Sahabat Terbaik

Sahabat Terbaik

Oleh: Nazila Agustina (Pelajar SMPN 5 Payung)

Pagi hari yang cerah. Matahari mulai menampak kan cahayanya untuk menerangi bumi.

Kami berempat Dira, Nana, Rina, dan Cici bergegas menuju SDN 4 Payung. Kami berempat sudah berteman sejak masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak sampai sekarang.

Rina merupakan anak yang pendiam dan cerdas. Dia sering kali mendapatkan juara kelas setiap semesternya. Sementara Cici adalah kebalikan dari Rina. Dia seorang anak yang selalu ceria dan suka bermain. Sedangkan Dira adalah anak yang suka usil kepada teman-temannya dan Nana hampir sama dengan Rina, ia anaknya cerdas dan penurut.

Meskipun demikian, kami berempat memiliki perbedaan. Namun, memiliki kesamaan dalam minat di sekolahnya yaitu senang mengikuti kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler pramuka dan kami berempat sering menjelajahi alam. Saat ini kami sudah memasuki kelas 6 Sekolah Dasar dan sebentar lagi akan ujian akhir dan lulus Sekolah Dasar. Kemudian akan di pisahkan oleh masa depan dan memilih jalan masing-masing.

Kebersamaan kami tidak hanya terbatas di sekolah saja. Tetapi, kami juga berteman di luar sekolah karena kami tinggal masih satu desa.

Suatu pagi, kami berempat pun berangkat jalan kaki ke sekolah bersama-sama.

Sepanjang jalan dihiasi canda tawa yang membuat tak terasa perjalanan menuju sekolah. Sesampainya di sekolah kami masih berbincang-bincang sejenak di depan kelas sambil menunggu bel masuk berbunyi.

”Hei, nanti kalian lanjut sekolah di mana?” ucap Rina sambil nada pelan. ”Entahlah aku juga bingung mau sekolah di mana? Kayaknya aku cuma lanjut masuk SMP di kampung saja karena orang tua ku tidak punya biaya kalau sekolah jauh,” ucap Nana.
Sepertinya kami juga sama deh SMP di kampung saja,” Ucap Rina dan Cici.

”Iya nih, aku juga sama maunya SMP bareng kalian. Tetapi, ibuku menyuruhku untuk masuk ke pesantren, rasanya aku gak mau deh!” ucap Dira sambil menunjukan raut muka yang takut berpisah dengan temannya.

”Cieeee…, cieee ada yang mau jadi ustazah nih, hehehe.” Ucap Rina, Cici, dan Nana dengan serempak.

“Ting…,Ting…,Ting,” bel masuk pertama pun berbunyi dan kami bergegas ke kelas dan kami mengikuti pelajaran seperti biasa sampai selesai. Tak terasa jam pelajaran terakhir pun tiba dan kami bersiap-siap untuk pulang. 10 menit sebelum pulang Pak Bramantio sebagai wali kelas kami meminta izin kepada Bu Fathonah yang sedang mengajar untuk mengasih arahan.
“Anak-anak nanti mau lanjut sekolah ke mana setelah lulus dari sini, soalnya mau Bapak data yang melanjutkan dan yang tidak?” dengan nada lantangnya.

Semua peserta didik pun menjawab “Belum tau Pak.”

”Baiklah anak-anak, tapi saran Bapak kalian tentukanlah mulai dari sekarang dan diskusikan bersama orang tua kalian di rumah untuk menentukan pilihan demi masa depan mengingat ujian sebentar lagi apalagi mau memasuki bulan puasa”. Intinya di mana pun kalian sekolah niatkan untuk belajar dan menimba ilmu dengan baik. “Karena, di manapun kita berbuat baik maka hasil yang kita dapat akan menjadi baik juga,” ucap Pak Bramantio.

Kami pun menjawab secara serempak, ”baik Pak!” bahkan bukan hanya kata baik ada juga yang bilang siaaaap Pak.

Tidak lama kemudian bunyi bel pulang pun tiba, semua peserta didik bersiap untuk pulang dan berdoa terlebih dahulu. Akhirnya kami semua yang ada di kelas pun bergegas pulang. Namun, Sebelum pulang kami berempat melanjutkan obrolan pagi tadi setelah Pak Bramantio dan teman lain keluar kelas.

”Dira, kamu gak mau ya masuk ke pesantren?” Ucap Rina.

”Kayaknya nggak deh Rin, aku tidak mau berpisah sekolah dengan kalian…,Namun, itu belum pasti kalau orang tua ku tetap menyuruh ke pesantren mau bagaimana lagi aku harus ikut perintah orang tua. Karena, saran orang tua itu yang terbaik.

”Oh gitu yah, baiklah” Jawab Rina. “Tetapi, nanti kalau kita sudah lulus sekolah jangan lupain aku ya, Cici, Nana, Rina.” Kata Dira.

Nana pun menjawab, ”Oke Dira, siaaapppp deh pokoknya kami tidak bakal lupain kalian bertiga ko.”
Janji ya!…, Ucap Dira sambil cemberut.
Akhirnya sebelum pulang kami berempat pun berjanji kalau nanti sudah lulus dan berpisah pada saat libur akan melaksanakan reunion atau silaturahmi.
Kami sepakat mengucapkan janji secara bersama-sama:
“Ayo berjanjilah kalau persahabatan kita tidak akan di ganti kan oleh orang lain, berjanji lah kita hanya di pisahkan oleh masa depan kita masing-masing,”ucap mereka serantak dengan tertawa riang sambil menunjukan wajah bahagianya.
“Teman-teman karena kita sudah berjanji ayo kita pulang,” Ucap Dira.

Akhirnya Dira, Nana, Rina dan Cici pulang jalan kaki. Diperjalanan kami pun berhenti sejenak di toko untuk membeli makanan dan minuman. Cuaca tampak gelap dan sinar mataharipun mulai menghilang tertutup awan. Dalam hitungan detik rintik-rintik hujan pun turun membasahi jalan.

”Aduhhh gimana nih, udah hujan” ucap Rina sambil ketakutan.

“Aduhh iya juga ya, bagimana cara nya kita mau pulang? kalau hujan nya aja lebat kaya gini” ujar Cici dengan kebingungan nya.

“Entah lah aku juga bingung,” ucap Dira sambil memikirkan cara nya untuk pulang.

“Bagaimana kalau kita langsung pulang saja sambil bermain hujan,”ucap Nana dengan sangat senang.

“Nggak mau deh aku takut sakit nanti nya dan besok gak bisa masuk sekolah,” jelas Dira.

“Iya benar tuh, gimana sih kamu ini,” ujar Cici.

“Yaudah deh aku minta maaf, kan aku cuma mau ngajak kalian bermain hujan-hujanan, kan sebentar lagi kita gak bisa bareng-bareng lagi karena kita udah pisah dan gak bisa bersama lagi, aku tau kok kalau aku salah, aku minta maaf,” jelas Nana dengan raut wajah sedih nya.

“Gapapa kok Na kami juga ngerti, kalau kita nanti nya udah gak bisa bersama lagi,” ucap Dira.

“Iyaaaa, udah ya Na jangan sedih lagi, kami juga sedih kok kalau nanti nya kita udah gak bisa bersama-sama lagi,” ujar Rina.

“Hmm…Iya deh,” ucap Nana.

“Udah ya jangan sedih lagi kita tunggu saja hujan reda,” ujar Cici. Kami sepakat untuk menunggu hujan reda.

Hujan pun reda…

“Udah jangan sedih lagi yaaa, ayoo kita pulang hujan nya udah reda juga kok,” ucap Dira.

“Ayooo!!!,” ujar Nana, Rina, dan Cici sambil menunjukan muka senang.

Kami pun pulang jalan kaki secara bersama – sama dengan penuh canda tawa sampai ke rumah masing-masing .

Ranggung, 25 Februari 2025. (BP)*

Exit mobile version