Aktivitas para peserta Sekolah lansia (SALSA) di Perpustakaan Daerah
Bekaespedia.com, Mentok,- Di tengah anggapan bahwa perpustakaan hanya tempat menyimpan buku dan ruang sunyi untuk membaca, Perpustakaan Daerah Kabupaten Bangka Barat perlahan menghadirkan wajah baru yang lebih hidup, lebih manusiawi dan lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat.
Sabtu pagi (9/5/2026), lantai dua Gedung Perpustakaan Daerah Bangka Barat dipenuhi langkah pelan para ibu lansia yang datang dengan semangat sederhana untuk ingin tetap sehat, tetap belajar dan tetap merasa berarti di usia senja.
Sebagian datang sambil tersenyum kecil. Sebagian lain saling menggandeng tangan, berbagi cerita ringan tentang kesehatan, keluarga, hingga aktivitas sehari-hari. Di ruangan yang biasanya dipenuhi rak buku dan suasana tenang itu, pagi terasa lebih hangat dan penuh kehidupan.
Hari itu menjadi penanda dimulainya Sekolah Lansia Salimah (SALSA), sebuah program kolaborasi antara PD Salimah Bangka Barat dan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bangka Barat dalam menghadirkan ruang belajar dan pemberdayaan bagi kalangan lanjut usia.
Program tersebut bukan sekadar kegiatan seremonial. Lebih dari itu, SALSA menjadi simbol perubahan cara pandang terhadap perpustakaan modern bahwa perpustakaan hari ini tidak lagi hanya berbicara tentang buku, tetapi juga tentang kehidupan, kesehatan, edukasi dan kualitas manusia.
Sebanyak 20 ibu lansia dari wilayah Mentok mengikuti kegiatan perdana tersebut sejak pukul 07.00 WIB. Kegiatan diawali dengan pemeriksaan kesehatan berupa pengecekan tekanan darah dan penimbangan berat badan, sebelum dilanjutkan dengan senam kegel lansia yang bertujuan membantu mengurangi risiko inkontenensia urine atau kesulitan mengontrol buang air kecil yang kerap dialami perempuan lanjut usia.
Bagi sebagian peserta, kegiatan itu mungkin terlihat sederhana. Namun di balik gerakan ringan dan tawa kecil yang terdengar di sela-sela senam, ada makna besar tentang bagaimana lansia tetap membutuhkan ruang untuk tumbuh, dihargai dan merasa dibutuhkan.
Di usia ketika banyak orang mulai merasa tersisih dari aktivitas sosial, SALSA justru hadir mengajak para lansia untuk tetap aktif belajar dan menjaga kualitas hidup.
Ketua PD Salimah Bangka Barat, Riza Umami, mengatakan bahwa program tersebut dirancang bukan hanya untuk menghadirkan aktivitas rutin, tetapi juga membangun ruang sosial yang sehat bagi para lansia.
Menurutnya, usia lanjut tidak boleh menjadi alasan seseorang berhenti belajar ataupun kehilangan semangat menjalani hidup.
“Lansia tetap membutuhkan ruang bertemu, ruang belajar, dan ruang untuk merasa dihargai. Melalui SALSA, kami ingin menghadirkan suasana yang membuat para ibu tetap sehat secara fisik, kuat secara mental dan bahagia secara sosial,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bangka Barat, Farouk Yohansyah, ST., M.Pd, menilai program SALSA menjadi bagian penting dari transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial yang saat ini terus dikembangkan di Bangka Barat.
Menurut Farouk, perpustakaan masa kini harus mampu menjadi ruang hidup masyarakat, bukan sekadar tempat membaca buku.
“Kami ingin perpustakaan hadir lebih dekat dengan masyarakat. Perpustakaan harus menjadi ruang belajar sepanjang hayat, ruang pemberdayaan, ruang kesehatan sosial, bahkan ruang bertemunya berbagai ide dan inovasi masyarakat,” kata Farouk.
Ia menjelaskan, inovasi pelayanan perpustakaan saat ini tidak lagi hanya berorientasi pada koleksi buku, tetapi juga pada bagaimana perpustakaan mampu memberikan dampak nyata dalam kehidupan masyarakat.
Karena itu, kolaborasi dengan berbagai komunitas dan organisasi masyarakat terus diperkuat agar perpustakaan dapat menjangkau lebih banyak kelompok usia dan lapisan sosial.
Farouk menilai kehadiran Sekolah Lansia SALSA menjadi contoh bahwa literasi tidak hanya soal kemampuan membaca tulisan, tetapi juga kemampuan memahami kehidupan, menjaga kesehatan, memperkuat relasi sosial, dan membangun rasa percaya diri di usia lanjut.
“Literasi hari ini harus dimaknai lebih luas. Ketika lansia belajar menjaga kesehatan, memahami tubuhnya, aktif bersosialisasi, dan tetap memiliki semangat belajar, itu juga bagian dari literasi kehidupan,” ujarnya.
Menurutnya, pendekatan seperti inilah yang membuat perpustakaan dapat menjadi institusi yang relevan di tengah perubahan zaman.
Di banyak daerah, perpustakaan masih sering dipandang sebagai tempat formal yang jauh dari kehidupan masyarakat sehari-hari. Namun di Bangka Barat, perpustakaan perlahan diarahkan menjadi ruang publik yang lebih terbuka, hangat dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara langsung.
Kepala Bidang Pembinaan Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Bangka Barat, Eka Octawianto, S.T., M.AP, mengatakan bahwa SALSA menjadi bukti bahwa perpustakaan dapat menyentuh masyarakat melalui pendekatan yang lebih manusiawi.
“Perpustakaan sebagai ruang belajar sepanjang hayat. Ketika lansia datang bukan hanya untuk membaca, tetapi juga belajar menjaga kesehatan, memperkuat hubungan sosial dan membangun semangat hidup, maka perpustakaan telah menjalankan fungsi sosialnya secara utuh,” jelasnya.
Ia juga mengapresiasi semangat para peserta yang tetap aktif mengikuti kegiatan hingga selesai meskipun berlangsung lebih dari dua jam.
Program SALSA sendiri direncanakan berlangsung selama enam bulan, mulai Mei hingga Oktober 2026. Setiap bulan, para peserta akan mengikuti berbagai agenda edukatif dengan tema yang berbeda, mulai dari kesehatan, kebugaran, penguatan mental, hingga aktivitas sosial yang mendukung kualitas hidup lansia.
Apabila seluruh rangkaian kegiatan terlaksana dengan baik, program tersebut akan ditutup dengan wisuda lansia sebagai bentuk penghargaan atas semangat belajar para peserta.
Di tengah kehidupan modern yang bergerak cepat dan sering membuat kelompok lansia merasa tertinggal, kehadiran SALSA menjadi pengingat bahwa proses belajar tidak pernah berhenti oleh usia.
Di Perpustakaan Daerah Bangka Barat itu, para lansia tidak hanya sedang belajar menjaga kesehatan. Mereka sedang merawat rasa percaya diri, memperkuat semangat hidup, dan membuktikan bahwa usia senja tetap dapat menjadi masa yang aktif, produktif dan membahagiakan.
Dan dari ruang sederhana di lantai dua perpustakaan itu pula, Bangka Barat sedang menunjukkan bahwa literasi bukan hanya tentang membaca buku, tetapi tentang bagaimana manusia terus belajar untuk hidup dengan lebih sehat, lebih bermartabat dan lebih bermakna.
