Senandika Kenangan Bersama Hujan

Oleh: Ummi Sulis

 

Sesuatu yang ditakutkan anak kuliahan adalah hujan begitu derasnya, sementara mengumpulkan tugas adalah kewajiban hari terakhir yang mesti ditunaikan. Begitu susahnya, menerobos hujan sambil berjalan kaki adalah jalan terakhir yang harus ditempuh. Kalau tidak, tugas penentu untuk nilai semesteran tidak diterima lagi.

Entah mengapa, hari itu aku berdoa meminta agar ada seseorang melintasi rumah kost-an untuk bersama-sama berangkat ke kampus yang jaraknya hanya 300 meter saja. Namun, hujan menjadikan kampus terasa jauh.

Doaku terkabul. Melintaslah seseorang dengan memakai payung biru besar, berjalan begitu cepat, seakan ingin mengejar cahaya di depannya. Tanpa sungkan aku pun meneriakkan kata “Abang, bisa nebeng, gak”. Dia pun menoleh, berhenti di depanku sambil menutupkan hoodie, membungkus kepalanya. Duh, apakah nanti dapat melihat jalan? Aku saja takpaham raut wajahnya. Ah, yang penting ke kampus, mengumpulkan tugas matkul si dosen killer.

Sepanjang perjalanan, kami hanya diam, bahkan aku harus berjuang keras menyejajarkan langkahnya yang hampir dua kali lipat langkahku. Sesekali aku menolehnya. Namun, dia membuang muka, bahkan semakin menutupkan hoodie ke kepalanya. Hei, apakah dia ingin membuat aku mati penasaran? Aku membatin. Ya sudahlah, aku akhirnya mengucapkan terima kasih karena sudah tiba di kampus dengan selamat. Kuputuskan untuk membeli payung selepas ini, agar tak kesulitan ke kampus saat hujan begini.

Wah, dia membuka penutup kepalanya, tampaklah postur wajah yang selalu kukutuk karena jengkel. Ternyata dia mantan teman sekelasku yang begitu jahilnya, hingga sampai kelulusan kita tak bertegur sapa. Dan … hari ini dia mengantarkanku ke kampus, dia dan aku sekampus? Dia tiada mengumbar kejengkelan? Dia mantan teman sekelasku yang paling menjengkelkan?

Tetapi, mengapa dia berubah? Ayolah, apakah dia menyusulku ke kampus ini ingin minta maaf? Aku pun tertawa memikirkannya, kenangan bersama hujan, dimulai hari ini. Mungkin dia menyaksikan ketakpercayaan ini, entah dari arah mana. (BP)*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *