Rahasia Jam Sang Penjaga Alam

Oleh: Aisyah (Siswa SDN 4 Pangkalanbaru)

 

Di suatu kota yang mulai kehilangan hijaunya, hiduplah seorang remaja bernama Icha. Ia sering melewati sungai yang dulunya jernih kini keruh dan berbau. Bukit tempat ia bermain waktu dulu kini menjadi bangunan beton. Ia sering bertanya-tanya, “Apakah alam di sini seindah yang diceritakan kakek?”

Suatu sore, ia duduk di tepi sungai. Seorang anak kecil menghampirinya dan berkata, “Kenapa sungainya jelek sekali?” Lanjut anak itu “Aku ingin bermain air, tapi airnya bau!”

Pertanyaan sederhana itu terasa seperti tamparan. Icha hanya bisa diam dan menatap anak itu dengan merasa bersalah meski tak tau kenapa.

Malamnya, saat ia membersihkan gudang rumah, Icha menemukan jam tua milik kakeknya. Bentuknya unik dengan ukiran daun dan burung yang terlihat hampir hidup. Di belakangnya tertulis: untuk yang ingin melihat apa yang telah hilang. Saat ia memutar jarum jam itu tiba-tiba ada cahaya di dalam jam itu. Dari dalam cahaya itu keluar mahluk kecil bercahaya bersayap daun bagaikan peri kecil.

“Hai, aku Yuki sang penjaga alam!” kata mahluk kecil itu.

Icha terkejut lalu berkata, “apakah aku bisa melihat masa lalu?”

“Ihihih, bukan hanya melihat, kau juga akan merasakannya,” kata Yuki.

Dalam sekejap waktu berputar.

Icha kini berada di tempat yang sama. Namun, semua berbeda. Alamnya sangat terjaga. Icha melihat makhluk-makhluk kecil menari-nari di atas air. Rusa dengan tanduk kilauan berjalan di bawah pohon yang rindang. Seorang pria, kakek Icha waktu muda. Berdiri di hadapan mereka dan berkata, “Setiap generasi mempunyai pilihannya sendiri, mau menjaga atau merusak alam!”

Seorang anak kecil mengajak Icha bermain di sungai. Saat Icha melihat sungai, ia kagum tidak bisa berkata- kata.

Sungai yang jernih berkilauan sangat terjaga kebersihannya. Icha dan anak kecil itu bermain bahagia. Tapi, di hati kecil Icha ada bayangan anak kecil tadi yang tak bisa merasakan ini semua. Cahaya kilauan kembali terlihat. Kini Icha kembali ke masa sekarang.

Keesokan harinya, Icha kembali ke sungai itu. Icha melihat anak kecil itu termenung di tepi sungai. Ichapun menghampirinya dan berkata, “Kalau sungai ini bersih,  apakah kau mau bermain di sini?”

Anak itu ragu lalu berkata, “memangnya bisa bersih lagi?”

Icha berkata, “Tentu.”

Anak itu pun perlahan mengangguk. Dan mereka setuju akan membersihkannya. Icha juga mengajak teman-temannya dan warga sekitar. Awalnya tidak mudah banyak yang tidak peduli. Tetapi, Icha tetap berusaha. Icha dan teman lainnya membersihkan sungai dan hutan bersama.

Setelah membersihkannya, semua bahagia melihat semuanya. Anak kecil itu langsung melompat ke sungai. Kilauan cahaya di atas air terlihat seperti makhluk bersinar yang pernah Icha temui.

Tiba-tiba Yuki muncul di samping Icha dan berkata, “harapan itu masih ada!” bisik Yuki.

Icha tertawa bahagia.

Di belakang Icha dan Yuki ada kakek Icha dan berkata, “pasti kamu memutar jarum jam itu kan?” Icha mengangguk sambil tersenyum.

Tapi, tiba-tiba Yuki sudah tak ada di samping Icha. Icha panik dan mencarinya. Ternyata, Yuki bermain air dengan anak kecil. Icha tertawa dan langsung ikut bergabung.

Icha berkata, “senang sekali melihat semua ini!”

Yuki berkata, “Iya dong, ini semua berkat kamu yang telah beride untuk membersihkan semua ini.”

Kakek Icha tersenyum melihat prilaku cucunya. Ia mengingat bahwa teman perinya dulu berkata, “jika suatu saat nanti manusia berubah, tolong hentikan mereka.” (BP/ KM)*

 

Catatan: Cerpen ini merupakan karya peserta FLS3N Tingkat Kecamatan Pangkalanbaru Tahun 2026 Cabang Menulis Cerita. 

Exit mobile version