Oleh:Meilanto
“Bagaimana adik-adik, sudah siap menuju Tanjung Pura?” tanya kakak Pembina kepada adik-adik penegak. “Siap sudah kakak!” jawab adik-adik penegak. Dengan menaiki bus, anggota pramuka akan melakukan perjalanan ke Pulau Nangka. Semua peralatan sudah disusun rapi.
“Sebelum melakukan perjalanan, mari kita berdoa, semoga kegiatan kita dalam lindungan Nya, berdoa mulai!” Kak Rudi memimpin doa.
Libur semester genap diisi dengan kegiatan kemah bakti dan wisata ke pulau Nangka. Sebuah pulau yang termasuk dalam gugusan Pulau Nangka dan sekitarnya. Kegiatan kemah bakti sebagai bentuk ujian kenaikan tingkat bagi pramuka penegak yang Kak Rudi bina. Tujuan ke Pulau Nangka, untuk mengenalkan potensi dan belajar secara langsung di tengah masyarakat.
Tanpa terasa perjalanan sudah dua jam. Rombongan yang terdiri dari 20 peserta didik, 2 pembina pendamping, 5 alumni akan berbaur bersama masyarakat. Izin berkemah sudah diurus, begitu juga dengan transportasi motor laut yang akan digunakan untuk menyeberang. Kemah bakti selama tiga hari, Perjusami sambil berwisata.
“Alhamdulilah kita sudah tiba di Kampung Tanjung Pura, ayo adik-adik kita turun!”ajak Kak Toni, “Jangan lupa perlengkapan, ya. Jangan ada yang tertinggal!” ingat kak Toni. Semua sibuk menurunkan perlengkapan yang akan dibawa. Anggota pramuka berbaris memanjang menuju dermaga. Beberapa orang naik ke motor laut dan menyusun perlengkapan. Air laut terlihat tenang. Di kejauhan terbentang Pulau Nangka yang akan menjadi tujuan kemah bakti dan wisata kali ini. Di sebelah utaranya terdapat pulau kecil yang diberi nama Pulau Tikus, Pulau Pegadung dan Pulau Pelepas dengan mercusur peninggalan Belanda yang masih berdiri kokoh.
10 menit perjalanan mengarungi lautan yang tenang, membawa motor laut yang ditumpangi kak Rudi dan peserta didiknya hingga menginjakkan kaki di Pulau Nangka.
“Selamat datang Kak Rudi dan rombongan di Pulau Nangka!” sapa Pak Sulaiman. Beliau selaku ketua RT yang sudah ditemui Kak Rudi beberapa waktu yang lalu. Setelah turun dari motor laut, rombongan berjalan beriringan sambil membawa perlengkapan menuju halaman sekolah. Di halaman itu, kak Rudi dan rombongan akan mendirikan tenda.
“Bagaimana perjalanannya, Kak?” tanya Pak Sulaiman.
“Alhamdulilah aman, adik-adik tidak ada yang mabuk laut. Kalau ada yang mabuk laut, kita cebur ke laut!” canda Kak Rudi yang diiringi tawa peserta didiknya.
Anggota pramuka dengan cekatan membangun tenda. Semua melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab sesuai dengan Tri Satya dan Dasa Darma gerakan pramuka.
Menjelang magrib, rombongan menuju masjid yang tidak jauh dari tempat berkemah. Sebagian di tenda sebagai petugas korve dan menyiapkan makan malam.
“Adik-adik, sesuai jadwal, malam ini kita ramah tamah dengan warga!” ingat Kak Rudi. Malam itu menjadi malam berkesan bagi anggota pramuka. Mereka disambut ramah penduduk setempat.
Sabtu pagi, kegiatan kemah bakti dengan membuat beberapa papan nama tempat dan penunjuk jalan. Peserta didik berbagi tugas. Ada yang membuat papan nama masjid, kuburan, pantai, petunjuk jalan, membersihkan masjid, memperbaiki dinding sumur dengan bahan yang sudah disiapkan oleh warga. Semua bekerja dengan semangat membara dengan dibantu beberapa warga. Di tempat berkemah, ada warga yang mengantarkan rebus ubi dan nasi aruk dan goreng ikan asin yang akan disantap siang nanti.
Papan nama Pantai Perigi Kapal sudah dipasang. Papan itu dicat dengan warna yang menarik. Pantai Perigi Kapal, pantai yang berhadapan langsung dengan Pulau Sumatera. Di kejauhan terlihat hijau daratan Pulau Sumatera. Lautnya yang biru, tenang menambah eksotis pantai berpasir putih dan lembut mirip tepung sagu itu. Di pantai ini terdapat perigi yang bagian dindingnya sudah diperbaiki oleh anggota pramuka. Dua toilet juga dibersihkan. Tim ini dipandu oleh Pak Sulaiman.
“Adik-adik, di pantai ini adik-adik akan melihat sunset. Oleh karena ini ada baiknya seluruh tim, menjelang magrib bisa ke sini untuk melihat sunset. Dijamin tidak akan rugi. Adik-adik bisa mengabadikannya dengan ponsel!” ujar Pak Sulaiman. Anggota pramuka bertepuk tangan tanda gembira.
Sementara itu di tempat lain, anggota pramuka dibantu warga sudah selesai membuat papan nama masjid, kuburan, petunjuk jalan dan aktifitas lainnya. Semua kembali ke perkemahan.
“Tim yang ke pantai kok belum kembali, ya?” tanya kak Toni. Kak Toni mencoba menelepon Kak Rudi. Nomor Kak Rudi tidak aktif. Akses sinyal di Pulau Nangka masih terbatas. Hanya tempat tertentu yang terdapat sinyal.
Riuh rendah tim yang dipimpin Kak Rudi terlihat menuju perkemahan. Semua tampak gembira. “Kak Rudi kok lama, ya di pantainya!” tanya kak Toni.
“Ih sumpah, pantainya keren pakai banget. Nanti habis zuhur tim Kak Toni boleh ke pantai itu.”
“Siap” jawab kak Toni dan timnya.
Siang itu rombongan makan nasi aruk. Nasi aruk terbuat dari singkong. Proses dari singkong menjadi beras dan nasi aruk membutuhkan waktu yang lama. Mulai dari proses mengupas, perendaman, penjemuran, sangrai sampai menjadi beras aruk. Beras aruk salah satu oleh-oleh yang wajib dibawa pulang oleh pengunjung yang datang ke Pulau Nangka selain oleh-oleh lain seperti kue berbahan rumput laut, sirup rumput laut, dodol, ikan asin, ikan basah, udang, kempelang, rusip yang sudah dikemas yang dibimbing oleh dinas terkait.
Turun hari, anggota pramuka langsung bergerak lagi. Mereka tanpa mengenal lelah. Petugas korve ganti ship dengan berkegiatan lain. Tim yang dipandu Kak Toni menuju pantai Perigi Kapal. Tim yang dipandu Kak Rudi menuju Makam Keramat Syeikh Ja’far Siddiq,tim yang dipandu kak Sudi ke tempat pembuatan beras aruk dan kempelang serta tim yang dipandu kak Meli ke berkunjung ke bekas pabrik pembuatan garam. Semua tim didampingi oleh warga.
Memori handphone peserta didik hampir penuh dengan foto kegiatan dan tempat-tempat yang menarik. Selain itu mereka juga mencatat hal penting yang akan digunakan untuk laporan kegiatan yang akan dikumpulkan ke kakak pembina.
Menjelang matahari terbenam anggota pramuka bergerak ke Pantai Perigi Kapal untuk melihat sunset. Ternyata benar, sun set dengan warna orange itu menjadi pemandangan yang sangat indah. Ditambah lagi saat bersamaan, melintas motor nelayan pulang melaut.
“Subhanalallah, pemandangan yang indah.” Peserta didik mengagumi ciptaan-Nya.
Minggu pagi, motor laut berlayar ke Pulau Pelepas. Di pulau ini terdapat mercusuar peninggalan Belanda yang dibangun tahun 1893.
“Ayo semuanya kita berfoto di mercusuar ini!” ajak Kak Meli. Setelah ini kapan lagi kita ke sini. Peserta didik mengabadikan keperkasaan mercusuar gagah itu dengan angel yang berbeda. Hari menjelang siang, rombongan kembali ke berlayar dengan membawa sejuta kenangan. Kemah bakti sambil berwisata. Pulau Nangka surga tersembunyi di Selat Bangka. Ayo berwisata ke Bangka. (BP/ KM)*
Cerpen ini telah dibukukan dalam antologi Travel Writing #3 Memori Perjalanan di Indonesia hingga Inggris yang diterbitkan oleh SIP PUBLISHING bersama Duta Baca Indonesia (2021 – 2025) Gol A Gong, Agustus 2024.












