saling berkejaran lagi memenuhi panggilan kewajiban
Bak ombak di lautan biru
Birunya lautan teduh
Yaa, Samudera Indonesia samudera minangkalbu
Kapanewon Bantul, 07.03.2026 05.15
Nelayan Kecil
Riak lautan teduh itu
Bak sirip-sirip ikan bentrong
Biru, siluet ungu putih perak berkilauan ditimpa cahaya remang dini hari
Serta tiupan lembut anging mamiri di tanjung hasibuan
Nelayan kecil itu menyanyikan lagu kerinduan
Stambul “Keroncong Purnama Siddhi”
Mendendangkannya sambil menerawang jauh ke garis horizon cakrawala
Sementara lama-kelamaan kelopak matanya “kembeng-kembeng” Butiran-butiran mutiara-mutiara indahnya kerinduan
Rindunya kepada “ibu bumi_bapa akasa”
Kerna setelah sekian lama menuntut ilmu
Merantau di negeri Nipah_Panjang melaut bersama para nelayan kuala Enok
Mengerti pengetahuan menimba ilmu darinya
Sebagai bekal perjalanan
Perjalanan kehidupan
Hingga pulang ke kampung halamannya yang sejati
Jogja, 16032026 07.14.
Rinai Pagi
Sirip-sirip ikan riak “Embung Tambakbaya” Itu
Lembut sekali menerpa mata memandang
Kerna tiupan lembut sang bayu penuh kasih, begitu lah selayaknya kita memberikan “ular-ular” Kepada yang butuh
L. A. 16032026 07.23.
