Oleh Rudiyanto, S.Pd.,Gr
Guru Pendidikan Agama Islam SDN 9 Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan
Bekaespedia.com,- Dewasa kini, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) tengah mengkaji adanya kemungkinan implementasi makan bergizi gratis (MBG) melalui dapur sekolah. Proses pelaksanaan MBG yang selama ini melalui dapur umum dinilai kurang efektif. Beberapa kasus yang sering ditemukan pada satuan pendidikan yang telah melaksanakan program MBG ialah makanan telah basi atau berbau, pencucian ompreng yang cenderung kurang higienis, bahan baku yang tidak layak dan terlalu lama disimpan dan lain sebagainya. Hal ini terjadi karena disinyalir dapur umum yang tersedia cenderung kewalahan untuk menyediakan ribuan porsi MBG setiap harinya. Bahkan mulai jam 1 malam atau dini hari mereka sudah mulai memasak demi target MBG. Menurut hemat penulis, proses penyajian MBG ini perlu di evaluasi secara mendalam agar ke depan, pelaksanaan program unggulan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dapat berjalan dengan optimal.
Penulis cenderung setuju dengan apa yang tengah diusulkan oleh Kemendikdasmen agar proses pelaksanaan MBG dilakukan melalui dapur sekolah. Sehingga menurut hemat penulis, hal ini akan lebih efektif dan efisien. Beberapa keunggulan MBG dari dapur sekolah atau school kitchen antara lain adalah sebagai berikut:
1. Lebih efektif
School kitchen atau MBG melalui dapur sekolah menurut hemat penulis lebih efektif untuk dilaksanakan. Pihak sekolah, kantin sekolah, warga masyarakat hingga lintas sektoral dapat bekerjasama dalam proses penyediaan MBG. Warga masyarakat yang berprofesi sebagai petani dapat menjual hasil panennya yang masih segar kepada panitia MBG. Warga sekitar masyarakat yang memiliki kompetensi dalam bidang MBG dapat di rekrut untuk membantu suksesnya program MBG. Ahli gizi dari puskesmas setempat juga dapat dilibatkan untuk menghasilkan makanan yang sehat dan bergizi. Sehingga, ekonomi masyarakat akan bergerak dan tumbuh tidak hanya menguntungkan pihak vendor semata. Implementasi pelaksanaan program MBG melalui dapur sekolah harus tetap diawasi oleh badan gizi nasional (BGN). Pada intinya, sekolah yang telah siap melaksanakan MBG melalui dapur sekolah dapat diprioritaskan sebagai bahan percontohan unruk sekolah-sekolah yang lainnya. Pada intinya, MBG melalui dapur sekolah lebih efisien untuk dilakukan. Sebagai bahan percontohan, kantin sekolah yang selama bertahun-tahun ada di sekolah tersebut mampu untuk menyediakan makanan dan minuman untuk warga sekolah tersebut tanpa hambatan apapun
2. Lebih efisien
Pelaksanaan program MBG yang selama ini berjalan, menurut hemat penulis kurang efisien. Dana triliunan yang disediakan oleh pemerintah untuk program MBG ini cenderung kurang tepat sasaran. Dana tersebut terlalu banyak habis kepada vendor atau makanisme yang terlalu panjang seperti material pembuatan dapur umum, sewa lahan atau tempat dan lain sebagainya. Sehingga untuk menekan pembengkakan anggaran, MBG yang dihadirkan kepada peserta didik cenderung kurang layak. MBG melalui dapur sekolah akan menekan anggaran yang begitu besar demi menghasilkan MBG yang layak dan baik untuk dikonsumsi. Pihak sekolah dapat menyediakan tempat atau dapur MBG. Pihak sekolah dapat menggunakan kantin sekolah yang telah ada alternatif lainnya
3. Mencegah adanya Potensi Penyimpangan
Proses dan mekanisme yang terlalu panjang pada program MBG cenderung berpotensi menimbulkan penyimpangan-penyimpangan. Pihak vendor akan berupaya mendapatkan untung sebesar-besarnya. Misalnya penyimpangan dari proses penyediaan material pembangunan atau renovasi dapur umum, sewa lahan atau tempat, penyediaan bahan baku dan lain sebagainya. Implementasi MBG melalui dapur sekolah akan mencegah potensi penyimpangan atau kecurangan-kecurangan tersebut
4. Meningkatkan Ekonomi Masyarakat dan Menggemakan Makanan Lokal Daerah
Masyarakat yang berprofesi sebagai petani atau pekebun dapat menjual hasil panennya langsung kepada panitia MBG sekolah. Sehingga bahan pokok makanan tersebut masih segar dan harganya tidak membengkak. Masyarakat diberbagai daerah juga dapat menjual makanan khas lokal yang menjadi unggulan di daerahnya












