Cerpen  

Salah Tembak

Oleh : A. Bachtiar Kurniawan

Bekaespedia.com,- Mungkin aku adalah salah seorang yang cukup beruntung dalam pendidikan dan karier. Sejak duduk di bangku SD sampai perguruan tinggi, prestasiku di bidang akademik terbilang cemerlang. Pujian dan sanjungan datang dari orang-orang disekelilingku. Jujur saja aku kadang malah merasa tak percaya diri. Bagiku itu belebihan, karena kusadari semua yang dapat diukur dengan angka adalah nilai teori belaka. Berbeda dengan pengalaman praktik dalam kehidupan nyata. Saat melihat kehidupan yang sesungguhnya, aku merasa nol besar. Bahkan mungkin minus. Di tambah lagi dengan kepribadianku yang introvert.

Setelah lulus kuliah, atas dorongan kedua orangtua, aku melanjutkan pendidikan akta IV untuk memperoleh setifikat mengajar. Sebenarnya aku tak begitu berminat menjadi guru seperti Ayah. Gaji guru pas-pasan, hidup penuh kesederhanaan, makan apa adanya, jauh dari kategori kaya dan berkecukupan.

Akhir tahun 2006, berbekal ijazah sarjana seni dan Akta IV, aku melamar CPNS di Bangka Selatan. Itulah kali pertama aku meninggalkan pulau Jawa sekaligus berpisah dengan kedua orang tua. Ada informasi dari sepupu yang tinggal di Bangka, ada formasi guru seni untuk jenjang SMA. Dan untuk kesekiankalinya aku bersyukur, karena tes CPNS pertamakali di tahun itu, berhasil dan dinyatakan lulus. Pengumuman kelulusan di muat oleh surat kabar harian lokal Bangka edisi akhir Desember 2005.

Tanggal 1 April tahun 2006 menjadi hari pertamaku menjalani profesi sebagai guru. Saat memperkenalkan diri di ruang guru, rasa canggung dan malu mungkin terlihat jelas oleh semua yang ada di situ. Selain introvert aku memang pemalu, ditambah lagi 85% guru di sekolah itu adalah wanita yang masih muda. “ Selamat pagi bapak dan ibu guru, perkenalkan nama saya Arga Bagaswara, S.Sn, asal dari Yogyakarta, usia 27 tahun. Mohon izin untuk bergabung di sekolah ini” ku buka sesi perkenalan itu dengan agak terbata-bata. Maklumlah, aku tidak pernah bergaul dengan para guru, apalagi mereka berseragam dinas. Aneh sekali rasanya, kaku dan agak tertekan.

“Status…status!?” tanya salah seorang Ibu guru senior tanpa basa-basi dengan nada yang bersemangat dari sisi sebelah kanan tempatku berdiri.

“Saya masih sendiri Bu, belum menikah” jawabku sambil menunduk dan menggaruk kepala bagian belakang untuk menurunkan kadar malu.

‘’Yee……!” suara riuh seisi ruangan hampir bersamaan memenuhi ruangan itu.

‘’Disini banyak pilihan Mas, rata-rata jomblo semua, dak laku-laku!” seloroh seorang bapak guru berumur separuh baya menimpali dan sontak menambah kehebohan.

“Huuuuu………!” tak ayal guru-guru yang belum menikah memprotes pernyataan bapak guru setengah baya itu.

Antara malu dan lega bercampur jadi satu. Ku anggap ini adalah awal yang bagus, aku merasa di terima dengan baik di tempat kerja. Mereka semua ramah.

Hari-hari berlalu, sedikit demi sedikt aku mulai menyesuaikan diri dengan budaya, bahasa, makanan dan pergaulan ala Bangka. Ternyata makanan Bangka unik-unik, enak-enak dan menggunggah selera. Lempah Kuning yang belum lama ku kenal, tanpa syarat bisa jadi makanan favoritku. Orang-orangnya juga mudah bergaul dan sangat blak-blakan. Suka bilang suka, benci bilang benci. Mereka tidak terbiasa berpura-pura dalam bersikap. Kupikir itu bagus. Bahasanya berbeda denganku, tapi aku yakin lambat laun akan bisa memahaminya. Yang masih sulit bagiku adalah saat berbicara dengan bahasa Habang dan menggunakan kecepatan penuh. Aku sering kewalahan dan kadang butuh waktu lama untuk mencerna dan menerjemahkannya.

Selain itu, sebagai lelaki normal, aku mengakui, gadis-gadis bangka berparas rupawan. Kulit mereka cerah dan bersih. Mungkin lebih menyerupai gadis Thailand, Kamboja atau Vietnam.

Untuk mempermudah akses ke tempat kerja, aku tinggal di sebuah rumah kos yang berjarak 2 kilometer dari sekolah. Pemiliknya adalah seorang Ibu muda yang cantik dan sudah cukup lama hidup menjanda. Yuk Rani namanya. Usianya sekitar 34 tahun. Suaminya dulu adalah seorang prajurit TNI yang gugur saat bertugas di Papua.

Selain cantik, Yuk Rani juga sangat baik dan perhatian. Bukan sekedar basa-basi, sering sekali dia memberiku makanan, minuman dan meminjami peralatan yang kubutuhkan. Maklumlah, CPNS bulan pertama dan kedua belum cair gajinya. Aku masih mengandalkan sisa uang yang di beri oleh Ayah saat berangkat merantau.

“Ini lempah kuning Mas, di coba biar betah di Bangka” katanya suatu siang.

‘’Ini Lakso Mas, dicicipi, siapa tahu cocok” kata Yuk Yeti di hari yang lain.

“Ini namanya rusep, rasakan sensasi uniknya, di Jawa gak ada.” ujar Ibu Kos.

Berbagai jenis makanan dia perkenalkan padaku. Dan anehnya, semua cocok bagi lidah Jawaku ini.

Sore itu setelah mandi, di teras kamar kos aku duduk sendiri, melamun sambil memeluk gitar. Sesekali kupetik dawainya sambil menyanyikan lagu-lagu dari Dewa 19, band favoritku.

“Bang Arga….!” suara itu membuyarkan lamunan soreku.

“Eh, eh..yuk, eh dek” Jawabku tergagap karena terkejut melihat sosok gadis cantik berkulit putih dan bertubuh semampai sudah berdiri di sampingku. Rupanya dia sudah lama berada disebelahku. Dia Yunita, anak tunggal dari Ibu Kos. Parasnya mirip sekali dengan ibunya. Rupawan bagaikan artis iklan sabun mandi di tivi-tivi. Walaupun masih duduk di bangku SMP kelas 8, aura kecantikannya bersinar di tambah kedua matanya yang indah berbinar. Sungguh, dia mahluk ciptaan Ilahi yang indah.

“Suara Abang bagus …” suara manja itu keluar dari bibir indah yang ia bisikkan di telinga kiriku.

Dadaku berdesir…kalimat itu membuat tubuh dan perasaanku melayang beberapa saat. Kepala serasa membesar, hidungku mekar. Tapi buru-buru kuberusaha menguasai diri dan dengan susah payah menginjakkan kaki ke bumi lagi. “ Ah, biasa aja dek, cuma iseng-iseng daripada melamun terus, takut kesurupan, hehehe…” kilahku sambil pura-pura tidak terpengaruh pujian manisnya.

“Hi hi hik, Abang lucu,” Yunita tertawa renyah seakan sengaja memamerkan giginya yang putih dan rapi sambil mencubit lengan kiriku. Ah….sangat memesona. Tapi…ups..ingat, dia anak SMP. Masih dibawah umur. Aku berusaha menahan diri dan menjaga perilaku sebagai guru.

Jujur saja selama ini, aku awam dalam percintaan. Belum pernah pacaran dan selalu tertutup dan pilih-pilih teman. Nol besar dalam cinta, bahkan mumgkin minus.

“Kamu suka nyanyi kan?” tanyaku sambil melirik kearah matanya.

“ Emmh…suka, tapi cuma suka denger orang nyanyi aja” jawab Yunita sambil menatap manja padaku.

“Masa sih? Abang sering denger ada yang nyanyi, suaranya bagus, itu kamu kan?” kali ini aku serius bertanya padanya.

“Bukaaann Bang, itu mama yang nyanyi, memang hobinya nyanyi sejak TK” kata Yunita menerangkan padaku, masih dengan gerak gerik khas remaja yang lincah dan menggemaskan.

“Oh…kukira kamu dek, suaranya kayak masih remaja gitu ya” ucapku polos sambil mengernyitkan dahi . Selama ini aku mengira Yunita yang sering menyanyi.

“Mama kan masih muda Bang, belum tua-tua amat kayaknya hihi hihik…” sergah Yunita sambil mengerlingkan matanya. Duh…makin lemas aku. Cantik.

“Mama kamu bagus banget suaranya. Keren!” pujiku.

“Mama Nita gitu loch…, selain pniter nyanyi, pinter masak, pinter dandan dan cantik Bang!” goda Nita sambil menggerak-gerakkan alisnya naik turun.

“Bang…, jalan-jalan yuk…Nita bosan nih..dirumah cuma main HP terus” Yunita mengalihkan pembicaraan.

“Ayo, siapa takut? eh tapi izin dulu sama mama kamu” kataku sambil meletakkan gitar di samping kursi.

“Oke Bang, pasti. Nita anak baik kok, hi hi hik” lagi-lagi Yunita tertawa renyah sambil ngeloyor pergi dan masuk kerumahnya.

Aku pun masuk ke kamar kos untuk bersiap mengantar anak Ibu Kos yang manja itu.

Tak lama berselang datang 2 sosok wanita mendekati pintu kos

“Bang Arga…!” suara manja Yunita memanggilku.

“Ya dek, sudah siap ya? Sudah izin sama mama?” tanyaku sambil mengunci pintu kos.

“Sudah, ini mama” kata Yunita sembari menggandeng tangan Ibu Kos. Mereka berdua nampak selayaknya adik dan kakak, bukan Ibu dan anak. Ibunya masih terlihat sangat muda.

“Jangan lama-lama ya Nit, mama sendirian nih” pesan Ibu Kos yang cantik jelita itu pada anak gadisnya.

”Oke mamaku yang wangi dan cantik bertubi-tubi!” seloroh nita pada ibunya.

“Nita janji cuma mau jalan-jalan saja kok. Paling ke pantai Batu Perahu atau Kelisut, beli cilok…hi hi hik”. ucap Yunita sambil memeluk dan mencium pipi kanan dan kiri Ibunya.

“Yuk, kami berangkat dulu ya” sambil berpamitan ku menuju garasi di samping kiri rumah kos, mengeluarkan motor Honda Supra X kreditan yang baru sekali ku angsur.

Angin sore berdesir menyisir tubuh. Mengantar dua insan berbeda usia dan beda kematangan berpikir.

Obrolan Nita tak jauh dari film kartun, boneka lucu dan gibah remaja tentang dirinya yang sering di ganggu teman-teman cowok di kelas.

“Bang beli cilok yuk” ajak Yunita sambil menarik-narik lenganku setengah merengek.

“Dasar bocil” kataku dalam hati.

Kami pun dengan santai mengobrol dan menikmati suasana pantai ditemani 2 porsi cilok yang dibungkus plastik. Persis seperti anak SD saat jam istirahat.

“Pulang yok Dek, sebentar lagi Maghrib” kataku sambil merogoh kunci motor kreditanku di saku celana bagian kiri.

“Oke Abang guru yang ganteng’’ jawabnya. Mednengar itu, spontan kuacak-acak rambut Nita. Saking gemesnya. Nita pun hanya merengek-rengek sambil memukuli pundakku.

Tak lama berselang, kami melaju menuju pulang.

Sampai di kos, kulihat ada bungkusan plastik yang masih hangat tergantung di gagang pintu kamar kos. Dari aromanya, aku tahu kalau ini lempah kuning kesukaanku.Yuk Rani sang ibu kos menghadiahkan lauk makan malam bagi anak kosnya yang hidup sebatang kara ini.

Malam itu, aroma lempah kuning pemberian Yuk Rani benar-benar menggugah selera. Sambil menikmati kuah kuning yang pedas segar, aku tersadar bahwa perhatian Yuk Rani bukan sekadar basa-basi ibu kos kepada penyewanya. Ada kehangatan rumah yang selama ini kurindukan sejak meninggalkan Jogja.

Hari-hari berikutnya, interaksiku dengan Yunita tetap akrab, namun pandanganku mulai sering teralih pada sosok ibunya yang matang dan tegar. Aku mulai menyadari bahwa kecantikan Yunita yang memesona itu sebenarnya adalah cerminan dari wajah Yuk Rani yang jelita.

Siang itu aku izin pulang lebih awal. Tubuhku lemas, konsentrasi buyar. Entah apa yang salah dengan kodisiku ini.

Mungkin karena aku terlalu sering begadang dan nongkrong di kedai kopi, asam lambungku naik. Ulu hati terasa nyeri disertai keringat dingin dan rasa panas terbakar di tenggorokan.

Sampai di kos kuparkirkan motor Supra X ku. Yuk Rani sibuk mengulik tanaman hias di samping rumah sambil bersenandung merdu.

“Kamu pucat sekali Mas, sakit ya?” tanya ibu kos cantik itu penuh perhatian.

“Iya Yuk, kayaknya asam lambung saya naik, mungkin kebanyakan minum kopi” jawabku sambil berjalan lunglai menuju arah pintu kamar kos.

“Berobat Mas, jangan dibiarkan kalau lambungnya sakit” katanya lagi.

“Saya coba istirahat dulu Yuk, siapa tahu agak mendingan. Kalau masih sakit, nanti sore saya periksa ke dr. Bagus Prawana” jawabku.

Malam setelah periksa ke dokter, aku langsung masuk ke kamar dan menutup pintu. Beberapa menit kemudian ada suara langkah mendekat dan memanggilku dari luar kamar

“ Mas Arga, ini Ayuk bikin bubur”.

“Ya Yuk, “ kujawab sambil membuka pintu perlahan.

Sebuah mangkuk berisi bubur dan sepiring nugget disodorkan padaku.

“Aduhh… bikin repot Ayuk saja” kataku lagi sembari menerima kedua wadah berisi makanan itu.

“ Gak Mas, cuma bubur kok” jawan Yuk Reni dengan suara lembut penuh ketulusan.

Suatu sore, saat aku sedang memetik gitar di teras, bukan Yunita yang datang, melainkan Yuk Rani. Ia membawakan secangkir teh dan sepiring roti papan khas bangka.

“Musikmu selalu menenangkan, Mas Arga. Mengingatkan saya pada almarhum suami,” ucapnya lirih dengan tatapan sayu.

Di kursi itu juga suamiku dulu bersantai sambil memainkan gitarnya” kenangnya.

Matanya menerawang jauh. Aku melihat sisi lain Yuk Rani. Bukan hanya sekadar janda cantik, tapi seorang wanita kuat yang menyimpan rindu mendalam. Obrolan kami mengalir lebih dalam daripada sekadar membahas film kartun atau cilok seperti saat bersama Yunita. Kami bicara tentang masa depan, tentang kesepian, dan tentang harapan. Ternyata, dugaanku selama ini benar. Aku “salah tembak”. Awalnya aku mengira suara merdu yang sering kudengar adalah milik Yunita, padahal itu suara Yuk Rani. Aku sempat mengira pesona Yunita adalah tujuanku, namun ternyata kedewasaan dan ketulusan ibunyalah yang meluluhkan hatiku.

Setahun berselang, status CPNS-ku berakhir dan resmi menjadi PNS. Aku memberanikan diri untuk mengungkapkan sesuatu pada Yuk Rani. Di suatu sore, di tepi pantai Batu Perahu tempat yang dulu sering kukunjungi bersama Yunita untuk beli cilok. Namun, kali ini aku tidak membawa bungkusan plastik cilok, melainkan sebuah “kotak ajaib”. Kotak dari kardus bekas bungkus mouse .

Aku serahkan kotak itu sambil menatap matanya dan berkata “bukalah kotak ini, sebagai wujud keseriusanku” kataku padanya.

Setengah penasaran dan agak gemetar ia membuka kotak itu.

‘’ih,,, kamu kocak banget sih Mas, konyol!” kata Yuk Rani tersipu setelah melihat isi kotak itu.

Sebuah kunci serep motor. Dan memang itu yang kupunya saat ini. Motor Supra X yang baru lunas beberapa hari lalu. Kami pun tertawa penuh cita.

“Yuk Rani, saya mungkin guru yang hanya mengerti teori seni daripada praktik kehidupan,” kataku dengan nada yang tak lagi terbata-bata seperti hari pertama di ruang guru. “Tapi untuk urusan hati, saya ingin mempraktikkan pengabdian seumur hidup untuk Yuk Rani dan Nita.” ucapku tenang dan meyakinkan.

Yuk Rani tersenyum haru, matanya berkaca-kaca. Sementara Yunita yang berdiri tak jauh dari kami, bersorak kegirangan. “Tuh kan Ma, apa Nita bilang! Bang Arga emang cocok jadi Papa baru Nita!”.

Aku dan Yuk Rani terseyum sambil menghampiri dan menjewer telinga Nita kanan dan kiri, diiringi rengekan manjanya.

Aku, si introvert dari Jogja, akhirnya benar-benar menemukan “rumah” di Bangka Selatan. Bukan hanya sekadar berhasil dalam karier sebagai guru, tapi aku sukses memenangkan hati sang janda cantik yang kini resmi menjadi istriku.

Kami dikaruniai 5 orang anak yang lucu dan sehat. Anak tiriku, Yunita, menjadi seorang perawat di RSUD. Ia sudah memberi kami cucu, sementara lima anak kandungku tumbuh dengan energi yang jauh melebihi dosis harian seorang guru seni. Rumah kami tak pernah sepi. Selalu ada konser dadakan yang suaranya lebih mirip tawuran daripada paduan suara. Sebagai pensiunan introvert, aku seringkali hanya bisa memeluk gitar di pojok ruangan sambil meratapi nasib karena selalu kalah voting saat menentukan menu makan malam. Tapi semua ini aku syukuri. Ternyata “‘salah tembak’ adalah prestasi terbaik yang pernah tercatat dalam kurikulum kehidupanku.”

 

Toboali, 4 Maret 2026

* A. Bachtiar Kurniawan

Sang Pengulik Pena

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Exit mobile version