Penulis : Indra Pirmana
Awal cerita 29 November 2024 Saya bergabung di Gerakan Pembudayaan Minat Baca (GPMB) Bangka Selatan yang di pimpin oleh Rusmin Sopian dan pegiat literasi hebat lainnya. Hari demi hari saya belajar memahami percakapan di WhatsApp GPMB ternyata banyak mendapatkan pelajaran yang tak terhingga dari para pegiat literasi Bangka Selatan.
Saya merasa diterima dengan penuh rasa hormat walaupun saya bukan orang hebat dan saya merasakan kebahagian ini tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.“Karena saya ibarat burung baru bisa belajar terbang, berbeda dengan pegiat literasi di dalam grup GPMB yang sudah terbang keliling dunia.”
Bahkan suasana isi percakapan melalui WhatsApp semakin hari semakin unik, penuh dengan goresan tintanya seperti: pantun, puisi, cerpen, dan saling berbagi informasi. Ternyata begini rasanya berada dalam grup GPMB. Akhirnya keluar inspirasi ingin mendaftarkan untuk pendirian Taman Baca Masyarakat (TBM) pribadi khususnya di daerah saya. Karena dengan membaca sudah jelas dan pasti banyak tahu. Akhirnya keluarlah ide nama Asha Mangklin yang dulunya Somai Asha singkatan Somai Alif Shanum.
Khalifi Dzikri Hadi Pirmana merupakan anak pertama yang lahir 13 Juli 2013 dan Shanum Ayudia Nur Maulida lahir 18 November 2018 dari pasangan Marlina Eli Supartika dan Indra Pirmana.
Saat ini kami tinggal di Jalan Pasar Payung RT 011/RW005 Desa Payung. Penduduknya tidak semua bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi secara merata. Karena, akses buku-buku dan bahan bacaan pun sangat terbatas di daerah kami, walaupun sebagian desa sudah punya perpustakaan. Namun, tidak semua warga desa berkunjung ke perpustakaan. Maka dari itu harus ada kata jemput bola.
Mengutip pertanyaan yang disampaikan Ketua GPMB Rusmin Sopian Saat menggelar pertemuan di Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah yang di pimpin Pak Sumadi, S.Pd.,M.M. dengan pengurus dan pegiat literasi. Mengapa antara hasil survei dari pusat tidak linier dengan penulis di Bangka Selatan? Padahal buku yang dihasilkan oleh orang yang berdiam diri di Bangka Selatan sudah banyak! Dengan adanya pertanyaan tersebut ini saya ingin mengajukan TBM Asha Mangkling dengan sebutan mangkal kelililing. Namun, kegiatan ini akan saya lakukan pada saat libur mengajar misalnya Sabtu dan Minggu walaupun hanya beberapa jam mangkal kelilingnya karena harus berbagi waktu dengan keluarga agar setidaknya bisa menambah daftar pengunjung di Bangka Selatan menjadi lebih banyak.
Inpirasi di atas muncul karena dua belas tahun saya jualan somai setelah pulang kerja mangkal dan keliling. Maka sekarang di usia mulai 40 tahun ingin membawa buku melalui gerobak mangkal dan keliling dengan menggunakan motor biar bisa masuk ke gang-gang sempit. Untuk menumbuhkan minat baca di kalangan anak-anak, remaja, dan orang tua.
Saya akan membawa buku bacaan dengan berbagai koleksi dan yang akan saya utamakan adalah buku karya orang yang berdiam diri di Bangka Selatan. Kemudian akan saya susun rapi mana karya pegiat Bangka selatan dan luar Bangka selatan pada umumnya. Bukan hanya buku yang saya bawa tetapi goresan tinta karya pegiat literasi Bangka Selatan akan saya susun rapi dan saya ketik agar pembaca bisa membaca secara online juga lewat telepon yang mereka bawa. Ini merupakan salah satu cara untuk menumbuhkan minat baca secara merata.
Melihat perkembangan zaman ini yang secepat kilat pesatnya. Harapan saya melalui Taman Baca Masyarakat (TBM) yang ada di daerah bisa membantu minat baca di Bangka Selatan menempati posisi tinggi yang semula posisi sedang 2024.
Apalagi ada Pak Galih Raka Siwi sebagai ketua Taman Baca Masyarakat (TBM) Bangka Selatan yang sudah dikukuhkan di rumah pintar Kawasan Perkantoran Kecamatan Pulau Besar Kamis, 20 Februari 2025. Maka dengan adanya ketua dan bertambahnya TBM di setiap pelosok negeri. Ini merupakan gebrakan baru agar tiap daerah bisa berkolaborasi dengan efektif untuk meningkatkan minat baca khusunya di Bangka Selatan.
Cerita di atas dapat disimpulkan bahwa bagaimana semangat dan kerja sama masyarakat bisa menghasilkan perubahan besar dalam hal pendidikan terutama dalam bidang literasi, meskipun dimulai dari sebuah inisiatif kecil. Bahkan ada 2 pegiat literasi hebat pernah saya baca di grup WhatssApp dan dari bukunya:
Bahwa aku hanyalah sepotong kayu tak berarti padahal beliau adalah orang hebat. Secepat kilat saya balas, bahwa sepotong kayu itu akan sangat berarti apabila seorang perempuan berada di tengah lautan yang mana di sekujur tubuhnya dipenuhi perhiasan. Secara spontan perempuan melihat sepotong kayu. Maka, akan secepat kilat tanpa berpikir panjang akan melepaskan perhiasan di sekujur tubuhnya dan memilih sepotong kayu. Karena, sepotong kayu lebih berguna untuk menyelamatkan dirinya dibandingkan perhiasan tadi. Akhirnya perempuan tadi selamat dan bisa melangsungkan hidupnya.
Menciptakan budaya kerja yang berbasis kinerja
Artinya perlu menciptakan budaya kerja yang berfokus pada kinerja dan kolaborasi. Maka dari itu dengan adanya kolaborasi yang kuat melalui Taman Baca Masyarakat (TBM) memiliki peran yang sangat penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, terutama di daerah-daerah yang belum sepenuhnya merasakan manfaat dari akses pendidikan secara merata terutama di dunia literasi. (BP)*