Oleh: Yudistira (SMP Negeri 6 Sungaiselan)
Pagi di SMP Cakrawala lebih hangat dari biasanya, semua siswa berlarian menuju ke kelas masing-masing. Karena suara bel baru saja berbunyi ketika siswa baru sedang berdiri, menatap papan nama sekolah dengan sedikit gugup.
Namanya Doni, remaja berusia empat belas tahun, yang baru pindah dari Bangka. la mengikuti ayahnya bekerja. Selama di Bangka ia selalu berbicara dengan sopan, lembut, namun cepat. Di Yogyakarta orang-orang selalu berbicara sopan, lembut namun bisa membuat Doni bingung.
Doni sering berbicara khas melayu seperti, “ko”, “kaming”, atau “dek tau” Sebelum ia menuju ke kelas yang akan ia tempati, ia sempat melihat-lihat suasana dan kawasa di sekolahnya yang tampak rapi dan bersih.
“Permisi, Bu. Ko murid baru,” katanya pelan saat memasuki kelas X-3.
Seketika beberapa siswa menatapnya heran. Bu guru Bahasa Indonesia, Bu Ani tersenyum ramah.
“Oh. Murid pindahan ya? Namanya siapa?” tanya Bu Ani masih tersenyum ramah.
“Doni, Bu.” jawab Doni membalas senyuman Bu Ani ramah.
“Baik silakan duduk di samping Adi di pojokan, suruh Bu Ani.
Doni mencari tempat yang di tunjuk. Seketika pandangannya tertuju ke remaja berkulit sawo matang yang sedang menatapnya tersenyum kecil.
“Eh, sini, sini, aku Adi,” kata Adi sambil melambai tangan.
Doni tersenyum. “Oh iya, ko Doni.”
“Ko?, Aku toh?” tanya Adi penasaran.
Doni mengangguk. “Ah, sama aja.”
Dalam hitungan beberapa menit mereka langsung akrab. Di jam istirahat, Adi mengajak Doni ke kantin. Di kantin Adi langsung memperkenalkan jenis makanan Yogyakarta dan juga memperkenalkan teman-temanya.
Adi memperlihatkan makanan yang ia beli tadi kepada Doni. Doni yang tak pernah melihat makanan itu bertanya, “itu apaan?”
“Ini siomay. Kamu belum pernah makan siomay?” tanya Adi balik bertanya.
Doni menggeleng. “Kayak bakso ya?”
“Bakso yang dari daging ayam dan daging sapi itu ya?”
Doni mengangguk cepat. “Di tempat ko banyak makanan berjenis seperti. Kemplang, sate ayam, dan kue kutu.”
Di meja yang dekat dengan Adi dan Doni, mereka menatap Doni dengan heran.
Salah satu dari mereka berbisik pelan. Adi yang mendengar itu menegur dengan lembut. Tetapi bagi Doni ia merasa tidak nyaman dengan cara bicaranya yang berbeda. la membuat nada bicaranya terdengar aneh di telinga orang.
Seperi hari-hari biasanya. Ketika guru Bahasa Inggris sedang mengabsen Doni, ia selalu menjawab “iye, Bu,” beberapa siswa menahan tawa karena mereka menganggap Doni berbicara lucu. Saat Adi sedang bercanda, Doni selalu berbicara. “Dek lucu!” mereka menganggap Doni sedang marah padahal dalam nada bicaranya tidak ada nada kesal.
Suatu hari, Adi bertanya. “Don, kamu bisa mengajari aku belajar sejarah gak?”
Adi tersenyum, mengangguk cepat. “Bisa, tapi ko dek tau banyak nya.”
Adi mengeryit.” Kamu bisa gak sih jangan ngomong bahasa itu terus aku kadang ngak ngerti,” ia tahu nada bicaranya terlihat jengkel. Doni menatapnya dengan kecewa. “Ya udah, ko diam aja.”
Seminggu berlalu sejak kejadian itu, kelas terasa lebih sunyi bagi Doni. la jarang berbicara dengan Adi dan jarang mengangkat tangan. la lebih suka menulis di buku catatan kecil yang ia bawa dari Bangka. Di buku itu ia menulis tentang kehidupanya di Bangka.
Sore harinya, hujan turun di Yogyakarta. Tanpa sengaja Adi melihat buku catatan kecil Doni tertinggal di meja, ia membuka dan membacanya pelan.
“Kadang aku rindu suara ombak yang menyapaku selamat pagi. Kini tak pernah lagi karena aku sudah berada di lingkungan baru, aku hanya ingin kawan-kawanku mendengar ceritaku tanpa tertawa.”
Setelah membaca catatan Doni, Adi menutup buku itu dengan hati berat. Ternyata masalah bicara yang ia anggap sepele itu bisa membuat Doni sedih. Saat Adi di rumah ia langsung mencari video tentang dialek Bangka Belitung, ia mencari bahasa yang ia kadang bingung.
Keesokan harinya, Bu Ani mengumumkan proyek untuk pelajaran Bahasa Indonesia. “Anak-anak kita akan membuat tugas video tentang keberagaman budaya Indonesia, buatlah kelompok dua atau tiga orang!”
Semua siswa berbisik mencari pasangan masing-masing. Adi melihat ke Doni yang sedang duduk berdiam di pojokan, yang sedang menulis di buku catatan kecilnya.
“Doni, kita sekelompok yuk?” ajak Adi tersenyum.
“Nanti ko ngomong salah lagi.” Jawab Doni sedikit ragu.
“Justru itu yang bagus, kita buat dua bahasa yang berbeda. Bangka dan Jawa. Aku ajarın kamu bahasa Jawa, dan kamu ajarin aku bahasa Bangka,” Ucap Adi memberi semangat.
Perlahan-lahan Doni tersenyum, dengan ide cemerlang Adi, “boleh juga.”
Sebelum mereka mempresentasikan video yang akan mereka tampil, mereka latihan terlebih dahulu. Saat mereka sedang latihan tiba-tiba Doni menyebut bahasa Bangka yang langsung dibalas ketawa oleh mereka berdua, sampai-sampai Bu Guru menegur mereka berdua.
Kini sedang menampilkan video mereka masing masing, saat bu guru menampilkan video Adi dan Doni. Semua siswa tercengang melihat video itu dengan berjudul “dua mulut, satu lidah.” Di dalam video tersebut nampaklah pemandangan di Bangka yang direkam oleh Doni saat di Bangka. la berucap,” tidak semua orang bisa, karena yang bisa hanya bersahahat,” video ditutup dengan Adi.
Semua siswa bertepuk tangan, Bu guru menatap mereka berdua dengan tersenyum bangga sambil berkata, “Wah, dalam video kalian ini, sangat bagus.” Lalu mereka pun mendapat nilai paling bagus di kelas.
Doni menunduk malu, di matanya bersinar kebahagiaan di hatinya.
Sebulan kemudian Doni mendapat kabar bahwa ia akan pindah lagi ke Bangka, ia langsung memberitahukan Adi, Adi terdiam lama.
“Jadi kamu akan pindah?” tanya Adi lirih.
“Iya tapi ko dek lupa bahasa Jawa yang audah kamu ajarin.” Jawab Doni terpaksa tersenyum.
“Haha, aku juga ga lupa bahasa Bangka,” ucapnya tersenyum lega.
Sebelum Doni pindah ia sempat berpamitan kepada guru dan teman-teman sekelasnya.
Adi mengambil barang di dalam tasnya dan mengeluarkan gantungan kunci yang berbentuk sepeda Yogyakarta, ia memberinya kepada Doni. “Supaya kamu inget Yogyakarta!” Ucapnya tersenyum.
Doni mengambil dengan senang, ia juga mengambil gantungan kunci yang bertulisan kota seribu senyuman dari dalam tas, lalu ia memberi kepada Adi. “Supaya kamu inget Bangka.”
Adi mengambil gantungan kunci itu dengan senang hati.
Sebulan Doni di Bangka, ia selalu memberi kabar lewat HP, begitu juga dengan Adi. Mereka sering bertukar pesan setiap hari. Kadang-kadang Doni mengirim foto pemandangan di Bangka. Bertuliskan pesan, “Pemandangan di sini bagus ya?”
“lya bagus, di sini juga bagus loh,” balas Adi juga memperlihatkan foto pemandangan, mereka tidak pernah bertelepon karena lebih nyaman bertukar pesan walau dengan dua berbahasa yang berbeda, mereka tetap memahami satu sama lain. Sahabat tidak lahir dari kesamaan, melainkan lahir dari dua bahasa yang berbeda, namun saling memahami bahasa masing-masing. (BP/ KM)*
Cerpen ini merupakan karya peserta Lomba Menulis Cerpen dalam rangka memperingati Bulan Bahasa yang diselenggarakan oleh MGMP Bahasa Indonesia, Bangka Tengah di Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, 23 Oktober 2025.
