Si Mata Merah dari Hutan Pelawan

Oleh :  Ainun Hafizhah Putri (Siswa MI Al Muhajirin, Koba)

 

Malam itu Hutan Pelawan Namang terasa mencekam. Angin berembus pelan, membuat ranting bergoyang dan daun daun berbisik pelan, sreeek… sreeek… sreeek… Di bawah sinar bulan yang redup, tiga anak pramuka yaitu Raka, Dina, dan Bagas berjalan pelan menyusuri jalan setapak yang gelap.

“Mereka bilang pos 3 ke arah timur, kan?” tanya Dina sambil menyorot senter ke tanah.

“Iya, tapi ini kok kayaknya kita malah muter ya?” jawab Raka sambil menghela napas. Bagas mencoba tertawa kecil. “Heh, jangan-jangan kita nyasar!”

Mereka baru saja ikuti kegiatan jelajah malam dalam perkemahan pramuka di Hutan Pelawan. Harusnya mereka sudah kembali sebelum jam delapan, tapi entah bagaimana, mereka malah berputar – putar dan tersesat.

Tiba – tiba dari balik semak terdengar suara krek… krek…, lalu muncul dua mata merah yang berkilat di kegelapan. Dina spontan menjerit kecil.

“Itu… itu mata apa, Rak?” bisiknya sambil menggenggam tangan Raka erat – erat. Raka menyorotkan senter ke arah suara itu. Dua mata merah memantul terang. Sesosok hewan kecil melompat ke ranting pohon, membuat daun – daun bergoyang.

“Wah! Hantu Hutan Pelawan!” seru Bagas panik. Mereka bertiga berlari ke arah berlawanan, tapi Raka yang paling depan tiba tiba berhenti.

“Eh, tunggu! Lihat itu!” katanya sambil menyorotkan lampu lebih dekat.

Ternyata makhluk itu bukan hantu, melainkan seekor hewan kecil berbulu coklat lembut, matanya bulat besar berwarna merah menyala karena pantulan cahaya. la menatap mereka dengan wajah lucu.

“itu mentilin!” seru Raka. “Hewan khas Bangka!” Tapi kemudian mereka sadar, mentilin itu pincang! Kakinya berdarah dan bulunya kusut penuh dedaunan. Hewan itu tampak ketakutan.

“Kasihan banget,” ucap Dina sambil jongkok.

“kayaknya dia butuh pertolongan,” kata Raka. la merobek dasi pramukanya dan membalut luka di kaki mentilin itu. Mentilin itu menatap Raka dengan mata besar berkilau, seolah mengucapkan terima kasih.

“kita bantu cari keluarganya aja yuk,” usul Bagas.

“Dia pasti tersesat juga.”

Akhirnya, mereka bertiga memutuskan untuk menolong mentilin kecil itu.

Perjalanan malam itu tidak mudah, mereka harus menyeberangi parit kecil, menunduk melewati akar pohon, dan menahan rasa takut di tengah suara – suara Hutan Pelawan. Dina membawa mentilin kecil itu di dalam jaketnya agar tetap hangat.

“Coba lihat, dia mulai tenang,” kata Dina sambil tersenyum.

“Tapi kita harus cepat. Hewan buas malam banyak keluar sekarang,” kata Raka, mencoba terdengar berani.

Benar saja. Tak lama kemudian, dari balik pepohonan terdengar suara grrr… Dua mata kuning menyala menatap mereka. Seekor musang besar muncul dari semak, bulunya kusut dan giginya tajam berkilat terkena cahaya senter.

“Waduh, Rak… Itu musang beneran kan?” bisik Bagas ketakutan.

“kayaknya iya, dan dia ngelihat mentilin kita,” jawab Raka cepat.

Musang besar itu melangkah pelan, mengendus – endus udara. Mentilin di pelukan Dina meringkuk ketakutan.

“jangan panik,” kata Raka. “kita harus bikin dia takut.”

Bagas segera mengambil ranting panjang dan mengibaskanya sambil berteriak. “Husss! Pergi kamu!”

Raka Menyalakan peluitnya keras -keras, priiit! Priiit! Dina menyorotkan senter ke arah mata musang itu. Hewan itu mundur sedikit, tapi belum pergi.

Tiba tiba, Raka punya ide. la mengambil api unggun kecil dari obor cadangan yang mereka bawa. “Kita bikin lingkaran kecil, biar dia takut,” katanya.

Dengan hati-hati mereka membuat lingkaran kecil dari daun kering yang menyala sebentar. Cahaya api membuat musang besar itu menggeram, lalu berlari menjauh.

“Fiuh… hampir aja,” kata Bagas sambil mengusap keringat di dahinya.

Mentilin kecil itu tampak gemetar, lalu memeluk tangan Dina dengan kaki mungilnya.

“Tenang, kamu aman,” kata Dina lembut.

Mereka melanjutkan perjalanan, kali ini lebih berhati hati. Tak lama, mentilin di pelukan Dina mulai bersuara kecil, ciiit ciiit ke arah utara.

Mereka mengikuti suara itu, menembus semak dan pohon besar. Hingga akhirnya sampai di sebuah pohon raksasa yang berlubang. Dari lubang itu terdengar suara mentilin kecil lain menjawab, “ciiit ciiit”

“Itu keluarganya!” seru Dina senang.

Mentilin kecil itu meloncat dari pelukan Dina, meski kakinya masih agak pincang. la memanjat perlahan ke arah lubang itu. Dari sana keluar dua mentilin kecil lain dan seekor mentilin besar. Mungkin itu induknya. Mereka saling bersentuhan dengan lembut, seperti berpelukan.

Raka, Dina, dan Bagas terdiam. Rasa lega memenuhi dada mereka.

“Lihat, akhirnya dia ketemu keluarganya lagi,” kata sambil senyum lebar.

“Dan kita selamat dari musang itu juga,” balas Bagas.

Dina menatap pemandangan itu dengan mata berbinar lalu berkata “Jadi tadi kita nolongin mentilin tersesat juga ya, bukan cuma kita yang tersesat.”

Raka mengangguk “Iya, berarti kita sama – sama belajar, jangan panik kalau nyasar. Cari jalan dengan tenang dan jangan lupa bantu makhluk lain juga. Setidaknya kita menyelamatkan satwa yang di lindungi,” jawab Raka dengan bangga.

Setelah itu, mentilin besar mengeluarkan suara dan melompat ke arah semak.

Tak disangka, di sana ada jalan setapak kecil.

“Eh, ini jalur yang kita lewatin tadi siang!” seru Raka.

Mereka mengikuti jalan itu sambil tertawa lega. Tak lama, mereka melihat cahaya lampu tenda – tenda pramuka dari kejauhan.

“Alhamdulillah! Ketemu!” teriak Bagas sambil berlari.

Sesampainya di tenda, kakak pembina langsung menyambut mereka.

“Kalian ke mana saja? Semua panitia sudah mencari!”

“Kami nyasar, Kak” jawab Raka jujur, “tapi kami bantu seekor mentilin kecil yang terluka sampai ketemu keluarganya,”

Kakak pembina tersenyum “Mentilin? Wah, kalian beruntung, itu hewan langka khas Bangka. Berarti kalian baru saja dapat teman istimewa di Hutan Pelawan. Tindakan kalian menyelamatkan mentilin itu adalah bukti nyata. Kalau kalian benar -benar menjaga bumi. Hutan ini tetap lestari karena ada orang – orang seperti kalian yang peduli pada penghuninya.

Mereka bertiga pun bergegas pergi ke tenda dan membersihkan diri. Ini adalah kemah paling mengesankan bagi mereka bertiga. Raka, Dina, dan Bagas juga berharap semoga keluarga mentilin itu tetap sehat selalu dan aman dari bahaya apapun. (BP / KM)*

 

Catatan: Cerpen ini merupakan karya peserta FLS3N Tingkat Kecamatan Koba Tahun 2026 cabang menulis cerita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *