Oleh: Ahmad Raihan Ardana S, Ayub Siahaan, Bahrul Ulum, Farros Dwi Yulianto, Haliza Fiani Tastbita, Ilham Habibie Ma’ruf, dan Puput Dewi Haryani
Abstrak:
Fenomena keluarga dengan orang tua tunggal (single parent) semakin banyak dijumpai dalam masyarakat modern Indonesia akibat meningkatnya angka perceraian, kematian pasangan, dan pilihan hidup individu. Kondisi ini menyebabkan pergeseran dalam fungsi keluarga, di mana satu orang tua harus menjalankan peran ganda sebagai pencari nafkah sekaligus pengasuh anak. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis ketidakseimbangan fungsi keluarga dan tantangan sosial yang dihadapi oleh single parent, khususnya dalam konteks stigma sosial, tekanan psikologis, dan beban ekonomi. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi literatur, artikel ini mengungkap bahwa keberadaan single parent masih sering dipandang negatif dalam masyarakat patriarkal, yang memperberat beban emosional dan sosial individu yang bersangkutan. Temuan menunjukkan bahwa dukungan sosial, kebijakan publik yang inklusif, serta perubahan paradigma masyarakat menjadi kunci penting dalam menciptakan lingkungan yang mendukung ketahanan keluarga single parent dan perkembangan anak yang sehat.
Kata kunci: single parent, struktur sosial, stigma, peran ganda, fungsi keluarga
Pendahuluan
Perubahan sosial yang pesat dalam masyarakat modern telah membawa dampak besar terhadap struktur keluarga. Salah satu bentuk keluarga yang semakin umum ditemui adalah keluarga single parent atau orang tua tunggal. Single parent adalah kondisi di mana salah satu orang tua, baik ayah maupun ibu, harus menjalankan tanggung jawab mengasuh dan membesarkan anak tanpa kehadiran pasangan, biasanya disebabkan oleh perceraian, kematian, atau keputusan pribadi untuk mengasuh anak secara mandiri. Di Indonesia jumlah single parent paling banyak pada ibu tunggal daripada ayah tunggal. Hal ini dibuktikan dengan presentase ibu tunggal sebesar 14,84%, sangat jauh lebih besar daripada ayah tunggal yang hanya 4,05%. Hasil pendataan dari Badan Pusat Statistik terdiri dari 11.168.460 (5,8%) penduduk Indonesia berstatus janda, sedangkan 2.786.460 (1,4%) berstatus duda dari jumlah keseluruhan penduduk Indonesia sebanyak 191.709.144 jiwa (Pagarwati & Fauziah, 2020).
Single parent menghadapi tantangan besar dalam menjalani dua peran sekaligus, menjadi pencari nafkah, dan pengasuh anak. Mereka tidak hanya harus bekerja keras di luar rumah, tetapi juga tetap hadir secara emosional dan mendidik anak-anak di dalam rumah. Sebagai orang tua tunggal dituntut untuk mencurahkan waktu dan tenaganya untuk keluarga dalam memenuhi tugas dan kewajibannya dalam bekerja dan semua itu terkadang harus dilaksanakan dalam waktu yang sama. Status, peran, fungsi-fungsi dan prinsip keluarga juga akan mengalami pergeseran (Zirima, 2020). Dalam hal ini sering dikenal dengan sebutan sebagai peran ganda (multiple roles), di mana satu individu harus memenuhi beberapa peran sosial yang berbeda dalam waktu bersamaan. Ketika tidak ada pembagian peran dengan pasangan, potensi munculnya stres dan konflik peran pun meningkat.
Peran ganda ayah dan ibu yang berjalan seiring menjadi kunci bagi terciptanya keluarga yang harmonis dan berfungsi optimal. Partisipasi ayah dalam pengasuhan dan keterlibatan ibu dalam dunia kerja bukan hanya memperkuat aspek ekonomi keluarga, tetapi juga memberikan contoh model peran yang seimbang bagi anak-anak. Di tengah dinamika peran ganda yang dihadapi oleh single parent, tidak jarang muncul berbagai dampak sosial dan psikologis, baik bagi orang tua maupun anak-anak. Orang tua tunggal sering kali mengalami kelelahan fisik dan emosional akibat beban yang berat, serta kurangnya dukungan sosial dari lingkungan sekitar. Hal ini dapat berdampak pada kualitas hubungan antara orang tua dan anak, terutama dalam hal komunikasi, perhatian, dan kedekatan emosional. Anak yang dibesarkan dalam keluarga single parent juga berpotensi menghadapi tantangan perkembangan psikososial, seperti perasaan kehilangan, rendahnya harga diri, hingga kesulitan dalam penyesuaian sosial, terutama apabila mereka tidak memperoleh dukungan emosional yang memadai.
Namun demikian, banyak single parent yang berhasil menunjukkan ketahanan keluarga (family resilience) yang kuat. Dengan membangun jaringan sosial yang suportif, seperti bantuan dari keluarga besar, komunitas, hingga lembaga sosial, mereka mampu mengurangi tekanan peran dan meningkatkan kesejahteraan keluarga. Selain itu, peran negara dan kebijakan publik menjadi penting untuk memberikan perlindungan dan fasilitas pendukung, seperti cuti kerja, akses pendidikan, layanan kesehatan mental, dan program pemberdayaan ekonomi bagi orang tua tunggal.
Dalam konteks masyarakat Indonesia yang masih memegang teguh nilai-nilai patriarki dan norma keluarga tradisional, single parent terutama ibu tunggal masih kerap menghadapi stigma sosial. Hal ini bisa menghambat proses adaptasi sosial dan memperberat beban psikologis mereka. Oleh karena itu, perubahan cara pandang masyarakat terhadap keluarga non-tradisional menjadi penting. Edukasi publik, penguatan solidaritas sosial, dan kampanye kesetaraan peran gender merupakan langkah strategis untuk menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan mendukung keberagaman bentuk keluarga. Dengan demikian fenomena keluarga single parent bukan hanya isu individu, tetapi juga merupakan refleksi dari dinamika sosial yang menuntut respons adaptif dari berbagai pihak keluarga, masyarakat, dan negara guna memastikan terciptanya ketahanan keluarga dan tumbuh kembang anak yang optimal.
Metodelogi Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam artikel ini adalah studi literatur (library research), yaitu metode yang dilakukan dengan menelaah dan mengkaji berbagai sumber pustaka yang relevan untuk memahami fenomena single parent dalam struktur sosial. Sumber yang digunakan meliputi buku-buku ilmiah, artikel jurnal, laporan penelitian, data dari Badan Pusat Statistik (BPS), serta publikasi dari lembaga pemerintah dan non-pemerintah yang membahas isu keluarga, peran gender, dan dinamika sosial. Pendekatan ini bersifat deskriptif kualitatif, karena bertujuan untuk memberikan gambaran menyeluruh mengenai ketidakseimbangan fungsi keluarga dan tantangan stigma yang dihadapi oleh orang tua tunggal.
Dalam proses analisis, data dari berbagai literatur dikaji secara mendalam untuk menemukan pola, tema, dan pemahaman teoretis yang mendukung pembahasan. Peneliti melakukan seleksi dan sintesis informasi untuk merumuskan kesimpulan yang relevan dengan fokus kajian. Studi literatur ini tidak hanya mengungkap data statistik, tetapi juga membandingkan berbagai perspektif akademik tentang peran sosial, ketahanan keluarga, serta konstruksi stigma dalam masyarakat. Dengan demikian, hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi terhadap pengembangan kajian sosiologi keluarga dan memperkaya pemahaman tentang realitas sosial single parent di Indonesia.
Hasil dan Pembahasan
Fenomena single parent di Indonesia menunjukkan tren yang semakin meningkat seiring dengan dinamika sosial yang terus berkembang, seperti meningkatnya angka perceraian, pergeseran nilai-nilai keluarga, serta tantangan ekonomi dan budaya. Dalam bagian ini pembahasan akan difokuskan pada bagaimana kondisi keluarga single parent memengaruhi struktur sosial, fungsi keluarga, dan kehidupan psikososial baik bagi orang tua maupun anak. Kajian ini tidak hanya menyoroti aspek statistik dan fakta empiris, tetapi juga menelaah dinamika sosial dan kultural yang membentuk pengalaman serta tantangan yang dihadapi oleh single parent. Melalui pendekatan sosiologis khususnya dengan meninjau teori-teori tentang peran sosial, konflik, dan ketimpangan gender, bagian ini bertujuan memberikan pemahaman yang lebih mendalam dan menyeluruh terhadap realitas kehidupan keluarga tunggal di tengah masyarakat Indonesia.
1. Konsep dan Realitas Single Parent
Single parent atau orang tua tunggal adalah seseorang yang menjalankan peran sebagai satu-satunya pengasuh dalam keluarga. Kondisi ini bisa terjadi karena berbagai alasan, seperti perceraian, meninggalnya pasangan, atau keputusan pribadi untuk membesarkan anak tanpa pasangan. Di Indonesia, fenomena keluarga single parent semakin meningkat seiring dengan perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat modern. Faktor utama yang menyebabkan terbentuknya keluarga tunggal ini biasanya adalah perceraian, kematian pasangan, atau pilihan hidup tertentu di mana salah satu orang tua memutuskan untuk membesarkan anak secara mandiri.
Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020, jumlah ibu tunggal di Indonesia jauh lebih banyak dibandingkan ayah tunggal. Persentase ibu tunggal mencapai hampir 15%, sementara ayah tunggal hanya sekitar 4%. Hal ini menunjukkan bahwa dalam budaya dan kebiasaan masyarakat Indonesia, ibu lebih sering memegang peran utama dalam mengasuh anak, terutama ketika keluarga mengalami perubahan akibat perceraian atau kematian. Tren ini juga menandakan adanya perubahan struktur keluarga di Indonesia, dari yang sebelumnya didominasi oleh keluarga inti dengan dua orang tua, kini semakin banyak ditemukan keluarga yang hanya dipimpin oleh satu orang tua (BPS, 2020).
2. Struktur Sosial dan Kedudukan Single Parent
Dalam konteks sosial di Indonesia, keluarga single parent memiliki posisi yang cukup unik dan menghadapi berbagai tantangan. Transformasi dari keluarga inti menjadi keluarga tunggal membawa dampak yang cukup besar terhadap status sosial dan kondisi ekonomi keluarga tersebut. Orang tua tunggal harus menjalankan dua peran sekaligus, yaitu sebagai pencari nafkah dan pengasuh anak, yang sering kali menimbulkan tekanan baik secara psikologis maupun sosial. Dalam masyarakat, terutama ibu tunggal kerap kali mendapatkan pandangan yang berbeda dan terkadang mengalami stigma atau diskriminasi.
Dari segi ekonomi, keluarga dengan satu orang tua biasanya lebih rentan mengalami kesulitan finansial karena hanya mengandalkan satu sumber penghasilan. Faktor gender juga sangat berpengaruh, di mana ibu tunggal cenderung menanggung beban ganda, baik dalam hal pengasuhan maupun pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga. Penelitian oleh Rahmawati dan Nugroho (2020) menekankan pentingnya pembagian peran yang seimbang antara ayah dan ibu dalam keluarga. Namun, pada keluarga single parent, pembagian peran ini tidak terjadi sehingga beban yang harus ditanggung menjadi lebih berat. Oleh karena itu, dukungan sosial dari lingkungan sekitar sangat penting agar orang tua tunggal dapat menjalankan perannya dengan lebih baik.
3. Ketidakseimbangan Fungsi Keluarga
Keluarga yang hanya dipimpin oleh satu orang tua mengalami perubahan fungsi yang cukup signifikan dibandingkan keluarga dengan dua orang tua. Orang tua tunggal harus memenuhi semua fungsi keluarga secara mandiri, mulai dari aspek ekonomi, kasih sayang, sosialisasi, hingga perlindungan. Kondisi ini menyebabkan ketidakseimbangan dalam menjalankan fungsi keluarga, di mana waktu dan tenaga orang tua tunggal terbagi antara memenuhi kebutuhan ekonomi dan memberikan perhatian emosional kepada anak-anak.
Menurut penelitian Sari dan Hadi (2021), orang tua tunggal sering mengalami tekanan psikologis yang cukup tinggi akibat tanggung jawab ganda yang harus mereka jalani tanpa adanya dukungan dari pasangan. Hal ini berpotensi memengaruhi kesehatan mental mereka dan juga pola pengasuhan terhadap anak. Selain itu, Wulandari dan Putri (2022) menyatakan bahwa anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga single parent berisiko mengalami kesulitan dalam perkembangan psikologis, pendidikan, dan sosial apabila tidak mendapatkan pengasuhan yang seimbang. Keterbatasan waktu dan sumber daya menjadi tantangan utama, sehingga dukungan dari keluarga besar, lingkungan sekitar, dan kebijakan pemerintah sangat dibutuhkan agar anak-anak tetap mendapatkan pengasuhan yang berkualitas.
4. Tantangan Psikologis dan Sosial
Menjadi single parent bukan hanya menghadirkan tantangan dalam hal ekonomi dan pengasuhan, tetapi juga membawa beban psikologis dan sosial yang tidak ringan. Orang tua tunggal sering kali mengalami tekanan emosional akibat harus menjalani peran ganda, yaitu sebagai pencari nafkah dan sekaligus pengasuh anak. Ketidakhadiran pasangan dalam berbagi tanggung jawab menyebabkan single parent harus menghadapi berbagai situasi sulit secara sendiri, seperti mengelola keuangan keluarga, menghadapi masalah anak, hingga mengambil keputusan penting tanpa dukungan emosional dari pasangan. Tekanan ini dapat memicu stres berkepanjangan, kelelahan mental, kecemasan, hingga depresi, terutama ketika dukungan sosial dari lingkungan sekitar sangat minim.
Selain itu juga tantangan sosial juga muncul dalam bentuk pengucilan, penilaian negatif, serta keterbatasan dalam berpartisipasi di lingkungan masyarakat. Single parent, khususnya perempuan, sering kali mendapatkan perlakuan berbeda yang didasari oleh stereotip dan prasangka. Mereka dianggap tidak mampu mendidik anak dengan baik, atau dipandang sebagai ancaman terhadap tatanan sosial yang ideal. Dalam banyak kasus, kondisi ini menyebabkan para single parent menarik diri dari pergaulan, merasa malu, atau mengalami kesulitan dalam membangun jaringan sosial baru. Isolasi sosial tersebut semakin memperparah kondisi psikologis dan menghambat proses pemulihan pasca kehilangan pasangan. Orang tua tunggal dapat menghadapi berbagai tekanan psikologis dan sosial yang signifikan akibat peran ganda yang mereka jalani seperti:
Tekanan dan Stres Peran
Single parent sering kali mengalami tekanan emosional yang tinggi karena harus memenuhi peran sebagai pencari nafkah sekaligus pengasuh anak. konflik antara peran pekerjaan dan keluarga, yang dikenal sebagai work-family conflict, dapat menyebabkan stres yang signifikan pada individu, terutama bagi mereka yang tidak memiliki dukungan pasangan.
Konflik Peran Akibat Beban Ganda
Konflik peran terjadi ketika tuntutan dari pekerjaan dan keluarga saling bertentangan, membuat individu kesulitan untuk memenuhi keduanya secara optimal. Studi oleh Kartika Widiningtyas (2022) mengungkapkan bahwa ibu bekerja sering mengalami konflik peran ganda, yang berdampak pada keseimbangan kehidupan kerja dan keluarga.
Kesulitan dalam Pengasuhan dan Pembagian Waktu
Pembagian waktu antara pekerjaan dan pengasuhan anak menjadi tantangan tersendiri bagi single parent. Penelitian oleh Hanim (2018) menekankan bahwa ibu tunggal yang bekerja menghadapi kesulitan dalam membagi waktu dan perhatian antara pekerjaan dan kebutuhan anak-anak mereka.
5. Stigma Sosial terhadap Single Parent
Stigma sosial terhadap single parent, khususnya di masyarakat Indonesia, masih menjadi persoalan serius yang memengaruhi kehidupan sosial dan psikologis individu yang bersangkutan. Dalam masyarakat yang menjunjung tinggi norma keluarga inti yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak, keluarga tunggal sering kali dipandang sebagai bentuk penyimpangan dari ideal budaya yang berlaku. Single parent, terutama ibu tunggal, kerap kali diidentikkan dengan citra negatif, seperti dianggap “gagal dalam berumah tangga”, “tidak mampu menjaga keharmonisan keluarga”, bahkan dalam beberapa kasus dipandang sebagai ancaman terhadap moral masyarakat. Pandangan tersebut memperkuat stereotip dan mempersempit ruang gerak sosial para orang tua tunggal, sehingga mereka menghadapi tekanan sosial yang berlapis.
Stigma ini juga dapat berwujud dalam perlakuan diskriminatif, baik secara langsung maupun terselubung. Misalnya, dalam lingkungan kerja, ibu tunggal sering kali dianggap tidak seproduktif pekerja lainnya karena dianggap memiliki beban domestik yang besar. Di lingkungan pendidikan anak, status orang tua tunggal kadang menimbulkan penilaian miring terhadap anak-anak mereka, seolah-olah anak dari single parent kurang perhatian atau akan bermasalah secara sosial. Stigma ini tidak hanya menghambat proses adaptasi sosial para single parent, tetapi juga dapat berdampak pada harga diri, rasa percaya diri, serta relasi sosial mereka. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk mulai membangun perspektif yang lebih inklusif terhadap berbagai bentuk keluarga, dan mengakui bahwa keberhasilan membesarkan anak tidak semata ditentukan oleh keberadaan dua orang tua, melainkan oleh kualitas pengasuhan dan lingkungan sosial yang mendukung.
6. Dukungan Sosial dan Kebijakan Publik
Dukungan sosial dan kebijakan publik memegang peran penting dalam membantu single parent menghadapi berbagai tantangan yang mereka alami, baik dalam aspek psikologis, sosial, maupun ekonomi. Dukungan sosial dapat berasal dari keluarga besar, teman, tetangga, komunitas, hingga lembaga sosial. Kehadiran jaringan sosial yang suportif memberikan ruang bagi single parent untuk berbagi beban emosional, memperoleh bantuan praktis dalam pengasuhan anak, serta merasa diterima dalam lingkungannya. Sayangnya, dalam banyak kasus di Indonesia, dukungan sosial terhadap single parent masih terbatas dan bersifat tidak merata. Stigma yang sudah melekat dalam masyarakat sering kali membuat lingkungan enggan terlibat atau justru memperkuat tekanan sosial yang ada.
Di sisi lain peran negara melalui kebijakan publik juga menjadi sangat krusial dalam menciptakan sistem perlindungan dan pemberdayaan bagi keluarga tunggal. Namun dapat dilihat hingga saat ini belum banyak kebijakan yang secara spesifik menyasar kebutuhan single parent, baik dalam bentuk bantuan ekonomi, layanan psikologis, maupun akses pendidikan dan kesehatan anak. Program perlindungan sosial seperti bantuan langsung tunai, jaminan kesehatan, atau subsidi pendidikan belum sepenuhnya menjangkau atau mempertimbangkan kondisi unik yang dialami oleh single parent. Meskipun ada beberapa program bantuan sosial, kebijakan publik yang secara khusus mendukung keluarga tunggal masih terbatas. Penelitian oleh Hakim et al. (2018) menekankan pentingnya kebijakan yang mendukung fleksibilitas kerja, subsidi perawatan anak, dan akses pendidikan bagi single parent.
Dukungan sosial dan kebijakan publik memainkan peran penting dalam membantu single parent menjalani peran mereka. Maka dari itu penting bagi pemerintah untuk merumuskan kebijakan yang inklusif dan responsif gender, yang tidak hanya memberikan bantuan materiel tetapi juga memperkuat kapasitas emosional dan sosial single parent. Selain itu, sinergi antara lembaga negara, organisasi masyarakat sipil, dan komunitas lokal perlu dibangun untuk menciptakan ekosistem sosial yang mendukung ketahanan keluarga tunggal secara berkelanjutan.
7. Analisis Teoretis Sosiologis: Teori Konflik
Untuk memahami fenomena single parent dalam struktur sosial, diperlukan pendekatan analisis teoretis sosiologis yang mampu menjelaskan bagaimana posisi, peran, dan tantangan yang dihadapi oleh keluarga tunggal terbentuk dan berkembang dalam masyarakat. Salah satu pendekatan yang relevan adalah teori fungsionalisme struktural yang menekankan pentingnya keteraturan dan keseimbangan dalam struktur sosial termasuk institusi keluarga. Dalam pandangan ini, keluarga dipandang memiliki fungsi penting seperti sosialisasi anak, perlindungan, afeksi, dan reproduksi sosial. Ketika salah satu orang tua tidak ada, maka fungsi-fungsi ini menjadi tidak seimbang, sehingga berpotensi mengganggu stabilitas sosial dan perkembangan anak. Single parent, dalam konteks ini, dianggap sebagai bentuk disfungsi yang harus ditangani agar tatanan sosial tetap berjalan harmonis.
Namun perspektif fungsionalisme juga perlu dilengkapi dengan perspektif teori konflik, yang melihat kondisi single parent sebagai akibat dari ketimpangan struktural, terutama dalam hal gender dan ekonomi. Dalam konteks keluarga single parent teori konflik memberikan kerangka analisis yang menyoroti ketimpangan struktural dan ketidakadilan sosial yang dihadapi oleh orang tua tunggal, terutama perempuan. Ketimpangan ini mencakup beban ganda sebagai pencari nafkah dan pengasuh anak, serta terbatasnya akses terhadap sumber daya seperti pekerjaan layak, layanan kesehatan mental, dan subsidi pengasuhan anak.
Perempuan yang menjadi mayoritas single parent, sering kali menghadapi beban berlapis karena ketidaksetaraan peran dan akses terhadap sumber daya. Pandangan ini mengungkap bahwa struktur sosial tidak netral, tetapi cenderung melanggengkan dominasi kelompok tertentu, dalam hal ini laki-laki sebagai pemegang otoritas dalam keluarga. Menurut Coser, konflik dalam keluarga dapat muncul akibat ketidakseimbangan peran dan tanggung jawab yang tidak merata, yang sering kali dialami oleh single parent dalam menjalankan fungsi keluarga secara mandiri. Ketimpangan ini diperkuat oleh struktur sosial yang patriarkal, di mana peran ibu tunggal sering kali dianggap menyimpang dari norma keluarga ideal, sehingga menimbulkan stigma negatif seperti “tidak utuh” atau “gagal”. Dominasi budaya mayoritas mempertahankan struktur keluarga inti sebagai norma dominan, yang pada akhirnya memperkuat marginalisasi terhadap keluarga single parent.
Sementara itu, pendekatan interaksionisme simbolik menjelaskan bagaimana status single parent dibentuk melalui proses interaksi sosial dan konstruksi makna. Label seperti “janda” atau “duda” tidak hanya sekadar identitas, tetapi membawa konsekuensi sosial tertentu yang memengaruhi cara individu berperilaku, diterima, dan diperlakukan dalam masyarakat. Melalui lensa interaksionisme stigma sosial terhadap single parent dapat dipahami sebagai hasil dari simbol dan makna negatif yang terus direproduksi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian tantangan yang dihadapi oleh single parent bukan hanya persoalan individu, melainkan berkaitan erat dengan struktur sosial yang timpang dan belum berpihak pada keadilan sosial serta kesetaraan gender.
8. Rekomendasi dan Solusi
Untuk mengatasi tantangan yang dihadapi oleh single parent, pendekatan solutif harus dilakukan secara sistemik, mencakup perubahan sikap masyarakat, reformasi kebijakan, dan penguatan kapasitas orang tua tunggal.
a. Edukasi Masyarakat untuk Mengurangi Stigma
Melakukan kampanye publik yang berkelanjutan untuk membangun pemahaman bahwa single parent adalah bentuk keluarga yang sah dan sering kali terbentuk karena keadaan di luar kendali individu.
Lembaga pendidikan, media, dan organisasi masyarakat sipil dapat berperan aktif dalam mengubah cara pandang masyarakat terhadap keluarga tunggal, termasuk menghapus label-label negatif yang merugikan.
b. Penyusunan Kebijakan yang Berpihak pada Keluarga Tunggal
Merancang kebijakan yang lebih inklusif, seperti cuti kerja untuk orang tua tunggal, subsidi pendidikan dan kesehatan bagi anak-anak mereka, serta jaminan perlindungan sosial bagi ibu/ayah tunggal berpenghasilan rendah.
Evaluasi undang-undang ketenagakerjaan agar mendukung fleksibilitas kerja bagi single parent, khususnya perempuan yang bekerja sambil mengasuh anak.
c. Pemberdayaan Ekonomi dan Akses Bantuan Psikososial
Mengembangkan program pelatihan keterampilan kerja, bantuan modal usaha, dan akses lapangan kerja yang ramah keluarga agar single parent dapat mandiri secara ekonomi.
Menyediakan layanan konseling psikologis gratis atau bersubsidi yang dapat membantu orang tua tunggal menghadapi tekanan emosional dan menjaga kesehatan mental mereka.
Kesimpulan
Fenomena single parent merupakan konsekuensi dari perubahan sosial yang tidak bisa dihindari dalam masyarakat modern, termasuk di Indonesia. Keberadaan keluarga tunggal ini menjadi refleksi dari dinamika struktur sosial yang kompleks sekaligus menantang konstruksi tradisional tentang keluarga ideal. Dalam konteks masyarakat Indonesia yang masih dominan memegang nilai-nilai patriarki, single parent terutama perempuan tidak hanya menghadapi beban peran ganda sebagai pencari nafkah dan pengasuh anak, tetapi juga harus berhadapan dengan stigma sosial yang sering kali merendahkan martabat dan kapabilitas mereka. Ketidakseimbangan fungsi dalam keluarga single parent muncul karena ketiadaan pembagian peran antara ayah dan ibu, yang berdampak langsung pada kesejahteraan psikologis orang tua maupun tumbuh kembang anak. Orang tua tunggal rentan mengalami kelelahan fisik dan emosional, sementara anak-anak berpotensi menghadapi tantangan dalam hal perkembangan emosional, sosial, dan pendidikan apabila tidak didukung oleh sistem yang memadai.
Meski demikian, tidak sedikit single parent yang menunjukkan ketahanan dan kemampuan adaptif yang luar biasa dalam menghadapi keterbatasan. Dengan adanya dukungan dari keluarga besar, komunitas, serta lembaga sosial, mereka dapat menciptakan lingkungan yang aman dan suportif bagi anak-anaknya. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas keluarga tidak semata-mata ditentukan oleh struktur (utuh atau tidaknya keluarga), tetapi oleh kualitas pengasuhan, relasi emosional, serta lingkungan sosial yang mendukung. Untuk menciptakan masyarakat yang lebih adil dan inklusif, perubahan struktural dan kultural sangat diperlukan. Negara memiliki peran penting dalam membentuk kebijakan publik yang berpihak pada keluarga tunggal seperti penyediaan layanan konseling, program kesejahteraan ekonomi, subsidi pendidikan, dan fleksibilitas kerja bagi orang tua tunggal. Selain itu, transformasi budaya juga perlu didorong melalui edukasi masyarakat dan kampanye kesetaraan gender guna menghapus stigma dan diskriminasi terhadap single parent. Dengan demikian dapat dilihat bahwa single parent bukan sekadar fenomena individual, melainkan realitas sosial yang membutuhkan perhatian kolektif. Tanggung jawab untuk menciptakan lingkungan yang mendukung keberhasilan dan kesejahteraan keluarga tunggal harus diemban bersama oleh negara, masyarakat, dan seluruh aktor sosial.
Daftar Pustaka
Agustina, T. (2022). Strategi single mother dalam memenuhi kebutuhan sosial dan ekonomi keluarga di Desa Mangunjaya Tambun Selatan (Skripsi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta). https://repository.uinjkt.ac.id
Asriyani, S., Kamil, N., Maryani, A., Mufida, A. Y., & Diana, R. R. (2023). Pola asuh single mom dan single dad terhadap perkembangan sosial emosional anak. Murhum: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 4(2), 476–488. https://doi.org/10.37985/murhum.v4i2.227
Badan Pusat Statistik. (2020). Statistik keluarga: Data tentang ibu tunggal dan ayah tunggal di Indonesia. Jakarta: BPS.
Loupatty, A. G. F., & Kusumiati, R. Y. E. (2024). Gambaran work-family conflict pada ibu single parent. Jurnal Cakrawala Ilmiah, 3(10), 2769–2782.
Muslihat, M., & Listiana, A. (2021). The single parent’s parenting style. Proceedings of the 5th International Conference on Early Childhood Education (ICECE 2020), Advances in Social Science, Education and Humanities Research, 538, 140–143. https://doi.org/10.2991/assehr.k.210322.030
Nisa, A. (2024). Ajaran resiliensi dalam kisah al-Qur’an dan urgensinya bagi single mother era modern: Kajian tematik QS Al-Qashash [28]: 7–13. Islamika: Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman, 24(1), 85–102.
Noviandari, H., & Rini, G. E. (2023). Perceraian dan peran single parent perempuan di Kabupaten Banyuwangi. Bimbingan dan Konseling Banyuwangi, 2(1), 1–7. https://doi.org/10.36526/js.v3i2.695
Nuzula, K. F., & Rizkiantono, R. E. (2021). Perancangan kampanye mengurangi stigma terhadap ibu tunggal akibat perceraian. Jurnal Sains dan Seni ITS, 10(1), F56–F63.
Pagarwati, A. D. L., & Fauziah, P. Y. (2020). Profil pendidikan karakter anak dengan pengasuhan orang tua tunggal (single parent). Jurnal Anak Usia Dini dan Pendidikan Anak Usia Dini, 6(2), 68–81. http://dx.doi.org/10.30651/pedagogi.v6i2.5183
Putri, L. U., & Suryaningsih, S. (2024). Strategi kemandirian ibu tunggal di Kelurahan Kijang Kota Kecamatan Bintan Timur Kabupaten Bintan. Jurnal Penelitian Ilmu Sosial dan Eksakta, 3(2), 200–206.
Rahmawati, D., & Nugroho, A. (2020). Studi mengenai pembagian tugas dalam keluarga, khususnya pada keluarga single parent di Indonesia. Jurnal Psikologi Sosial, 15(2), 134–145.
Sari, M., & Hadi, R. (2021). Bagaimana tekanan psikologis memengaruhi orang tua tunggal dan dampaknya terhadap cara mereka mengasuh anak. Jurnal Kesejahteraan Keluarga, 9(1), 45–58.
Sitorus, Y. N. (2023). Gambaran konflik peran ganda pada wanita yang bekerja sebagai karyawan pemetik daun teh di Perkebunan Bah Butong. [Artikel tidak diterbitkan].
Suharto, E. (2010). Analisis kebijakan publik: Panduan praktis mengkaji masalah dan kebijakan sosial. Bandung: Alfabeta.
Suri, K. A., Saptaningtyas, H., & Arif, A. (n.d.). Stigma negatif masyarakat terhadap single parents di komunitas perempuan kepala keluarga Mojosongo. [Artikel tidak diterbitkan].
Widiningtyas, K. (2022). Dinamika konflik peran ganda ibu bekerja yang menjalani dual earner family. Psyche: Jurnal Psikologi, 4(2), 202–218.
Zirima, H. (2020). Father absence and sexual partner preference amongst women in Masvingo Urban, Zimbabwe. Global Journal of Psychology Research: New Trends and Issues, 10(2), 140–153. https://doi.org/10.18844/gjpr.v10i2.4835












