Bekaespedia.com, Tempilang,-Asap memang telah hilang dari langit Dusun Merabok, Desa Tempilang. Namun bekas kebakaran yang menghanguskan rumah milik Bahud masih menyisakan luka mendalam bagi keluarga dan masyarakat sekitar.
Jumat (5/6/2026) pagi, di lokasi yang sehari sebelumnya dipenuhi kepanikan, kini tampak tumpukan kayu hangus, seng yang melengkung akibat panas, dan sisa-sisa perabot rumah tangga yang tidak lagi dapat dikenali bentuknya. Rumah yang selama bertahun-tahun menjadi tempat berteduh dan berkumpul keluarga itu kini tinggal kenangan.
Di tengah kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Bangka Barat melalui Dinas Sosial, Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dinsos PMD) bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bangka Barat menyalurkan bantuan darurat kepada keluarga korban kebakaran.
Bantuan yang diberikan berupa makanan anak, makanan siap saji, lauk pauk siap saji, family kit, paket sandang dewasa, kasur, selimut dan tenda gulung. Selain itu, keluarga korban juga menerima bantuan kebutuhan pokok berupa beras 10 kilogram, satu dus mi instan, tiga kaleng sarden, minyak goreng, gula pasir, teh, kopi, kain dan paket sandang.
Bagi sebagian orang, bantuan tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun bagi keluarga yang dalam hitungan menit kehilangan tempat tinggal dan hampir seluruh harta bendanya, bantuan itu menjadi penopang pertama untuk bertahan dan memulai kehidupan kembali.
Saat menerima bantuan, Bahud tampak beberapa kali menundukkan kepala menahan haru. Pria lanjut usia itu mengaku tidak pernah membayangkan musibah tersebut akan menimpa keluarganya.
“Sampai sekarang saya masih seperti tidak percaya. Kemarin rumah masih ada, sekarang tinggal puing-puing. Semua barang habis terbakar. Tapi saya bersyukur karena saya dan cucu saya masih diberi keselamatan,” ujar Bahud dengan suara lirih.
Ia mengaku bantuan yang diberikan pemerintah sangat berarti bagi keluarganya yang kini harus memulai hidup dari nol.
“Kami berterima kasih kepada pemerintah daerah, BPBD, Dinsos, kepolisian dan semua warga yang sudah membantu. Saat seperti ini kami memang sangat membutuhkan uluran tangan. Bantuan ini sangat membantu kami untuk sementara waktu,” katanya.
Menurut Bahud, yang paling berat bukan hanya kehilangan bangunan rumah, melainkan kehilangan berbagai barang yang selama bertahun-tahun dikumpulkan bersama keluarga.
“Di dalam rumah itu banyak kenangan. Ada barang-barang yang kami beli sedikit demi sedikit. Ada juga barang peninggalan keluarga. Semuanya habis. Tapi saya selalu bilang ke keluarga, yang penting kita masih hidup dan masih bisa berkumpul,” tuturnya.
Ucapan serupa disampaikan salah seorang anggota keluarga korban yang ikut menerima bantuan. Ia mengaku masih merasakan trauma setiap kali mengingat detik-detik api mulai membesar dan melahap rumah mereka.
“Waktu itu semuanya terjadi cepat sekali. Kami tidak sempat menyelamatkan apa-apa. Sekarang kalau melihat bekas rumah ini rasanya sedih, tapi kami bersyukur banyak yang peduli dan membantu kami,” ujarnya.
Menurutnya, perhatian dari pemerintah daerah dan masyarakat memberikan kekuatan tersendiri bagi keluarga untuk menghadapi masa sulit tersebut.
“Kalau tidak ada bantuan dan dukungan dari banyak pihak, mungkin kami akan lebih berat lagi menjalani situasi ini. Kami merasa tidak sendiri menghadapi musibah ini,” katanya.
Di sisi lain, bantuan yang diberikan pemerintah juga mendapat apresiasi dari masyarakat sekitar. Warga menilai kehadiran pemerintah di tengah musibah menjadi bukti bahwa korban bencana tidak dibiarkan menghadapi kesulitan sendirian.
Salah seorang warga Dusun Merabok, Ahmad (47), mengatakan kebakaran yang menimpa Bahud membuat masyarakat ikut merasakan kesedihan yang mendalam.
“Kami semua tahu bagaimana kondisi Pak Bahud. Beliau orang baik dan sudah lama tinggal di sini. Ketika rumahnya terbakar, kami merasa seperti keluarga sendiri yang terkena musibah,” ujarnya.
Ia menilai bantuan yang diberikan pemerintah sangat penting karena keluarga korban kehilangan hampir seluruh kebutuhan dasar mereka.
“Yang terbakar bukan cuma rumah, tetapi semua isi rumah. Jadi bantuan seperti makanan, pakaian, kasur dan perlengkapan lainnya memang sangat dibutuhkan saat ini,” katanya.
Pendapat serupa disampaikan warga lainnya, Rina (38), yang turut membantu membersihkan puing-puing pascakebakaran.
Menurutnya, solidaritas masyarakat yang muncul setelah musibah menjadi bukti bahwa semangat gotong royong masih kuat di tengah kehidupan masyarakat Tempilang.
“Sejak kemarin banyak warga yang datang membantu. Ada yang membantu memadamkan api, ada yang membawa makanan, ada yang ikut membersihkan lokasi. Kami tidak tega melihat keluarga korban menghadapi semuanya sendiri,” ujarnya.
Rina berharap bantuan yang diberikan tidak berhenti pada tahap tanggap darurat, tetapi juga dapat berlanjut dalam bentuk dukungan untuk membantu keluarga korban membangun kembali tempat tinggal mereka.
“Kami berharap ada solusi jangka panjang agar keluarga ini bisa kembali memiliki rumah yang layak untuk ditempati. Karena yang hilang bukan sedikit, semuanya habis terbakar,” katanya.
Sebagaimana diketahui, kebakaran terjadi pada Kamis (4/6/2026) sekitar pukul 10.40 WIB. Saat kejadian, Bahud berada di rumah bersama cucunya.
Api yang diduga berasal dari salah satu kamar dengan cepat membesar karena banyaknya material mudah terbakar di dalam rumah. Bahud dan cucunya sempat berupaya memadamkan api, namun kobaran terus membesar hingga akhirnya mereka memilih menyelamatkan diri.
Warga yang melihat kepulan asap segera berdatangan untuk membantu. Tak lama kemudian Kapolsek Tempilang Ipda M. Deni Irawan, S.H., bersama anggota Polsek Tempilang turun langsung memimpin upaya pemadaman bersama masyarakat dan petugas terkait.
Api akhirnya berhasil dipadamkan sekitar pukul 11.50 WIB. Namun rumah beserta seluruh isinya dan satu unit mobil yang terparkir di depan rumah tidak berhasil diselamatkan. Kerugian ditaksir mencapai sekitar Rp300 juta.
Kini, di atas puing-puing yang tersisa, keluarga Bahud berusaha menata kembali kehidupan mereka. Jalan menuju pemulihan tentu tidak mudah, tetapi bantuan pemerintah dan kepedulian masyarakat telah menghadirkan secercah harapan di tengah duka yang masih menyelimuti.
Di Dusun Merabok, kebakaran memang telah merenggut sebuah rumah. Namun peristiwa itu juga memperlihatkan sesuatu yang tidak ikut terbakar terhadap rasa kemanusiaan, kepedulian dan semangat gotong royong yang masih hidup di tengah masyarakat Bangka Barat.
Bagi Bahud, yang berhasil menyelamatkan cucunya dari kobaran api sehari sebelumnya, bantuan yang datang hari ini bukan hanya sekadar bantuan logistik. Bantuan itu tanda bahwa ketika musibah datang, masih banyak tangan yang siap membantu seseorang untuk bangkit kembali.
