Oleh: Meilanto
Penduduk kampung yang jauh dari pusat kota mengandalkan sumber daya alam sebagai mata pencaharian. Bercocok tanam palawija, berladang berume dan mencari hasil hutan. Selain itu, warga juga menyadap getah karet. Termasuk ayahku. Itu pun harus berbagi hasil dengan pemilik pohon karet. Jika cuaca cerah, ayah menyadap getah karet setiap hari kecuali hari Jumat. Karet yang disadap ayah memang luas sehingga bisa menyadap setiap hari secara bergantian. Terkadang ayah dibantu ibu jika ayah kurang enak badan.
Setelah salat subuh, dengan sepeda ontelnya, ayah mengayuh sepeda tua warisan ayahnya. Ia ke kebun karet milik orang berduit di kampung. Masih gelap memang. Apa boleh buat, jarak yang jauh membuat ayah harus berangkat pagi. Jika matahari sudah naik, getah karet cepat membeku dan kualitasnya kurang baik.
Ibu membantu ayah dengan pekerjaan apapun. Membersihkan lahan kebun warga yang berduit, mencari kulat, membantu ayah mengangkat getah karet dan lain sebagainya asalkan bisa menambah ekonomi keluarga. Ayah dan ibu beruntung, walaupun anaknya banyak, anak-anaknya saling bantu satu sama lain. Dari sebelas anaknya, masih tiga yang masih sekolah. Selebihnya sudah berkeluarga dan yang belum berkeluarga juga membantu menyadap getah karet.
Sepeda ontel ayah berwarna hitam warisan ayahnya. Pada beberapa bagian, warna hitamnya sudah memudar karena termakan usia.
“Yah, berapa usia sepeda ini?” tanyaku suatu siang saat ayah memompa ban sepedanya.
“Ayah juga kurang tahu, Nak. Tapi ini warisan dari kakekmu. Kakekmu meninggal kamu belum lahir. Kakekmu meninggal tahun 1976.”
“Kalau begitu, lebih tua sepeda ini dari ayah?” tanyaku masih penasaran.
“Bisa jadi,” jawab ayah pendek.
Jarak kampung ke kebun karet yang ayah dan ibu sadap kurang lebih 7 Km. Bagi ayah, sepeda ontel itu sangat berarti. Jika ibu tidak ada pekerjaan, ibu berboncengan dengan ayah ke kebun karet. Jika tidak, ibu berjalan kaki. Pernah suatu ketika, ayah mau dibelikan sepeda motor oleh anak-anaknya, tapi ayah menolak.
“Sudah, simpan saja uangnya untuk adik-adikmu sekolah. Ayah masih kuat kok mengayuh sepeda. Lagian, dengan bersepeda, ayah menjadi sehat!” jawab ayah.
Ayah memang pekerja keras. Hanya hari Jumat ia ada di rumah dari pagi. Habis salat Jumat, ia kembali ke kebun untuk merawat tanamannya. Tanaman palawija yang siap panen dijual untuk menambah ekonomi keluarga. Di kebun ada cabai, kunyit, jahe, kencur, talas, ubi jalar dan banyak lagi hampir tidak ada celah. Nanas, pisang, singkong, lengkuas, jenis tanaman lainnya. Pagi hari menyadap getah karet, siang hari setelah zuhur merawat tanamannya.
“Renaldi,” panggil ayah suatu malam setelah makan bersama, “kamu sekolah yang benar ya. Begitu juga dengan Devi dan Melda. Kalian bertiga harus sekolah setinggi mungkin. Selama ayah dan ibu kalian sehat, ayah dan ibu akan berusaha sekuat tenaga menyekolahkan kalian bertiga. Abang dan ayuk kalian juga turut membantu. Kalian bertiga harapan kami semua!” pinta ayah.
“Betul, Nak, kalian harus belajar lebih giat. Kita memang orang tak mampu, tapi selagi kalian mau berusaha, nasib keluarga kita akan berubah. Kalian lihat, anak orang terkaya di kampung, anaknya putus sekolah. Padahal orang tuanya mampu membiayai sekolahnya bahkan kuliahnya. Ayah dan ibu serta abang dan ayuk kalian tidak muluk-muluk, kalian tamat SMA saja bagi kami itu sudah prestasi bagi keluarga kita. Kalian boleh tanya abang dan ayuk kalian, mereka hanya tamatan SD bahkan abang Ijal kalian itu tidak lulus SD. Ayo belajarnya lebih giat lagi ya!” ibu memberikan nasihat kepada Renaldi, Devi dan Melda.
Renaldi sudah duduk di kelas 2 SMA. Setiap hari ia mengayuh sepeda ke ibu kota. Devi di kelas 3 SMP dan Melda di kelas 6. Devi dan Melda sekolah di kampung. Ketiga kakak beradik itu memang tergolong siswa yang berprestasi. Mereka sering mendapatkan beasiswa dan bantuan dari pihak kabupaten.
Sementara itu, ayah masih setia dengan sepeda ontelnya. Begitu sayangnya ia dengan ontel itu. Jika malam hari, ontel itu dimasukkan ke rumah.
“Nanti sepeda ontelnya merajuk kalau tidur di luar,” begitu jawab ayah saat ditanya mengapa sepedanya dimasukkan ke rumah. Padahal belum pernah terjadi kasus pencurian di kampung kami. Sebenarnya ayah hanya ingin mengajarkan kepada putra putrinya bahwa benda-benda yang berjasa dalam hidup, harus dijaga. Jangan sampai jasa-jasa benda yang telah membantu kita justru kita lupakan. Ya, bagi ayah, sepeda ontel itu memang berjasa. Selain karena warisan dari ayahnya, sepeda ontel itu sungguh sangat berarti baginya. Tak apa-apa mengayuh sepeda setiap hari berboncengan dengan istri tercinta demi anak-anak dan keluarga.
Kami beruntung punya ayah dan ibu yang menjadi panutan, motivator dan inspirator bagi bagi. Ayah dan ibu langsung memberikan contoh bagaimana bekerja keras demi satu tujuan.
Tanpa terasa, bulir-bulir bening jatuh di pelupuk mata Renaldi. Ia teringat saat ia masih kecil, ayah mendudukkannya pada bagian belakang sepeda ontel itu.
Mengikat kakinya dengan kain perca supaya tidak terkena jari-jari sepeda. Sebegitu sayangnya ayahnya terhadap Renaldi. Renaldi dan adik-adiknya dibawa ke kebun saat libur sekolah. Katanya supaya anaknya tidak minta jajan.
Renaldi merindukan masa-masa indah itu. Masa-masa ia bermain bersama adik-adiknya, berboncengan sepeda ontel warisan leluhur dan sebagainya. Merindukan saat ayah dan ibunya menasihati mereka untuk terus belajar lebih giat dan menjadi orang yang berguna.
Kini Renaldi dan adik-adiknya sudah berkeluarga serta menikmati hasil jerih payah keluarga dan kedua orang tuanya. Doa-doa yang selalu dilangitkan oleh kedua orang tuanya habis salat malam kini ia rasakan. Nasihat-nasihat yang selalu terngiang di telinga menjadi penyemangat bagi Renaldi dan adik-adiknya. (BP / KM)*
Cerpen ini telah diterbitkan dalam Rindu Itu Bernama Ayah oleh Yumna Pustaka, Juli 2025.
