Sepotong Cinta Ramadhan 1999 ( Kisah Nyata Penulis)

Fhoto ilustrasi : Agus Bachtiar Kurniawan

Liburan Ramadhan untuk pelajar saat itu sebulan penuh lamanya. Sebagai mahasiswa semester awal, aku merasa menjadi orang yang paling keren dan terpelajar. Maklumlah saat itu aku mahasiswa semester awal dan sedang senang-senangnya dipanggil “ Mahasiswa”. Setiap sore menjelang berbuka puasa di masjid samping kos ku diadakan kegiatan pendalaman agama dan dilanjutkan berbuka puasa bersama. Ikatan Remaja Masjid dan para pemuda menjadi panitia penyelenggara kegiatan ini selama sebulan penuh. Walaupun kuliah di jurusan Seni Rupa aku cukup aktif dalam beberapa kegiatan keagamaan. Selain karena kos ku berdekatan dengan masjid, sebagian kawan akrabku kebetulan adalah para mahasiswa jurusan tarbiah.

Sore, hari ke 20 Ramadan aku didaulat untuk memandu kegiatan belajar melantunkan Nasyid atau lagu-lagu Islami. Saat itu lagu-lagu dari Hadad Alwi sangat populer dan mengalun dalam berbagai acara di televisi maupun radio di hampir seluruh negeri. Dengan modal kemampuan bermain gitar yang pas-pasan, aku ajarkan pada para remaja beberapa Nasyid dan lagu-lagu religi lainnya.

Selang beberapa waktu aku mengisi acara di teras masjid, mataku tiba-tiba tertuju pada sesosok gadis cantik dan tinggi semampai yang baru hadir dan duduk berbaur di samping kiri barisan bagian paling depan. Mengenakan hijab warna merah muda, berwajah ayu, bermata bening dan sangat memesona. Sesasat aku agak grogi dan salah tingkah karena mata gadis itu terus memandangi seolah penuh kekaguman saat melihatku. Dada ini berdebar, maklum aku laki-laki normal walaupun usiaku belum genap 19 tahun. Sambil terus mengajarkan nasyid pada para peserta, sesekali kusempatkan mata mudaku ini untuk melirik padanya. Dan ternyata matanya juga sering mencuri-curi pandang kepadaku. Saat mata kami bertemu, dia tersipu malu dan menunduk. Oh….sungguh indah rasanya. Detak jantungku lebih cepat dari biasanya. Mungkinkah aku jatuh cinta pada pandangan pertama? Pertemuan mata ini semakin lama semakin intens. Aku menjadi makin semangat dan mencoba menunjukkan performa terbaik pada para peserta, khususnya pada gadis itu. Seusai kegiatan, semua berbuka bersama dan dilanjutkan sholat maghrib berjamaah.

Sholat Isya’ malam itu agak terlambat aku datang. Iqomah sudah berkumandang aku baru memulai berwudhu. Selesai berwudhu bergegas ku menuju teras masjid dan masuk melalui pintu samping bagian kanan. Tak sengaja aku perpapasan dengan gadis itu lagi. Aku pun tersenyum padanya, disambut senyuman terindah darinya. Jujur saja aku semakin penasaran dan tak bisa menahan keinginan untuk mengenalnya.

Sholat tarawih selesai jam 20.35, dilanjutkan dengan tadarus. Muda-mudi sebagian berkumpul di teras masjid dan mengobrol diselingi canda riang khas remaja yang beranjak dewasa. Aku pun ikut bergabung dengan mereka sebagai bentuk keakraban dan kebersamaan. Sepintas di pojok teras terlihat 5 remaja putri duduk melingkar mengobrol asyik diselingi tawa yang renyah. Libur satu bulan tampaknya benar-benar mereka pergunakan untuk melepas kepenatan setelah bergulat dengan mata pelajaran yang harus diikuti saat jam sekolah. Diantara gadis-gadis yang duduk melingkar itu tampak gadis cantik yang mencuri perhatianku sore tadi. Rasa penasaran dan ketertarikanku pun bangkit lagi. Kudekati mereka, membuka ruang percakapan dengan menyapa “ Assalamualaikum adik-adik, seru sekali ngobrolnya.”

“Wa’alaikumsalam Kak” jawab mereka hampir bersamaan.

“Kak Tiar boleh tahu nama kalian? tanyaku lagi untuk memulai pembicaraan.

“Saya Fitri, ini Tia, ini Handa, Itu Septi dan yang paling tinggi itu Sari “ Kata gadis yang bernama Fitri memperkenalkan diri dan teman-temannya.

Rupanya gadis tadi bernama Sari. Kali ini aku bisa lebih dekat dan leluasa untuk memperhatikan wajah ayunya. Hem…benar-benar cantik dan menarik. Dengan mukena yang masih dipakai, menambah keanggunan dan keelokan parasnya. Sekali lagi, sebagai laki-laki normal aku tertarik pada Sari. Bening sekali wajahnya.

Setelah beberapa lama berbincang- bincang, aku berpamitan untuk pulang ke kos. Yang terpenting, misi utamaku sudah tercapai. Mengetahui nama gadis yang cantik dan menarik tadi. Sari.

“Adik-adik, Kak Tiar pulang dulu ya, masih ada tugas yang harus dikerjakan”. kataku sembari melirik ke arah Sari.

Besuk pagi kita jalan-jalan setelah subuh yuk? Kataku lagi sambil berharap Sari merespon ajakanku.

‘’Oke Kak, boleh kok, kita kan libur…hehehe” Sahut gadis yang bernama Septi.

Aku pulang ke kos yang jaraknya hanya sekitar 20 meter dari Masjid. Sesampai dikamar kos, bayangan wajah menawan Sari yang memakai mukena masih lekat menempel di pelupuk mataku. Ku hela nafas berkali-kali berharap bisa menjauhkan anganku dari bayangan wajahnya malam ini.

Sampai lepas tegah malam mata ini belum bisa terpejam. Luar biasa, wajah Sari ada dimana-mana. Di dinding kamar, di langit-langit, di jendela, di cermin. Haaah…benar-benar membuatku resah…entah jam berapa aku tertidur.

Serasa baru beberapa saat terlelap, suara temanku Cecep menggema melalui pengeras suara masjid.

Sahuurrrr….sahur… sahuur…!!! Bapak-bapak, Ibu-ibu, Adik-adik, sekarang sudah jam tiga lebih empat puluh menit. Mari kita sahur…, imsak hari ini jam empat lebih lima belas menit…! Sahur….sahur…sahurr….!!!

Aku berusaha membuka mata dan bangkit dari tempat tidurku. Terasa berat dan agak pusing. Mungkin karena belum cukup tidurku malam itu.

Setelah membasuh wajah, rasanya sedikit lebih segar. Aku segera keluar dari kamar kos dan berjalan cepat menuju warung Mbok Paijem yang berada di sebelah selatan masjid. Warung makan sederhana dengan harga pelajar, dan yang terpenting bisa ngutang saat akhir bulan. Nasi, tempe dan tahu bacem, oseng sawi pedas, kerupuk dan segelas teh hangat menjadi menu sahurku pagi itu. Karena waktu imsak tinggal beberapa saat, aku makan dengan terburu-buru.

‘’Berapa Mbok? tanyaku pada Mbok Paijem setelah secepat kilat menghabiskan menu sederhanaku.

“Nasi, tempe, tahu, sayur, kerupuk, teh manis ya Le? Dua ribu lima ratus Le “ kata mbok Paijem dengan lihai menghitung dengan metode mencongaknya.

“Matur nuwun Mbok” kataku sambil menyerahkan uang pecahan seribu rupiah dua lembar dan sekeping uang logam kuning lima ratus rupiah.

Bergegas aku pulang ke kos, berganti baju dan menuju masjid untuk persiapan Sholat Subuh.

Pagi berselimut dingin, menambah rasa sepat dan berat yang masih menggelayuti mataku. Subuh pagi ini kulalui dengan terkantuk-kantuk. Ini semua akibat semalam aku dipaksa lembur sampai dini hari membayangkan wajah Sari.

Setelah Sholat Subuh Ustad Iskandar memberikan kuliah subuh beberapa menit. Walaupun sangat singkat, padat dan jelas uraian beliau, namun bagiku itu sangat panjang dan lama terasa.

“Akhirnya selesai juga” bisikku dalam hati setelah Ustad Iskandar mengakhiri ceramahnya. Rasa berat karena mengantuk menggiringku untuk segera kembali ke kos meneruskan ritual tidur yang terganggu semalaman.

“Kak Tiar, katanya mau jalan-jalan subuh?” suara Septi sedikit membuyarkan kantukku.

“Fitri, Tia, Handa dan Sari sudah menunggu lho…” kata Septi. “Itu mereka dibawah pohon depan Masjid” lanjut Septi sambil menunjuk ke arah teman-temannya.

Mataku tertuju kearah jari telunjuk Septi. Kulihat para remaja putri itu masih menggunakan bagian atas mukena.

Seketika rasa kantukku hilang saat mataku melihat Sari, gadis pengganggu tidurku.

“Ayo, siapa takut?! kita jalan-jalan pagi, keliling kampung saja ya, jangan jauh-jauh.” Kataku dengan semangat membara.

“Oke Kak, yuk berangkat” sambut Septi tak kalah semangat.

Pagi itu bersama muda-mudi dan para remaja serta sebagian bapak ibu jamaah masjid, kami melakukan jalan pagi. Dari tahun ke tahun memang sudah menjadi tradisi di bulan Ramadhan, seusai sholat Subuh kita menyambut terbitnya matahari dan menghirup udara segar yang belum tercemar oleh asap kendaraan yang lalu-lalang.

Sepanjang jalan, aku coba lebih dekat dengan Sari, gadis cantik yang belum lama kujumpai, namun telah berhasil membuatku begadang semalaman memikirkannya. Entah mengapa aku begitu agresif pagi itu. Berbagai rayuan, sanjung dan puji kulontarkan pada gadis itu sepanjang jalan. Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang melihat tingkahku hanya tersenyum saja, mungkin mereka memaklumi karena mereka juga pernah muda.

Hatiku lega karena Sari menyambutnya dengan riang gembira. Tawa manja dan senyumnya tersungging di bibir seakan menyambut perasaanku. Sungguh menggemaskan sekali gadis itu. Aku makin terpesona.

Empat hari menjelang Idul Fitri, setelah jalan-jalan pagi kutitipkan selembar tulisan pada Sari melalui Septi teman karibnya.

“Adik Sari yang baik dan cantik…

Kak Tiar besuk siang pulang ke rumah orang tua.

Sengaja aku kirimkan tulisan ini agar Kak Tiar merasa tenang saat pulang besuk.

Sejujurnya Kakak katakan, walaupun baru bertemu beberapa hari, Kakak jatuh cinta padamu.

Bahkan mungkin Kak Tiar sudah jatuh hati saat pertama melihatmu.

Maukah kau jadi kekasih kakak?

Sore nanti Kakak tunggu jawabanmu ya Dik…”

Begitu isi tulisan yang kukirimkan pada Sari.

Sore hari menjelang berbuka, seperti biasanya saat kegiatan Ramadhan aku berada di masjid bersama muda-mudi dan pengurus Ikatan Remaja Masjid. Kulihat Sari menatap dari kejauhan dan tampak malu-malu. Mungkin dia jadi merasa canggung karena isi suratku pagi tadi. Tapi bagaimana lagi, ketertarikanku padanya sudah tak terbendung lagi.

Septi mendekatiku sambil mengulurkan sepucuk surat dengan sampul warna merah muda.

“Kak Tiar, ini dari Sari” katanya singkat dan segera berbaur menuju kelompok remaja putri.

Karena tak sabar mengetahui isi balasan dari Sari, aku segera keluar dari teras menuju ke samping masjid. Setelah menengok kanan dan kiri sebentar, aku buka surat dari Sari.

“Kak Tiar yang Cakep dan Keren,

Sari senang sekali menerima surat dari Kakak,

Sari mau kok jadi kekasih Kakak,

Cuma Sari khawatir Kak Tiar berubah pikiran kalau tahu siapa Sari sebenarnya.

Tapi sejujurnya Sari juga merasa nyaman didekat Kak Tiar”

Dariku: Amalia Rizki Hapsari ( Sari)

Tubuh ini bagai tersiram percikan air dingin saat kemarau panjang, sejuk dan menenangkan. Anganku melambung tinggi sekali. Hati dan perasaanku makin bergelora. Malam itu setelah sholat Tarawih, aku segera pulang ke kos, karena harus membereskan dan mempersiapkan semua kebutuhanku selama aku pulang ke rumah orang tua di Kulonprogo.

Liburan Ramadhan dan Idul Fitri telah usai. Aku kembali ke kos untuk melanjutkan aktivitas kuliahku. Hampir 2 minggu penuh aku tak melihat Sari gadis cantik pengganggu tidurku.

Pagi sekitar jam 7, aku berjumpa dengan Septi disebuah mini market. Melalui dia aku tanyakan perihal Sari.

“Dik Septi, gimana kabar Sari?” tanyaku pada Septi.

“Cie…Kak Tiar Kangen ya? Hehe…”. kata Septi sambi tersenyum-senyum dan menatapku penuh selidik.

“Ah..enggak kok, cuma pengen tahu kabarnya aja” jawabku sekenanya dengan sedikit malu-malu.

“Sari baik-baik saja kok, hari ini kan udah mulai masuk sekolah” kata Septi menjelaskan padaku.

“Kak Tiar pengen ketemu, tapi nggak tahu rumahnya, ada sedikit oleh-oleh untuk dia” kataku dengan nada serius.

“Oh gitu…kalau mau ketemu Sari, jangan kerumah Kak, mendingan ketemu sebentar di sekolah saat jam istirahat. Kalau dirumah, orangtuanya sangat ketat Kak” kata Septi memberi saran.

“Oke deh, Dik Septi tahu alamat sekolahnya”? tanyaku lagi dengan lebih serius.

“Tahu dong, sekolah dia satu komplek kok dengan sekolahku, itu lho komplek sekolah Tamansiswa” jawab Septi sambil senyum-senyum. Entah apa arti senyuman itu.

“Makasih Dik, nanti Kak Tiar kesana sekitar Jam 9, sekalian ke kampus.” kataku singkat sambil buru-buru keluar dari Mini Market.

Jam 08.45 aku starter motor Honda Astrea Primaku. Tak lupa di cantelan motor kugantungkan bingkisan oleh-oleh untuk Sari. Jalanan padat saat aku menyusuri jalan raya menuju komplek sekolah Tamansiswa. Jam 09.10 sampai di depan gerbang sekolah. Di komplek sekolah itu ada beberapa institusi pendidikan dalam satu area. SD, SMP,SMA dan Perguruan Tinggi berada dalam lokasi.

Aku berhenti di depan pos penjagaan dan bertanya pada Satpam yang bertugas saat itu.

“Selamat Pagi Pak, saya kakaknya Amalia Riski Hapsari, minta izin ingin bertemu sebentar Pak” kataku seraya menyalami Pak Satpam berkumis tebal.

“Pagi Mas, maaf adiknya kelas berapa ya? SD, SMP, SMA atau Kuliah? tanya Pak Satpam berkumis tebal dengan raut wajah yang sangat simpatik.

Sesaat aku terhenyak, karena aku sampai sekarang belum tahu Sari kelas berapa. Aku agak kelimpungan menjawab pertanyaan itu.

“Eh..itu Pak, emmmh anu, mohon maaf saya nggak tahu Sari kelas berapa karena dia itu adik sepupu saya Pak” jawabku sebisanya. “Dan saya hanya menyampaikan titipan bingkisan dari orangtua saya “ sambungku sambil berharap Pak Satpam berkumis tebal memaklumi alasanku.

“Oh begitu to Mas, baiklah kalau gitu saya panggil saja pakai pengeras suara ya, tolong Mas tulis nama lengkap adiknya tadi” kata Pak Satpam berkumis tebal sambil menyodorkan selembar kertas memo dan ballpoint merek pilot.

Kutulis nama lengkap sari besar-besar dengan huruf kapital agar lebih jelas: AMALIA RIZKI HAPSARI

“Tunggu sebentar ya Mas, saya panggil dulu” kata Pak Satpam berkumis tebal sambil bergegas pergi setelah menerima kertas memo dariku.

Tak lama kemudian terdengar suara Pak Satpam berkumis tebal berbicara melalui pengeras suara sekolah : “ Panggilan kepada ananda Amalia Rizki Hapsari, ditunggu kakaknya di Pos Satpam, Segera!”

Pak Satpam berkumis tebal mengulang pengumuman 3 kali dan setelah itu segera kembali ke Posnya.

Beberapa menit kemudian kulihat dari kejauhan seorang gadis melangkah mendekat ke arah Pos Satpam. Aku mengamati dengan agak ragu-ragu. Tapi aku sangat hafal dengan gaya langkah gadis itu. Iya..betul! itu Sari. Sari gadis cantik pengganggu tidurku. Tapi…

Sejenak aku tertegun, mulutku menganga tanpa kusadari. Mungkin wajahku saat itu persis seperti celengan kodok yang melongo.

Bagaimana tidak, ku lihat Sari menghampiriku dengan baju putih dan rok merah.

“Kamu kelas berapa Dik?” tanya Pak Satpam berkumis tebal.

“Kelas 5A Pak” jawab Sari polos.

Ya Ampun…Ya Tuhan…Ya Allah…rupanya Sari masih kelad 5 SD. Jadi selama ini aku tergila-gila sama anak SD?!

Pantas saja setiap kutanya tentang sekolah, dia seakan mengalihkan perhatian dan sambil senyum-senyum selalu bilang :

“rahasia”.

Bayangkan saja seperti apa bentuk perasaanku saat itu. Aku segera menyerahkan bingkisan pada Sari dengan senyum yang sangat sulit aku jelaskan artinya. Setelah itu, segera berpamitan pada Pak Satpam berkumis tebal. Sari pun dengan riang melambai-lambaikan tangan kearahku.

Sore itu juga aku mohon diri pada ibu kos, dan meminta izin untuk pindah ketempat lain. Aku ingin menjauh dan menenangkan diri serta meminta maaf pada perasaanku yang buta. Sungguh aku tak tahu mengapa bisa seperti ini.

Yogyakarta, 25 Maret 2025

Penulis : Agus Bachtiar Kurniawan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Exit mobile version