Oleh: Ahmad Hidayah Pratama1, Achmad Surya Darma2, Jenita3, Surindah Kraoudila⁴, Wulandari⁵, Mei Saputri⁶
1,2,3,4,5,6 Program studi Sosiologi, Fakutas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, Universitas Bangka Belitung
Jl. Kampus Terpadu, Balunijuk, Bangka
Fenomena Sandwich Generation menjadi kenyataan sosial yang tak dapat dihindari dalam masyarakat modern, terutama di Indonesia. Individu yang tergolong dalam generasi ini harus menghadapi tekanan berlapis: membesarkan anak-anak sekaligus merawat orang tua yang telah memasuki usia lanjut. Beban ganda ini menjadi tantangan serius dalam menjalani kehidupan, baik secara ekonomi, sosial, maupun psikologis. Seperti dijelaskan oleh Burke (2017), konsep the traditional sandwich generation merujuk pada individu berusia 50–60 tahun yang merawat dua generasi sekaligus. Namun, dalam realitas kontemporer, kategori usia ini mengalami pergeseran. Rentang usia 30 hingga 50 tahun kini juga termasuk dalam kelompok ini, mengingat mereka mulai menanggung kebutuhan orang tua yang menua, sementara pada saat yang sama masih aktif mengasuh anak atau memulai kehidupan berkeluarga.
Tekanan yang dihadapi generasi sandwich semakin berat, terutama bagi kalangan milenial dan generasi Z. Data Indonesia (2023) menunjukkan bahwa 46,3% dari generasi Z di Indonesia telah masuk dalam kategori generasi sandwich. Artinya, hampir separuh dari generasi muda tengah memikul beban finansial untuk menopang keluarga inti dan keluarga besar secara bersamaan. Keadaan ini mengharuskan mereka untuk mengembangkan pola pikir dewasa dan bertanggung jawab secara finansial lebih awal dari seharusnya.
Ketidaksiapan finansial para lansia menjadi salah satu penyebab utama munculnya beban ini. Seperti yang dikemukakan oleh Cahayani et al. (2024) serta Khalil & Santoso (2022), banyak lansia yang mengalami penurunan produktivitas akibat faktor usia dan kondisi kesehatan. Penurunan kemampuan fisik dan fungsi kognitif menyebabkan ketergantungan terhadap bantuan eksternal, terutama dari anak-anak mereka (Syufa’at et al., 2023). Konsekuensi dari kondisi ini tidak hanya dirasakan secara ekonomi, tetapi juga secara emosional. Generasi sandwich kerap mengalami tekanan psikologis berupa stres, kelelahan mental, dan kecemasan karena harus menjalankan peran ganda tanpa dukungan yang memadai. Seperti disampaikan oleh Ardiyanto (2024), tekanan ini membutuhkan perhatian khusus dari berbagai pihak untuk menghindari dampak negatif jangka panjang terhadap kualitas hidup generasi yang bersangkutan.
Fenomena ini mencerminkan perubahan besar dalam struktur keluarga dan peran generasi muda dalam menopang keluarga secara keseluruhan. Harapan akan masa depan yang lebih mandiri dan stabil sering kali tertunda karena tanggung jawab yang berat sudah hadir lebih awal. Tanpa adanya dukungan sistemik seperti jaminan sosial untuk lansia, edukasi keuangan sejak dini, dan kebijakan keluarga yang inklusif, beban ini akan terus bertambah dan menciptakan ketimpangan antar generasi. Generasi sandwich bukan sekadar simbol tanggung jawab, tetapi juga refleksi dari sistem sosial yang menuntut adaptasi cepat dan kesiapan luar biasa dari individu yang berada di dalamnya. Maka, diperlukan langkah konkret dari berbagai pemangku kepentingan untuk meringankan beban ini dan menciptakan kondisi yang lebih berkelanjutan bagi kehidupan keluarga di masa depan.
Landasan Teori
Teori AGIL dari Talcott Parsons menjelaskan bahwa suatu sistem sosial hanya dapat bertahan jika mampu menjalankan empat fungsi penting: adaptasi, pencapaian tujuan, integrasi, dan pemeliharaan pola. Dalam konteks generasi sandwich, teori ini relevan untuk memahami bagaimana individu yang harus merawat anak sekaligus orang tua menjalani tekanan sosial, ekonomi, dan emosional secara bersamaan. Adaptasi terlihat dari upaya mereka menyesuaikan diri dengan beban ganda tanpa dukungan yang cukup. Pencapaian tujuan terganggu karena banyak dari mereka yang harus menunda atau mengorbankan tujuan pribadi demi keluarga. Dari sisi integrasi, konflik peran yang muncul menunjukkan kurangnya sinergi antara kebutuhan individu dan harapan sosial. Sementara itu, fungsi pemeliharaan pola menjadi lemah karena stres dan kelelahan emosional mengganggu keseimbangan mental dan nilai-nilai keluarga. Dengan demikian, fenomena ini menandakan adanya ketidakseimbangan dalam sistem sosial yang menuntut adanya reformasi kebijakan dan dukungan yang lebih menyeluruh.
Metode penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi pustaka sebagai dasar utama dalam pengumpulan dan analisis data. Fokus penelitian diarahkan untuk memahami secara mendalam fenomena generasi sandwich di Indonesia, terutama dalam kaitannya dengan beban ganda yang harus ditanggung oleh individu yang merawat anak sekaligus orang tua lanjut usia. Pendekatan ini dipilih untuk menggali berbagai sumber literatur, termasuk jurnal ilmiah, laporan data statistik, artikel penelitian terdahulu, serta teori-teori sosiologis yang relevan, guna memperoleh pemahaman yang utuh terhadap realitas sosial yang dialami oleh generasi sandwich.
Proses analisis data menggunakan teori struktural fungsionalisme dari Talcott Parsons sebagai alat utama. Teori ini digunakan untuk mempelajari bagaimana fungsi keluarga sebagai institusi sosial diuji oleh tekanan peran ganda yang dihadapi generasi sandwich. Kemudian mengaitkan kondisi empiris yang ditemukan dalam berbagai sumber dengan prinsip-prinsip kestabilan dan ketidakseimbangan sistem sosial, sebagaimana dijelaskan oleh Parsons. Data sekunder dari penelitian terdahulu juga digunakan, termasuk data dari Cahayani et al. (2024), Khalil & Santoso (2022), dan Ardiyanto (2024), yang menjelaskan kondisi psikologis, ekonomi, serta beban emosional yang dialami generasi .
Penggunaan metode studi pustaka memungkinkan untuk menekankan permasalahan generasi sandwich tidak hanya sebagai beban individual, melainkan juga sebagai dampak dari ketimpangan struktural dalam masyarakat. Sehingga, artikel ini bukan hanya menjelaskan kondisi yang ada, tetapi juga memberikan rekomendasi berbasis literatur untuk mendorong solusi kebijakan. Hal ini mencakup perlunya kebijakan jaminan sosial yang lebih inklusif, edukasi keuangan sejak dini, serta perubahan budaya yang mendukung tanggung jawab kolektif dalam perawatan lansia. Dengan metode ini diharapkan dapat memberikan gambaran kondisi objektif sekaligus memberikan analisis kritis terhadap ketidakseimbangan dalam sistem sosial yang memperberat peran generasi sandwich.
Pembahasan
Generasi sandwich adalah kelompok yang merawat anak-anak sekaligus orangtua yang lebih tua, dan mereka kini menghadapi tantangan yang semakin besar dalam konteks sosial dan ekonomi yang sedang berubah. Isu bukan hanya masalah pribadi, tetapi juga mencerminkan adanya ketidakadilan dalam sistem sosial yang lebih lanjut. Teori structural fungsionalisme dari Talcott Parsons memberikan harapan yang penting untuk melihat kesulitan dan beban yang dihadapi generasi sandwich serta dampaknya pada stabilitas sosial. Dalam bukunya The Social System yang diterbitkan pada tahun 1951, Parsons menggarisbawahi pentingnya keseimbangan dan integrasi dalam Masyarakat. Keluarga sebagai unit sosial pertama memiliki fungsi penting antara lain dalam sosialisasi, dukungan emosional dan reproduksi. Generasi sandwich memiliki peran ganda yang rumit dalam keluarga. Mereka bertanggungjawab untuk mengasuh anak-anak sambil juga harus merawat orangtua mereka yang mungkin juga sedang sakit atau membutuhkan bantuan.
Menurut Parsons, jika peran ganda ini tehubung dengan baik dalam system sosial yang mendukung maka fungsi keluarga dapat diperkuat. Namun, kenyataannya seringkali tidak demikian. Tekanan yang dialami oleh generasi sandwich seringkali lebih dari yang biasa mereka tanggung. Minimnya dukungan dan sistem, seperti program jaminan sosial yang tepat dan akses yang mudah terhadap layanan untuk orangtua, menyebabkan ketidakadilan dalam sistem sosial. Seperti penelitian yang pernah dilakukan oleh Diny Apriliana pada tahun 2024 yang membuktikan bahwa generasi sandwich harus mengorbankan kepentingan pribadi mereka, termasuk karir dan kehidupan sosial demi memenuhi tuntutan perawatan dari kedua generasi tersebut, akibatnya mereka seringkali mengalami stress, kelelahan, dan masalah Kesehatan mental yang serius. Hal ini menunjukkan adanya ketidakadilan system menurut Parsons, Dimana komponen-komponen system (individu dan institusi sosial) tidak dapat menjalankan fungsi mereka secara efektif sehingga mengancam stabilitas keseluruhan system.
Parsons juga menjelaskan pentingnya sosialisasi dan pemahanam berbagai norma sosial. Generasi sandwich seringkali terjebak dalam konflik peran, Dimana permintaan untuk merawat anak dan orangtua bertentangan satu sama lain. Mereka harus mencari cara untuk memenuhi kedua kebutuhan tersebut dan seringkali mereka tidak cukup baik dalam memenuhi harapan dari setiap pihak. Ketidakmampuan untuk memenuhi harapan ini menyebabkan stress dan ketidakpuasan. (Daton Ardiyanto, 2024). Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan langkah-langkah struktural yang mendukung generasi sandwich seperti meningkatkan akses terhadap layanan perawatan untuk orangtua yang terjangkau dan berkualitas, mengembangkan program jaminan sosial yang menyeluruh dan kebijakan yang memberikan fleksibilitas dalam pekerjaan (seperti cuti untuk merawat orangtua). Selain itu, harus ada perubahan dalam budaya untuk mendorong tanggungjawab bersama antara anggota keluarga dan masyarakat dalam hal perawatan orangtua.
Jika dilihat dari aspek ekonomi, beban yang ditanggung oleh generasi sandwich sangat berat karena harus membiayai dua generasi sekaligus. Hal ini disebabkan karena kurangnya Tabungan pension dari orangtua dan lemahnya system perlindungan sosial di Indonesia menjadikan peran generasi yang produktif sangat penting dalam mendukung ekonomi keluarga. Selain itu, adanya tantangan pekerjaan yang tidak selalu stabil seperti gaji yang terbatas dan biaya hidup yang terus meningkat. Dampak dari kondisi ini tidak hanya bersifat materi, tetapi juga dapat mempengaruhi kesejahteraan psikologis dan sosial dari orang-orang yang berada dalam posisi ini. Konflik antara peran sebagai anak, orangtua dan pencari nafkah seringkali menimbulkan tekanan yang tidak terlihat tetapi memiliki dampak besar terhadap kualitas hidup.
Akan tetapi hal ini kurang dukugan dan perhatian dari pemerintah dan masyarakat terhadap generasi ini. Belum ada kebijakan komperehensif yang secara langsung memenuhi kebutuhan generasi sandwich, baik itu bantuan finansial, layanan perawatan lansia atau program kesejahteraan keluarga. Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah seperti meningkatkan pemahaman keuangan sejak dini, memperluas jaminan sosial untuk orangtua, serta menciptakan kebijakan keluarga yang lebih inklunsif dan responsif terhadap perubahan sosial saat ini. Generasi sandwich bukan hanya sekedar symbol dari tanggungjawab ganda, tetapi juga menunjukan perlunya reformasi dan dukungan antar sektor agar kehidupan keluarga saat ini dan mendatang dapat lebih seimbang dan berkelanjutan.
Kesimpulan
Fenomena generasi sandwich mencerminkan tekanan ganda yang dialami oleh individu, terutama dari kelompok usia 30–50 tahun, yang harus merawat anak-anak sekaligus orang tua lanjut usia. Tantangan ini semakin kompleks dalam konteks sosial dan ekonomi modern di Indonesia, terlebih karena banyaknya lansia yang tidak memiliki kesiapan finansial. Generasi muda seperti milenial dan generasi Z dipaksa untuk dewasa secara finansial lebih cepat, menyebabkan munculnya stres, kelelahan emosional, dan tekanan mental akibat peran ganda yang harus mereka emban.
Dengan analisis pendekatan teori struktural fungsionalisme Parsons menunjukkan bahwa ketidakseimbangan dalam sistem sosial minimnya dukungan seperti jaminan sosial dan layanan perawatan lansia mengakibatkan fungsi keluarga menjadi terganggu. Generasi sandwich kerap kali harus mengorbankan kehidupan pribadi, karier, dan kesejahteraan demi memenuhi tuntutan peran mereka. Konflik peran yang dihadapi kerap kali menimbulkan ketidakpuasan dan tekanan psikologis yang signifikan, menandakan perlunya reformasi sistemik dalam mendukung stabilitas sosial.
Dengan demikian, artikel ini merekomendasikan kebijakan yang komprehensif dan dukungan lintas sektor untuk membantu meringankan beban generasi sandwich. Upaya ini meliputi edukasi keuangan sejak dini, pengembangan program jaminan sosial yang inklusif, serta perubahan budaya yang menumbuhkan tanggung jawab kolektif dalam perawatan lansia.
Daftar Pustaka
Apriliana, D. (2024). Sandwich Generation: Tantangan Ekonomi Di Antara Dua Generasi.
Muamalat Institute, 1-5.
Ardiyanto, D., Asbari, M., & Ristanto, M. R. (2024). Tantangan dan solusi generasi sandwich: Mengelola tekanan finansial dan emosional. Jurnal Ilmu Sosial, Manajemen, Akuntansi dan Bisnis, 1(02), 31-34.
Burke, R. J. (2017). The sandwich generation: individual, family, organizational and societal challenges and opportunities. The sandwich generation, 3-39.
Cahayani, O. I., Puspitawati, H., & Yuliati, L. N. (2024). Pertukaran barang-jasa, kualitas hubungan keluarga, dan kualitas hidup keluarga sandwich. Jurnal Ilmu Keluarga dan Konsumen, 17(1), 1-13.
Khalil, R. A., & Santoso, M. B. (2022). Generasi sandwich: Konflik peran dalam mencapai keberfungsian sosial. Share: Social Work Journal, 12(1), 77-87.
Moleong, L. J. (2017). Metodologi penelitian kualitatif/Lexy J. Moleong.
Ramadhani, A. (2024). Tantangan Pola Asuh Terhadap Anak Dalam Keluarga Sandwich Generation (Studi Kasus di Kelurahan Limau Manis Selatan Kecamatan Pauh Kota Padang (Doctoral dissertation, Universitas Andalas).
Sugiyono, S. (2019). Metodologi Penelitian Kualitatif Kuantitatif Dan R&D. Bandung: Cv. Alfabeta.
Syufa’at, S. A., Zaidi, S. M. S., & Mutholaah, M. (2023). Sandwich generation in contemporary Indonesia: Determining responsibility in caring for elderly under Islamic law and positive law. Al-Manahij: Jurnal Kajian Hukum Islam, 167-18












