Sungai yang Mengecil Di Desa Kace

Oleh : Nayla Aprilia (Siswa SDN 20 Mendobarat)

Dulu, Desa Kace adalah tempat yang selalu membuat Lano merasa seperti pahlawan kecil di film-film petualangannya sendiri. Sungainya lebar, airnya jernih, dan tepian sungai dipenuhi pohon-pohon besar yang menjadi tempat ia dan sahabat-sahabatnya berteduh ketika matahari terlalu terik.

Setiap sore, suara tawa mereka memantul di antara pepohonan, mengalir bersama bunyi gemericik air yang berlari tanpa hambatan.

Namun, semua itu kini berubah. Sungai yang dulu menjadi jalur petualangan Lano perlahan mengecil, membentuk permukaan baru tempat rumah-rumah baru dibangun, seolah sungai itu sedang tercekik dan sekarang sekarat. Lano sering bertanya-tanya, dalam hati “Apa sungai kita sedih? Apa dia marah?”

Suatu sore, seusai pulang sekolah Lano bergegas menuju tepi sungai dengan membawa tas kecil berisi buku gambar. la ingin menggambar sungai seperti dulu, setidaknya dari ingatan.

Di sana sudah ada dua sahabatnya: Meli dan Jaru. Keduanya duduk di atas batu besar yang kini tingginya menyamai bibir sungai. Dulu, batu itu dulunya terendam, tapi kini seluruh tubuhnya tampak seperti bukit mini di tengah tanah yang mengering.

“Lano lihat ini!” kata Meli sambil menunjuk ke arah aliran air yang sangat kecil.

“Ini lebih parah dari kemarin. Alirannya kayak benang.” tambahnya lagi.

“Orang-orang bilang mau ada pembangunan lagi di sebelah sana.” tambah Jaru sambil menunjuk sisi barat sungai.

“Mereka mau timbun buat bikin rumah baru.”

Lano memandang sungai itu lama, dadanya terasa sesak. Sungai itu bukan sekadar tempat bermain. Baginya, sungai adalah bagian dari masa kecilnya, temannya, bahkan gurunya tentang alam.

Ketiga anak itu terdiam, hanya suara gesekan plastik dari sampah yang terseret angin yang terdengar.

Hari itu, hujan turun lebih cepat dari biasanya. Deras, seperti tumpahan langit yang marah. Alurnya tak lagi mampu menampung debit air yang besar, sehingga air mulai meluap ke kiri dan kanan

Rumah-rumah yang di area yang dulu merupakan resapan sungai mulai tergenang.

Teriakan panik terdengar di mana-mana. “Air masuk! Cepat angkat barang!” teriak seseorang.

Lano yang tinggal di bagian yang lebih tinggi melihat semuanya dari jendela rumahnya. Hatinya berdebar cepat.

la mengambil jas hujan dan berlari keluar menembus hujan. la melihat Meli dan Jaru juga sudah ada di luar rumah. Wajah mereka tegang.

“Kita harus bantu warga angkat barang!” kata Lano tanpa ada persetujuan.

Bertiga, mereka membantu warga angkat barang. Meli membantu seorang nenek membawa tas dan pakaian. Jaru membantu bapaknya menutup pintu agar air tak cepat masuk. Sedangkan Lano membantu mengangkat barang-barang yang mudah hanyut.

Keesokan harinya, warga berkumpul di balai desa membahas kejadian kemarin.

“Kalau begini terus nanti sungai kita mati.”

“Kita harus kasih tahu petualangan kita, kata Meli.

“Iya, kita harus kasih tahu tentang bagaimana penting menjaga sungai,” tambah Jaru.

“Biar orang-orang tahu,” lanjut Lano.

Mereka bertiga maju ke depan balai desa.

“Permisi, kami mau cerita,” kata Lano dengan suara lirih namun sopan.

Warga di balai desa mengangguk pelan, anak-anak saja bisa melihat kerusakan dari dulu.

Bapak tukang bangunan berdiri, “Besok saya akan menggali bersama kawan lain, kita bergotong royong.”

Ibu-ibu mengangguk pelan, kami akan membersihkan tepi sungai,” ucap ibu lainnya.

“Pohon-pohon juga harus di tanam.”

Seminggu kemudian, tepi sungai banyak orang. Ada yang membawa cangkul, ada yang membawa bibit pohon, ada juga membawa karung buat sampah. Lano san teman-temannya memimpin anak-anak memungut sampah kecil dan menanam bibit pohon.

Lano duduk di atas batu besar yang dulu tempat ia bermain. Ia tersenyum melihat sungai itu.

“Kalau begini, sungai kita panjang umur,” kata Jaru.

Sekarang sungai mereka mulai kembali seperti dulu dan Desa Kace penuh hijau. Lano dan temannya menjadi pahlawan masa depan desa. (BP / KM)*

Catatan : Cerpen ini merupakan karya peserta FLS3N Tingkat Kecamatan Mendobarat Tahun 2026.

Exit mobile version