Putra Mengkanau Penggiat Literasi Zaman Now

Oleh: Meilanto

 

Hori, pemuda kelahiran Namang, 28 tahun yang lalu. Ayah dan ibu merupakan petani penyadap getah karet dan tanaman palawija. Hori, anak bungsu dari tiga bersaudara. Kakak dan ayuknya sudah menikah dan tinggal di rumah sendiri di Kampung Namang. Adapun Hori, setelah lulus kuliah bekerja sebagai Sarjana Penggerak Desa dan menggelorakan literasi di kampungnya.

Mengkanau, suatu kawasan yang berada di sebelah selatan kampung. Pada mulanya, kawasan ini tempat warga bercocok tanam ladang padi huma. Lambat laun, sistem bercocok tanam ladang padi huma mulai ditinggalkan. Lahan-lahan bekas tanaman padi huma ditanami dengan tanaman palawija, karet, pohon penghasil buah dan lada.

Masa kecil Hori dihabiskan di Mengkanau. Kakek dan nenek dari garis ibu juga petani yang bercocok tanam di Mengkanau. Masa kecil sampai kini sudah bekerja, Hori tak lupa akan daerah masa kecil dan kampungnya. Hal itu dibuktikan dengan tertariknya Hori mengikuti Sarjana Penggerak Desa.

Selain sebagai Sarjana Penggerak Desa, Hori juga bergerak dibidang literasi.

Kecintaan Hori terhadap buku sudah terlihat sejak SD. Perpustakaan menjadi tempat favoritnya. Selain memang tidak punya uang jajan karena sudah disiapkan sangu oleh ibu, Hori ingin menambah ilmu pengetahuan dengan memanfaatkan perpustakaan sekolah.

Begitu juga saat SMP dan SMA. Mading sekolah tempat mejeng nama Hori. Cerpen, puisi, pantun dan karya lainnya. Bahkan saat SMA, ia menjadi penanggung jawab majalah dinding Smaneta Semesta, nama mading itu. Lagi dan lagi, semangat Hori untuk terus menambah pengetahuan dengan lebih dekat dengan buku terus menggelora.

Kini ia telah bekerja. Di rumahnya, di ruang tamu keluarga, rak-rak buku berjejer dilengkapi dengan susunan buku.

“Assalamu’alaikum Hori!” sapa Pak Kades dibalik handphone.

“Wa’alaikumussalam, Pak Kades. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Hori.

“Besok, perpustakaanmu akan kedatangan anak-anak TK Melati. Mereka akan mendengarkan Hori membaca dan mendongeng. Ini ada surat masuk dari TK Melati.”

“Siap Pak Kades. Pukul berapa?”

“Saya kirimkan suratnya ke WA kamu ya!”

“Ya Pak Kades, assalamu’alaikum.”

Di kampung, Hori memang dikenal sebagai penggerak literasi. Pengetahuan selama kuliah dan belajar dengan para pegiat literasi lainnya, menjadi bekal bagi Hori untuk bergerak dibidang literasi. Buku-buku yang ia pajang di rak buku, 50 persen adalah buku karyanya. Buku-buku bergenre anak-anak, sejarah dan budaya menjadi minat Hori. Selain itu, ada juga buku antologi yang ia tulis bersama penulis lain. Hori terus mengasah kemampuan menulisnya dengan mengikuti berbagai event menulis. Juara bukan tujuan melainkan untuk terus mengasah kemampuannya itu.

“Assalamu’alaikum adik-adik!”

“Wa’alaikumussalam,” balas anak-anak TK Melati yang datang ke perpustakaan mini milik Hori didampingi oleh guru-guru.

“Hari ini kakak akan membacakan buku untuk adik-adik. Adik-adik duduk yang rapi dan simak, ya, karena kakak akan memberikan kuis diakhir kegiatan!”

Suara anak-anak TK riuh rendah. Apalagi melihat buku-buku yang menarik, ditambah lukisan dan karikatur tentang literasi yang sangat indah. Memang, ruang itu tidak terlalu luas, tapi cukup untuk menampung 20-an anak.

Deretan piagam penghargaan diterima Hori dari berbagai pihak. Piagam-piagam itu dipigura rapi dan menjadi decak kagum bagi siapapun yang datang ke perpustakaan mini milik Hori. Perpustakaan mini “Gudang Ilmu” namanya. Mulai dari Kepala Desa, Camat, Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten, sampai gubernur menambah deretan piagam penghargaan yang diterimanya. Belum lagi piagam penghargaan dari instansi lainnya yang datang berkunjung maupun perlombaan yang diikuti Hori. Semua dipajang bukan untuk pamer tapi sebagai pemacu dan pemicu semangat bagi siapapun yang datang berkunjung.

Program kerja yang disusun Hori bersama teman-temannya disosialisasikan melalui media sosial. Membacakan buku untuk anak-anak, membuat karya, mendongeng, mengadakan perlombaan dari rangka PHBI dan PHBN, mendatangkan pendongeng yang telah malang melintang dalam dunia literasi, menyediakan lapangan pekerjaan bagi generasi muda di kampung dengan membuat batako dan program-program lainnya yang menyentuh masyarakat.

Selain itu, Hori juga aktif menggunakan media sosialnya untuk menggerakkan literasi. Akun Instagram dan facebook, semuanya tentang literasi. Ajakan untuk terus membaca buku dan bijak bermedia sosial.

“Ibu, alhamdulillah Hori mendapat undangan ke balai kantor gubernur untuk menerima penghargaan sebagai pemuda penggerak literasi!” buru-buru Hori menghampiri ibunya yang sedang memasak.

“Alhamdulillah, kapan Ri?”

“Senin depan bu, ini suratnya!” Hori menyodorkan surat itu kepada ibunya. Ibunya terharu membaca surat itu. Ibunya yang hanya mengenyam bangku kelas 3 SD itu menitikkan air mata. Bangga karena putra bungsunya dinilai bermanfaat untuk orang lain.

“Kategori pemuda penggerak literasi dalam rangka Hari Bulan Bahasa Tahun 2023, diberikan kepada Hori, pemuda Mengkanau asal Kampung Namang. Silakan Hori ke atas panggung!” suara pembawa acara membahana. Tepuk tangan meriah menyambut Hori ke atas panggung.

“Selamat Hori, kamu layak menerima penghargaan ini. Terus berkarya ya,”

pesan Pak Gubernur saat memberikan piagam penghargaan, tropi dan uang pembinaan kepada Hori. Senyum mengembang dari bibir Hori sebagai tanda kebanggaan. Hori berfoto bersama penerima penghargaan dari rangka Bulan Bahasa Tahun 2023. Baginya, ini suatu kebanggaan yang luar biasa bahwa apa yang dilakukannya selama ini bermanfaat untuk orang lain.

“Ibu, dulu saat Hori mulai kegiatan ini, mendapat cemoohan dari lingkungan sekitar. Hori masih ingat kalimat-kalimat yang dilontarkan oleh warga. “Ngapain membuka perpustakaan, tidak menghasilkan uang, tidak akan ada orang yang berkunjung, hanya buang-buang waktu saja lebih baik bekerja.”

“Hori, justru sekarang kamu telah membuktikan kepada semua orang. Kamu telah membuat aksi nyata yang ternyata dirasakan manfaatnya untuk orang lain. Ilmunya berkah dan bermanfaat, Nak untuk orang lain. Memang setiap yang kita lakukan selalu melalui ujian. Ujian-ujian itu yang jika kamu mampu dan kuat menghadapinya, kamu akan bertahan. Jika tidak, maka kamu akan mundur dan orang-orang akan menertawakanmu. Nyatanya, kamu kuat dan berhasil, Nak!” nasihat ibunya.

“Iya bu, ini juga tak lepas dari doa dan dukungan ayah dan ibu. Hori bisa bertahan sampai detik ini karena motivasi dari ayah dan ibu. Hori ingat dulu saat Hori kecil membeli buku saja susah. Harus nongkrong di perpustakaan sekolah. Kini, di rumah kita yang sederhana ini, ada banyak buku yang bisa dibaca kapanpun!”

“Kamu hebat, Nak. Namamu besar saat ini karena langkah kecil yang kamu lakukan dulu dan rasa keprihatinanmu terhadap teman-temannya yang tidak bisa sekolah. Mereka buta huruf karena tidak tersedianya sarana membaca. Kini dengan perpustakaan mini ini, program mengajarkan masyarakat membaca, menulis dan berhitung dirasakan manfaatnya untuk orang lain.”

“Terima kasih ayah, ibu telah mendoakan Hori selama ini. Hori ingin mengajak teman-teman untuk meneruskan program yang belum terlaksana yaitu membuka PKBM paket A, B dan C. insyaalloh Hori akan ke ibukota kabupaten, dinas pendidikan untuk mengurus administrasi pendirian PKBM itu. Masalah tempat belajar, nanti Hori bicarakan lagi dengan kepala desa.

“Kamu benar-benar hebat, Nak. Ayah bangga padamu.”

“Yang lebih hebat lagi, teman-teman Hori. Mereka mendukung program yang telah rancang. Oh iya, rencananya, kami akan membuat les menjahit bagi ibu-ibu. Soft skil ini supaya menjadi rangsangan awal ibu-ibu untuk bisa menjahit, ya minimal menjahit pakaian anak atau suami yang sobek, haaaa,” Hori tertawa gembira dan bangga. (BP/ KM)*

 

Catatan : Cerpen ini telah dibukukan dalam antologi Inspirasi Indonesia #8 (Kumpuakn Kisah Inspiratif) bersama Gol A Gong yang diselenggarakan oleh SIP Publishing, Agustus 2024.*

Exit mobile version