SMK Negeri 1 Muntok Dorong Kebangkitan Jiwa Kebangsaan: Dari Ruang Kelas, dari Pantai Batu Rakit, dari Denyut Sejarah yang Tak Boleh Padam

 

Laporan : Belva

Bekaespedia.com, Mentok, Bangka Barat — Ada satu hari di mana sebuah sekolah menengah di Bangka Barat memutuskan untuk berhenti menjadi sekadar institusi pendidikan biasa. Di SMK Negeri 1 Mentok Pal 8 Desa Air Belo, jiwa kebangsaan tidak sedang diajarkan sebagai bab pelajaran panjang yang harus dihafal untuk ujian. Ia sedang dirawat seperti api kecil yang harus ditiup perlahan agar kembali menyala, agar kembali menjadi cahaya.

Jumat (07/11/2025), Koramil 431-02/Mentok datang ke sekolah ini. Mereka tidak membawa pistol, tidak membawa logistik militer, tidak membawa amunisi. Tetapi mereka membawa sesuatu yang jauh lebih berbahaya sekaligus jauh lebih berat yaitu memori bangsa.

Di hadapan 656 pelajar dan 56 guru serta staf SMK Negeri 1 Muntok, para Babinsa berdiri, bukan sebagai tentara yang berperang di medan, tetapi sebagai penjaga nilai. Ada Serma Roemyi, Sertu Suryadi, Sertu Agus P, Sertu Erwin Marpaung, dan Sertu Sabaryanto. Dengan suara yang tegas namun tenang, mereka tidak sedang mengajarkan teori. Mereka sedang mengajak anak-anak muda merasakan kembali denyut jantung Indonesia.

Mereka membawakan materi Wawasan Kebangsaan dengan mengambil subtema “Cinta Tanah Air, Nilai Kepahlawanan, dan Kedisiplinan dalam Kehidupan Sehari-hari”.

“Semangat cinta tanah air harus diwujudkan dalam tindakan nyata, belajar sungguh, disiplin, menghormati guru dan orang tua, serta menjauhi pergaulan negatif,” kata Serma Roemyi.

Kalimat itu seperti petir kecil yang jatuh ke hati pelajar. Bagi banyak orang dewasa, kata-kata seperti itu terdengar klise. Tetapi di telinga sebuah bangsa yang sedang kehilangan arah, klise adalah obat. Sebab bangsa ini pernah hampir tumbang hanya karena kita lupa memegang ulang apa itu Indonesia.

Plt. Kepala SMK Negeri 1 Muntok, Hasdiah, S.Pd.Ing., M.M., mengaku kegiatan Wawasan Kebangsaan (Wasbang) ini merupakan bagian dari pelaksanaan kurikulum yang bisa diintegrasikan bukan hanya dalam mata pelajaran tetapi melalui kegiatan kokurikuler yang sedang dilaksanakan pada semester ini. Melalui “gerakan diam” kami berusaha menanamkan karakter bangsa untuk mewujudkan nilai-nilai luhur Pancasila sebagai identitas kebangsaan dengan jalur pendidikan yang manusiawi”.

“Kami ingin siswa betul-betul merasakan bahwa cinta tanah air bukan sebuah slogan tetapi melalui materi wawasan kebangsaan ini mampu menyentuh batin, bukan sekedar mata pelajaran,” tambahnya.

Kegiatan Kokurikuler yang dilaksanakan di SMK Negeri 1 Muntok ini merupakan program perdana pada semester ini setelah dilaunchingnya Kurikulum Nasional dengan pendekatan Pembelajaran Mendalam. Salah satu agenda kegiatan tersebut adalah mengantarkan para pelajar untuk lebih memahami dan mewujudkan nilai kebangsaan dengan merangkul instansi Koramil 431-02/Mentok. Sabtu, Minggu, Senin hingga seminggu ke depan, nilai itu tidak berhenti. Pada Senin (10/11/2025), sekolah ini kembali memperdalam pembelajaran sejarah bangsa khususnya jejak Mentok, kota sejarah tempat para pemimpin bangsa dulu pernah menulis bab memori yang menghubungkan nasionalisme dan identitas manusia Indonesia dan sekolah ini tidak berjalan sendiri.

SMK Negeri 1 Muntok juga bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bangka Barat. Tujuan utamanya adalah membangun kebangsaan bukan hanya lewat teks buku pelajaran sejarah, tetapi melalui identitas lokal tanah kelahiran itu sendiri.

“Kami ingin siswa-siswi kami peduli terhadap daerahnya salah satunya dengan cara mempromosikan wisata daerah. Kebangsaan juga tumbuh dari rasa bangga terhadap rumah sendiri,” ujar PLt. SMK Negeri 1 Muntok lagi.

Puncak kegiatan Kokurikuler ini pada hari Kamis, 13 November 2025. Sekolah ini akan menggelar napak tilas sejarah dari Pantai Batu Rakit menuju Pantai Baru lalu kembali lagi ke Batu Rakit. Siswa-siswi kelas 10 dan 11 akan mengenakan pakaian perjuangan. Berpakaian seperti laskar rakyat, pejuang masa revolusi, dan ada yang akan membawa simbol-simbol perjuangan Bangka.

Sementara siswa-siswi kelas 12 melakukan aksi Peduli Lingkungan dengan mewujudkannya melalui kegiatan bersih sampah yang terserak di garis pantai “Cinta Lingkungan” demikian subtema yang diusung. Semangat kebangsaan bukan hanya soal mengingat masa lalu, tetapi menjaga tanah, menjaga pasir, menjaga laut tempat bangsa ini berdiri kemarin, hari ini dan yang akan datang. Dengan kegiatan bersih sampah di garis pantai merupakan pengejahwantahan dari nilai-nilai cinta tanah air, gotong-royong dan persatuan, tanggung jawab sosial dan moral, menjaga kedaulatan dan keberlanjutan alam Indonesia serta mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila. Ini yang terkadang tidak terpikirkan oleh kita semua. Merupakan kegiatan yang patut dicontoh untuk semua sekolah yang ada di Bangka Barat pada khususnya.

Jika engkau merapat ke SMK Negeri 1 Mentok hari itu, engkau tidak akan melihat poster megah nasionalisme seperti museum besar. Engkau melihat anak-anak sekolah biasa: sepatu masih ada yang kotor bekas hujan tanah kemarin. Ransel tak semuanya rapi. Tapi di dalam dada mereka, ada perubahan dalam makna kebangsaan.

Beberapa pelajar mengaku baru kali itu benar-benar mengerti bahwa sejarah Mentok tidak hanya nama tempat. Ia adalah ruang memori bangsa.

Seorang siswa kelas 11 berkata pelan namun tegas:

“Saya baru sadar Mentok bukan sekadar daerah kecil. Di sini ada sejarah panjang bangsa. Saya merasa saya sedang belajar tentang diri saya sendiri juga.”

Ada yang matanya berkaca. Ada yang tersenyum. Mereka baru tersadar bahwa menjadi Indonesia bukan sekadar pengakuan formal di KTP. Menjadi Indonesia adalah tugas, panggilan, identitas. Mereka sedang belajar kembali menanggung identitas itu.

Sementara itu, siswa kelas 12 merasa kegiatan napak tilas itu menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini.

“Indonesia juga ada pada laut dan pasir yang kita jaga bersama,” kata seorang siswa kelas 12 dengan bangga.

Kalimat itu mungkin paling sederhana, tetapi layaknya senjata yang langsung menghujam pada titik jantung.

Karena selama ini kita terlalu banyak bicara soal negeri ini hanya di tataran wacana. Namun siswa-siswi SMK Negeri 1 Muntok sedang kembali menemukan Indonesia bukan melalui ceramah politik, tetapi melalui tindakan kecil sehari-hari yaitu mengingat perjuangan, merawat pantai, menjaga tanah, dan belajar sungguh-sungguh.

Ada banyak sekolah di negeri ini. Tetapi tidak semua sekolah punya keberanian menjadi tempat baru untuk menumbuhkan jiwa bangsa. SMK Negeri 1 Muntok adalah salah satu yang memilih melakukannya melalui serangkaian kegiatan nyata, bukan acara seremonial tanpa roh.

Mereka mengundang TNI bukan untuk menakut-nakuti pelajar, tetapi untuk menyuntikkan memori sejarah ke jiwa anak. Mereka bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan bukan untuk pencitraan, tetapi untuk mengangkat kembali kebanggaan terhadap tanah tempat mereka berdiri.

Mereka mengajak pelajar berjalan di pasir Batu Rakit bukan sebagai wisata, tetapi sebagai ritual mengingat bangsa.

Ini adalah cara modern menanamkan sejarah. Tidak lagi hanya buku bab dan hafalan. Tetapi pengalaman sejarah yang hidup: yang berjalan pada topangan kaki, yang diserap melalui bola mata, yang menggigil pada pori-pori kulit, yang menyentuh pada relung jiwa.

Inilah sekolah yang sedang menghidupkan kembali nilai “kebangsaan” bukan sebagai teori, tetapi sebagai karakter.

Di SMK Negeri 1 Muntok, kebangsaan bukan slogan. Bukan pidato. Bukan poster. Kebangsaan adalah proses panjang membentuk manusia, membentuk karakter untuk mewujudkan nilai-nilai luhur Pancasila.

Sementara banyak orang dewasa hari ini kehilangan definisi kebangsaan karena perang egonya sendiri, anak-anak muda di sekolah ini sedang belajar hal paling penting: bahwa bangsa ini pernah diperjuangkan oleh manusia biasa seperti mereka.

Jika pada akhirnya mereka tumbuh menjadi generasi yang tahu apa artinya tanah air, maka bangsa ini bisa bernapas lebih lama lagi.

Melalui kegiatan kokurikuler dengan materi wawasan kebangsaan ini, SMK Negeri 1 Muntok diam-diam sedang menjadi tempat kelahiran kembali sebuah bangsa, yaitu Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *