Secercah Cahaya di Sungai Lap Menduk

Oleh : Viola Zulfany (Siswa SDN 5 Mendobarat)

 

Pada siang hari di sebuah hutan yang sangat lebat terdapat rumah yang sangat tua. Rumah itu dihuni oleh sebuah keluarga kecil dengan kepala keluarga bernama Amang Yan. Di dalam hutan itu terdapat sebuah sungai yang cukup besar dengan nama Lap Menduk yang berbatasan antara Desa Petaling dan Desa Rukam. Hutan itu selalu ditutupi pohon-pohon besar. Sungainya pun airnya sangat jernih dan menyegarkan serta sangat indah untuk dilihat. Di keluarga Amang Yan ada sosok pemuda yang telah menyelesaikan pendidikannya di kota Bandung yang baru saja kembali ke Bangka. Namanya Riduan atau sering disapa Ari. Suatu hari Ari mendengar cerita dari ayahnya bahwa hutan Lap Menduk dan sungai dekat kebun ayahnya sudah hancur oleh penambangan yang dilakukan oleh penambangan illegal yang melibatkan oknum mitra usaha, perusahaan swasta, dan penambangan liar yang semakin marak di sekitar sungai tersebut. Ari sangat terkejut mendengar cerita dari ayahnya karena hutan itu adalah tempat kenangan masa-masa kecilnya mulai dari bertani dan mencari ikan bersama ayah dan teman-temannya.

Ari berjalan kaki menuju hutan yang dulu begitu indah sekarang hanya tinggal kenangan. Pohon-pohon yang dulu menjulang tinggi kini rebah, ranting-ranting patah berserakan di tanah. Ari ingat waktu kecil dia sering datang ke sini bersama ayah bermain di antara pohon dan mendengarkan suara burung. Tapi sekarang hutan ini seperti mayat, tidak ada lagi suara burung hanya keheningan yang menyesakkan. Ari hanya melihat beberapa pohon yang masih berdiri tapi rantingnya kering dan mati. Dia ingin menangis tapi dia tidak bisa. Dia hanya bisa berdiri meratapi kehancuran di depan matanya.

Ari duduk di atas batu mencoba memahami apa yang terjadi. Dia tahu bahwa manusia yang telah melakukan ini. Mereka yang telah menghancurkan tempat ini demi kepentingan mereka sendiri. Dia merasa tidak berdaya, tidak bisa melakukan apa-apa untuk menyelamatkan hutan ini. Ari berdiri melanjutkan perjalanannya sembari melihat beberapa hewan yang masih bertahan, mencoba mencari makanan diantara puing-puing. Sambil tersenyum sedikit mungkin masih ada harapan untuk hutan ini.

“Aku akan kembali dan aku akan membawa teman-teman untuk melihat keindahan yang tersisa. Aku akan berusaha menyelamatkan hutan ini agar anak-anakku bisa menikmatinya suatu hari nanti,” gumamnya dalam hati.

Sebelum matahari mengucapkan salam perpisahan, Ari dan ayahnya duduk di bawah pohon. Menikmati secangkir kopi hangat, mereka berbicara tentang masalah yang paling dekat dengan hati mereka, tentang hutan dan sungai mereka yang sudah hancur.

“Ari tidak tahu Yah, Ari bingung banget. Hutan kita semakin hancur, sungai-sungai kering, hewan-hewan kehilangan rumah,” kata Ari.

“Ayah tahu perasaanmu, Ayah juga memikirkan hal yang sama, tapi apa yang bisa kita lakukan penduduk desa tidak tahu caranya, pemerintah sepertinya tidak peduli,” kata ayahnya.

Perasaan Ari saat itu bagaikan mencoba menghentikan air laut yang terus bergelombang. Seperti mencoba menangkap awan dengan tangan mustahil dan sia-sia.

“Tapi kita tidak bisa menyerah, kita harus terus mencoba, terus berjuang sampai kita menemukan solusi,” jawab ayahnya memberi semangat kepada Ari. Mereka mengangkat cangkir kopi mereka sebagai tanda kesepakatan untuk terus berjuang, tapi jawaban yang mereka cari masih belum ada.

Selesai magrib, Ari terus membayangkan dan berpikir tentang hutan dan sungai mereka yang telah hancur. Dua kekasih yang dulu pernah berjaya kini terbaring luka, meskipun dia datang dengan hati yang berat dia ingin sekali membawa secercah harapan untuk menyembuhkan luka mereka. Teringat juga dipikirannya saat dia berjalan di sepanjang sungai mendengar bisikan air yang merintih seakan berkata, “Aku telah kehilangan suaraku.”

Pikirannya ingin menjawab, “Aku akan mengembalikan suaramu tapi bagaimana?”

Teringat juga dipikirannya saat dia menoleh ke arah hutan pohon-pohon yang dulu menjulang tinggi kini rebah.

“Aku telah kehilangan anak-anakku.”

Lagi-lagi pikirannya ingin menjawab, “Aku akan menanam benih baru tapi di mana?”

Perasaan Ari saat itu bagaikan berlayar di laut yang tak bertepi tanpa kompas, tanpa tujuan, tapi dia tidak ingin menyerah.

“Aku akan terus mencari, terus berjuang, sampai aku menemukan solusi, karena aku tahu hutan dan sungai adalah nyawa kita, kita tidak bisa hidup tanpanya. Aku akan kembali dengan rencana yang lebih matang dengan semangat yang tak pernah padam. Mengembalikan suara mereka, karena aku tahu dengan perjuangan kita akan terus membuat perbedaan,” kata Ari dengan nada kecil.

Disisi lain Dila yang secara tidak sengaja mendengar keluhan kakaknya, Ari yang sedang berbicara sendiri di ruang tamu. Dila menghampiri kakaknya seraya berkata, “Aku tahu apa yang kakak pikirkan, Ayah sudah bercerita tentang rencana kakak yang belum menemukan solusi.”

“Kakak sudah tahu Dil, kakak bingung banget. Hutan di desa kita semakin hancur, sungai-sungai kering, hewan-hewan kehilangan rumah, apa yang bisa kita lakukan?” kata Ari.

Dila terus mendengarkan dengan seksama. Dia merasa ingin sekali membantu kakaknya tapi dia tidak ingin mengganggu. Dia terus mendengarkan, memikirkan solusi.

Tiba-tiba Dila memiliki ide, wajahnya seperti matahari yang bersinar di pagi hari menyinari semua orang dengan senyumannya yang manis. Dila memotong pembicaraan kakaknya.

“Kak Dila punya ide!” katanya dengan semangat. Ari menatap Dila dengan heran.

“Ada apa Dila, kok kamu terlihat serius banget?” tanya kakaknya.

“Aku punya ide Kak,” jawab Dila.

“Aku ingin kita membuat sekolah alam melalui organisasi pramuka, kebetulan aku ketua pramuka di sekolah. Kita juga akan mengajak anggota pramuka untuk mengumpulkan bibit tanaman langka dan menanamnya di hutan yang hancur.”

Ari menganggukkan kepala. “Aku suka ide itu Dila,” tiba-tiba Ari melompat kecil, wajahnya seperti bunga yang mekar di musim semi, menyebarkan aroma kebahagiaan ke seluruh rumah. Ari telah menemukan solusi untuk menyelamatkan hutan dan sungainya yang sudah hancur. Hatinya bagaikan sungai yang mengalir dengan air yang jernih dan segar. Dila tersenyum, hatinya juga ikut bahagia.

“Aku tahu kita bisa Kak, kita akan menyelamatkan hutan dan sungai kita!”

“Tapi bagaimana kita bisa mengumpulkan bibit tanaman langka?” tanya kakaknya kepada Dila.

“Aku sudah memikirkan itu Kak, kita akan bekerja sama dengan taman botani dan organisasi lingkungan untuk mendapatkan bibit tanaman langka. Kita juga akan mengajak anggota pramuka, rohis, PMR, dan PKS di sekolah saya untuk mencari bibit tanaman di hutan yang masih sehat.”

“Aku suka ide itu Dila, mari kita lakukan!” kata Ari.

Keesokkan harinya Dila mulai bekerja mengajak anggota pramuka mencari bibit tanaman langka, yang tentunya didukung oleh semua guru di sekolah. Mereka bekerja keras mencari bibit tanaman di hutan, membersihkannya dan menanamnya di hutan yang hancur.

Hari demi bari bibit tanaman langka mulai tumbuh. Hutan yang hancur mulai pulih.

Dila dan kakaknya terus bekerja menanam bibit tanaman langka dan merawat hutan di sekitar sungai Lap Menduk. Mereka tahu bahwa mereka akan terus membuat perbedaan. Dengan kerja keras dan dedikasi yang sangat tinggi, hutan yang dulunya mayat hidup kini mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Pohon-pohon yang rebah mulai mengeluarkan tunas hijau. Seperti jari-jari yang lembut menyentuh langit. Daun-daun yang mati, kini mulai berganti dengan yang baru, seperti kulit yang segar dan bersinar.

Sungai yang dulunya kering dan mati, kini mengalir dengan air yang jernih dan segar.

Ikan-ikan kecil berenang dengan gembira. Seperti anak-anak yang bermain di pantai. Burung-burung mulai kembali, kicau mereka adalah musik yang merdu di telinga.

Hutan yang dulunya adalah tempat yang sunyi dan gelap kini menjadi tempat yang ceria dan hidup. Anak-anak desa bermain di antara pohon. Tertawa dan berteriak dengan gembira. Orang-orang tua duduk di bawah pohon menikmati udara segar, dan pemandangan yang indah.

Dila dan kakaknya berdiri di depan hutan yang dulunya gundul dan mati. Sekarang hutan itu telah berubah menjadi sekolah alam yang indah dan hidup. Pohon-pohon yang hijau dan rindang, bunga yang berwarna-warni, sungai yang jernih dan segar, semuanya menjadi bagian dari sekolah alam yang berjaya.

Dila tersenyum, hatinya penuh dengan kebahagiaan dan kepuasan.

“Dila tidak percaya kak, kita berhasil kak!” katanya pada kakaknya.

Kakaknya tersenyum memeluk Dila dengan rasa bangga.

“Kakak tahu kita bisa Dila, kita telah membuat sesuatu yang luar biasa.”

Sekolah alam itu telah menjadi tempat yang populer bagi warga dan pelajar untuk berkemah dan belajar tentang alam. Mereka datang dari berbagai tempat untuk menikmati keindahan alam dan belajar tentang pentingnya menjaga lingkungan.

Dila dan kakaknya telah membuat program-program yang menarik bagi pelajar seperti penanaman pohon, pengamatan burung, dan belajar tentang ekosistem.

Mereka juga membuat fasilitas yang nyaman untuk pengunjung seperti warung makanan, toilet, dan tempat untuk berkemah.

Hutan yang bangkit dari abu, kini menjadi tempat yang indah dan hidup, Dila dan kakaknya telah menjadi pahlawan yang membuatnya menjadi mungkin.

 

Catatan : Cerpen ini merupakan karya peserta FLS3N Tingkat Kecamatan Mendobarat Tahun 2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *