Putra Gonk Gelar Showcase Karya Berbasis Riset Masyarakat Adat Mapor

Jawab Krisis Musik Tradisi Bangka Belitung

Bekaespedia.com, Pangkalpinang, 4 Juli 2026 Putra Gonk menggelar Showcase Karya Putra Gonk di kawasan Pantai Pasir Padi, Pangkalpinang, Sabtu (27/6), dengan pendekatan site-specific yang menjadikan lanskap pantai bagian dari narasi karya, bukan sekadar panggung.

Empat komposisi ditampilkan: Renjana Kala, Relung, Kandung Kelebu, dan Syair Laot lahir dari riset artistik Putra Gonk bersama Masyarakat Adat Mapor di Air Abik. Ia menjadikan laboratorium kesenian di Rumah Adat Gebong Memarong, rumah adat masyarakat Bangka yang menjadi pusat kegiatan sosial dan budaya komunitas, dengan keyakinan bahwa kesenian tak bisa dilepaskan dari ruang hidup masyarakat.

Kandung Kelebu, salah satu karya yang ditampilkan, berangkat dari pengalaman Putra Gonk bersama Masyarakat Adat. Liriknya berangkat dari hasil penelitian dan penulisan ajaran Mapor Dangkel kemudian dirangkai saat ia mengikuti dan mengamati langsung ritual Nambek, ritual adat yang menuntun arwah orang yang telah meninggal menuju jalannya.

“Penguatan Masyarakat Hukum Adat itu bukan cuma soal pengakuan wilayah atau kelembagaan,” ujar Putra Gonk. Baginya, menjaga hidup ekosistem kebudayaan musik, sastra lisan, ritual, pengetahuan ekologis sama pentingnya, dan itu perlu dipraktikkan lewat penciptaan karya, bukan sekadar disimpan sebagai arsip.

Showcase ini juga menyentil ekosistem musik tradisi Bangka Belitung yang masih terbatas: ruang produksi minim, ruang presentasi jarang, jejaring kolaborasi tipis, dan dukungan pengembangan karya nyaris tidak ada padahal di situlah musik tradisi bisa berkembang jadi praktik artistik yang hidup, bukan cuma tampil di acara seremonial.

Salah satu jawaban Putra Gonk atas persoalan ini membawakan narasi Sumateran Collective Composers. Sebagai jejaring komponis muda se-Sumatera yang terbentuk setelah ia mengikuti MTN Labs X Lake Toba Musik Tradisional Musik Festival 5.0 di Sumatera Utara. Lewat wadah ini, ia berharap lahir generasi seniman baru di Bangka Belitung yang menjadikan tradisi sebagai bahan penciptaan, bukan sekadar objek yang dilestarikan.

“Menjaga tradisi itu tidak cukup dengan mengingat masa lalu,” katanya. “Tradisi harus terus diciptakan, dipertunjukkan, dan diwariskan lewat karya-karya baru yang tumbuh dari masyarakatnya sendiri.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *