Sahabat yang tak Kembali

Oleh: Kanza Kasih Deriel (Siswa SMPN 5 Satu Atap Sungaiselan)

 

Libur sekolah baru saja dimulai. Suasana pagi yang cerah dengan suara kicauan burung-burung beterbangan membuat Lily masih tertidur dengan nyenyak. Jam dinding menunjukkan pukul 06.00 pagi dengan suara alarm yang berbunyi sangat kencang, tetapi ia enggan untuk membuka mata. Hari libur sekolah sangat membosankan bagi Lily, karena ayahnya yang selalu sibuk dengan pekerjaan, jadi ia hanya bisa bermain di rumah.

Hari ini ayah Lily mendapatkan tugas dinas keluar kota yang ada di desa. Ayah Lily memutuskan untuk mengajak Lily sambil liburan sekolah. Lily yang mendengarnya pun sangat senang, akhirnya dia bisa liburan keluar kota. Butuh waktu 4 jam untuk mereka sampai ke desa tersebut dengan menggunakan sepeda motor.

Pukul 10.00 pagi mereka berangkat. 2 jam kemudian saat di tengah-tengah perjalanan, ternyata ada dua tikungan. Saat ayah Lily melihat maps tetapi Google maps hanya menunjukkan satu jalan.

“Ayah bagaimana ini?” Tanya Lily bingung.

“Ayah juga bingung, ayah mau coba lewat jalan kiri.” Jawab ayah Lily dengan bimbang.

Setelah 4 jam perjalanan, mereka tidak sampai-sampai. Tidak ada perdesaan sama sekali untuk bertanya. Tidak lama kemudian, motor mereka mogok.

“Ayah kenapa berhenti?” Tanya Lily heran.

“Sepertinya motornya mogok,” jawab ayah Lily.

Pukul menunjukkan 17.35, mereka masih berdiam di tempat, berharap akan ada orang yang akan menolong mereka. Waktu terus berjalan dan cuaca mulai gelap. Tidak ada sinyal untuk melihat maps dan menghubungi untuk meminta pertolongan. Angin berhembus pelan, dedaunan kering beterbangan bergoyang-goyang di udara. Gerimis hujan mulai turun menimbulkan bunyi tik…tik…tik…di atas dedaunan. Suasana hutan begitu sepi dan sunyi bahkan suara burung pun tidak terdengar lagi. Hanya suara langkah pelan yang terdengar menapak jalan yang basah.

Sekejap kemudian bayangan melintas diantara pepohonan. Lily mulai ketakutan, ingin cepat pergi dari tempat itu. Suara langkah kaki semakin jelas, Lily langsung mendekati ayahnya. la menarik napas, tiba-tiba.

“BRAAKK”

Seseorang menepuk bahunya. Lily menjerit keras, tangannya gemetar, saat menoleh. Ternyata berdiri seorang anak dan ayah yang menggunakan daun pisang sebagai payung.

“Maaf telah mengagetkanmu, hai namaku Siti.” Kata Siti tersenyum.

“Haa…aa..iiiyaa, gapapa.” Jawab Lily terbata-bata.

Ternyata Siti dan ayahnya baru saja pulang dari ziarah ke makan ibunya. Lalu Ayah Siti memberitahu jika tidak jauh dari sini ada perdesaan dan kebetulan Ayah Siti punya bengkal motor untuk diantarkan ke bengkel. Ayah Lily lega, akhirnya ada orang yang bisa menolong mereka. Lalu mereka mendorong motor untuk diantar ke bengkel. Mereka harus melewati sedikit hutan untuk sampai ke desa tersebut. Saat di perjalanan, Lily takjub dengan desa Siti yang masih asri. Di desa itu pemandangan magrib yang sangat indah. Setibanya mereka di ruang Siti, saat Ayah Siti memperbaiki motornya, ternyata motor itu rusak parah dan harus diselesaikan dalam waktu yang lama. Karena pukul menunjukkan angka 18.15, lalu Ayah Situ memutuskan menyuruh mereka untuk menginap terlebih dahulu.

Kemudian Siti membuatkan minuman hangat untuk mereka.

“Wahh teh hangat, aku suka itu!” Kata Lily girang.

“Kau suka? Aku juga suka teh panas,” kata Siti tersenyum tipis.

Lalu Siti dan ayahnya meminum teh panas itu sampai habis dalam beberapa tegukan. Lily dan ayahnya tercengang, karena teh yang mereka minum masih panas.

“Ayo minumlah!” Seru Siti.

Lily hanya terdiam sambil meniupkan teh agar segera dingin.

Kemudian Siti mengajak Lily untuk ke kamarnya. Lily merasa kamar Siti sangat seram dan banyak debu yang tidak dibersihkan. Awalnya Lily malu untuk berbicara, tetapi Siti selalu mengajaknya untuk bercerita. Saat mereka saling bercerita, ternyata Lily dan Siti sama-sama sudah kehilangan ibunya sejak mereka masih kecil. Tetapi walaupun Siti sudah ditinggalkan oleh almarhum ibunya dia seorang anak yang mandiri. Berbeda dengan Lily yang selalu bergantung dengan ayahnya.

Tiba-tiba terdengar suara dari perut Lily.

“Kau lapar?” Tanya Siti sambil tertawa pelan saat mendengar suara dari perut Lily.

“He iya, tadi pagi aku hanya sarapan.” Jawab Lily.

“Kalau begitu ayo kita masak!” Ajak Siti.

“Tetapi aku tidak bisa.” Jawab Lily sedih.

“Biar aku ajarkan, ayo!” Ajak Siti kembali.

Lalu Siti mengambil sayuran yang ada di belakang rumahnya. Saat Lily sedang ke dapur, ia tidak melihat kompor gas di sana. Ternyata Siti memasak menggunakan tungku api. Saat mereka sedang menghidupkan kayu bakar, ternyata kayu bakarnya kurang. Lalu Lily mengambil kayu bakar yang ada di belakang rumah Siti. Suasana belakang rumah Siti sangat sepi dan sunyi. Tiba-tiba Lily merinding. Saat ia melihat ke arah pepohonan, Lily melihat putih-putih. la ketakutan dan langsung memanggil Siti.

“Si..siti itu apa?” Tanya Lily ketakutan.

“Ohhh itu daun pisang, Lily.” Jawab Siti tersenyum.

Akhirnya mereka lanjut memasak. Ternyata Siti sangat pandai memasak.

“Wahh masakanmu enak Siti!” Kata Lily bangga.

Siti hanya tersenyum tipis. Setelah makan, mereka ke kamar untuk tidur. Sebelum tidur mereka bercerita dan saling membagi pengalaman.

“Siti apa kamu punya pengalaman horor?” Tanya Lily penasaran.

“Hmm horor ya, sepertinya tidak, aku hanya punya pengalaman tragis, aku dan ayahku tertabrak truk saat mau ziarah ke makan ibuku, tepat di jalan motor kalian mogok,” kata Siti tersenyum lebar.

Lily terdiam sejenak.

“Ahaha, bercandamu tidak lucu Siti, aku mau tidur deh.” Kata Lily sambil ketakutan.

Keesokan harinya. Siti mengajak Lily untuk mandi ke sumur yang jauh dari rumahnya. Lily yang hanya terbiasa mandi dengan menghidupkan air keran, sekarang dia tahu begitu susahnya mereka yang tinggal di desa. Saat di perjalanan menuju sumur, Lily melihat warga desa yang sangat ramah, mereka semua tersenyum melihat Lily. Tetapi Lily merasa aneh, semua warga desa menggunakan baju hitam dan orang-orang yang selalu memperhatikannya tanpa henti.

Sesampainya di air sumur ternyata sumur itu kering.

“Jadi bagaimana Siti?” Tanya Lily bingung.

Lalu Siti mengajak Lily ke Air terjun yang tidak jauh dari sana. Sesampainya di Air terjun, Lily kagum dengan keindahannya.

“Wah ayo kita berenang, Siti!” Ajak Lily girang.

Suara gemercik air di antara bebatuan dengan udara yang sangat sejuk. Lily dan Siti bermain sambil tertawa.

“Siti sebentar lagi aku akan pulang, aku senang bisa bertemu dan bermain denganmu!” Seru Lily.

“lya Lily aku juga.” Kata Siti tersenyum bahagia.

Pukul 08.00 pagi sinar matahari sangat terik. Lily dan Siti bermain bersama dengan sangat bahagia. Saat Lily memperhatikan Siti, dia baru sadar jika Siti tidak ada bayangan. Lily langsung terdiam.

“Lily ada apa? Ayo kita bermain siram-siraman air!” Ajak Siti Bahagia.

“Ahaha ayo siapa takut.” Jawab Lily penuh semangat.

Satu jam kemudian, mereka telah menghabiskan waktu untuk bersama dan bermain. Akhirnya mereka pulang. Saat di perjalanan pulang.

“Siti aku senang bisa mengenalmu, jika ayahku ada dinas di daerah sini lagi, aku akan meminta ayahku untuk ke rumahmu.” Ujar Lily senang.

“Iya Lily jangan lupakan aku yah, aku juga senang bisa punya sahabat sepertimu.” Kata Siti.

“Janji ya kita akan bertemu lagi!” Kata Lily sambil mengangkat jari kelingkingnya.

“Maaf Lily aku tidak bisa berjanji, aku hanya bisa melihatmu dari jauh walaupun kita tidak bisa bertemu lagi.” Jawab Siti.

Lily terdiam, ia tidak mengerti apa yang dimaksud Siti. Sesampainya di rumah Siti, ternyata motor mereka telah bisa dikendarai. Kemudian Lily berpamitan kepada Siti.

“Sampai jumpa lagi Siti, kamu sahabat terbaikku, kamu anak yang mandiri, dan juga pandai, Siti!” Kata Lily terharu.

“Iya Lily sampai jumpa.” Kata Siti sedih.

Kemudian Lily dan ayahnya pulang ke rumah. Ternyata dinas ayahnya telah diundur 1 minggu lagi. Lily senang, akhirnya dia bisa bertemu dengan sahabat dari luar daerahnya.

Satu minggu kemudian. Lily dan ayahnya berangkat lebih awal yaitu pukul 07.00 pagi. Agar kejadian seperti sebelumnya tidak terulang kembali, mereka menyiapkan alat dan barang yang akan dibutuhkan. Ternyata jalan yang benar menuju desa yang ditugaskan oleh ayah Lily adalah jalan kanan, tetapi Lily meminta ayahnya untuk berbelok ke arah kiri terlebih dahulu. Ayahnya menyetujui permintaan Lily. Tidak lama kemudian mereka sampai di tempat di mana mereka mogok. Lalu mereka ke desa tempat Siti yang tidak jauh dari sana. Sesampainya di tempat desa itu, betapa terkejutnya mereka melihat semua desa itu tidak ada rumah satu pun, melainkan pemakaman. Lily dan ayahnya kaget, mereka saling bertatapan membeku dengan penuh tanda tanya.

Siapakah Siti dan ayahnya itu sebenarnya? (BP/ KM)*

 

Cerpen ini merupakan karya peserta Lomba Menulis Cerpen dalam rangka memperingati Bulan Bahasa yang diselenggarakan oleh MGMP Bahasa Indonesia, Bangka Tengah di Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, 23 Oktober 2025. 

Exit mobile version