Opini  

Ramadhan Hampir Pamit: Hati Berubah atau Cuma Baju Baru?

Oleh: Yanto,M,PD ( Guru, Motivator & Da’wah Indonesia)

Bekaespedia.com,- Ramadhan hari ke-28: seperti sahabat setia yang hendak berpisah. Bulan yang kita sambut dengan rindu nan membara, kini menyisakan hembusan napas terakhir. Bukan hitungan hari yang tersisa yang penting, melainkan cermin jiwa:

*sudahkah Ramadhan mengukir taqwa di hati kita?*

Allah SWT berfirman dalam QS. Ali Imran: 102,

**يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ**—

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, dan janganlah kamu mati melainkan sedang dalam keadaan muslim.” Ramadhan adalah kamp pelatihan taqwa: puasa mengikat nafsu, shalat malam membangunkan hati, sedekah membersihkan jiwa. Tapi, jika taqwa ikut pergi saat Lailatul Qadar sirna, sia-sialah perjuangan 28 hari!

Bayangkan: pasar ramai baju baru kinclong, kue lebaran menumpuk, tapi hati kembali kering kerontang seperti pra-Ramadhan. Sibuk persiapan raya, lupa air mata penutup. Padahal, masih ada malam tersisa—malam penuh ampunan! Masih ada doa yang mengalir deras, istighfar yang menumpuk gunung. Rasulullah SAW bersabda (HR. Muslim): “Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan iman dan ihsan, dosanya yang lalu diampuni.” Jangan biarkan kelalaian merampok berkah itu!

Hari ke-28 adalah bisikan lembut Ilahi: *Gunakan sisa waktu sebelum habis!* Ubah hati sekarang—tambah tahajud, panjatkan doa untuk orang tua, anak, umat. Yang paling menyedihkan bukan Ramadhan pergi, tapi hati kembali seperti semula: penuh dusta, lalai shalat, kikir sedekah. Taqwa sejati tak musiman; ia abadi, seperti pohon yang akarnya dalam setelah hujan deras.

Saudara-saudaraku, mari tutup Ramadhan dengan kesungguhan. Berharap Idul Fitri bukan sekadar pesta, tapi lahirnya muslim baru—taqwa, ikhlas, bermanfaat. Ramadhan pamit, tapi jejaknya harus abadi di jiwa. Sudahkah kita siap? Wallahu a’lam bish-shawab.

Exit mobile version