Taman Kecil yang Kembali Hidup 

Oleh : Denasya Adelia Hendiawan (Siswa SDN Dian Utama, Pangkalanbaru)

 

Halo, namaku Denasya. Aku siswi kelas 5 SD Dian Utama. Aku punya tiga sahabat terbaik yaitu Caca, Richelle dan Deven. Kami berempat selalu bersama mulai dari belajar, bermain, dan bercanda. Persahabatan kami sederhana, tapi penuh kebersamaan. Salah satu hal yang membuat kami tetap bersama yaitu kepedulian terhadap bumi.

Pada hari Sabtu pagi, aku, Richelle, dan Deven berencana untuk pergi berkumpul di rumah Caca. Pagi itu tampak cerah, kami bertiga pikir hari itu akan menjadi hari yang sangat seru.

Saat aku sampai di rumah Caca, ternyata Richelle dan Deven sudah lebih dulu sampai di rumah Caca.

“Denasya, sini!” panggil Richelle dari teras rumah Caca dengan penuh kegembiraan.

Pada saat itu, aku segera menghampiri mereka. Kami duduk bersama di ruang tamu, bercanda, bermain, dan berbagi cerita. Setelah beberapa saat, Caca mengajak kami untuk pergi ke taman dekat rumahnya.

“Eh, kita pergi ke taman dekat rumahku yuk. Sudah lama kita gak kesana!” kata Caca.

Kami semua setuju dan segera berangkat menuju taman dekat rumah Caca. Namun, saat kami sampai di depan taman, langkah kami terhenti. Kami semua terdiam melihat kondisi taman itu.

“Eh… kok jadi gini?” Ucap Richelle dengan ekspresi bingung.

Taman yang dulunya indah kini terlihat kotor dan tidak terawat. Sampah berserakan di mana-mana, rumputnya kering, bunga-bunganya tidak terlihat lagi. Suasana di taman itu tidak nyaman.

“Kalau kita biarin, taman ini bakal makin rusak.” kata Deven dengan wajah serius.

“Kita gak bisa biarin ini, kita harus bersihin.” jawabku.

Mereka bertiga menatapku dan perlahan mengangguk.

“Ya udah, kita coba bersihin.” kata Richelle sambil tersenyum kecil.

Kami segera membersihkan taman tersebut. Kami mulai dari memungut sampah lalu memasukkannya ke dalam kantong plastik seadanya. Tangan kami kotor, keringat bercucuran, dan bau sampah yang cukup menyengat. Namun, kami tidak menyerah. Kami terus saling menyemangati. Waktu berlalu hingga sore hari.

“Capek banget, tapi lihat. Sudah mulai bersih gak sih?” kata Richelle sambil tersenyum.

“Iya, ini berkat usaha kita.” jawab Caca dengan wajah bahagia.

“Besok kita lanjut bersihin taman lagi ya, supaya benar-benar bersih.” sambung Deven.

Kami semua setuju.

Besoknya, kami kembali berkumpul untuk lanjut membersihkan taman. Kali ini kami menyediakan alat-alat seperti sapu, sarung tangan dan kantong plastik. Kami membagi tugas, ada yang memungut sampah, mencabut rumput liar, dan merawat tanaman.

Hari demi hari taman itu mulai berubah. Tidak ada sampah berserakan, rumput tumbuh kembali, bunga-bunga mulai bermekaran.

“Akhirnya, tamannya bersih juga.” ucap Richelle dengan gembira.

“Iya, ini usaha kita selama berhari-hari.” jawabku.

“Aku bangga banget sama kita.” sahut Caca.

“Ini bakal jadi tempat favorit lagi sih.” kata Deven sambil tersenyum.

Kami tersenyum melihat hasil kerja keras kami. Namun, kami harus memastikan taman ini tetap bersih.

“Tapi… Gimana kalau ada yang mengotori taman ini lagi?” kata Caca.

“Hmm… Aku punya ide. Kita buat poster saja!” jawabku.

“Setuju!” jawab mereka serempak.

Kami segera membuat poster bertuliskan “Aku Sayang Bumi” dan “Jangan Buang Sampah Sembarangan”. Setelah poster itu jadi, kami menempelkannya disekitar taman agar orang-orang dapat membacanya.

Setelah beberapa minggu, kami kembali mengunjungi taman itu. Kami terkejut melihat perubahan yang terjadi pada taman itu. Taman itu kembali hidup. Tidak ada sampah berserakan, rumput hijau kembali, bunga-bunganya bermekaran. Suasana di taman itu tenang. Banyak anak yang datang untuk bermain, dan orang-orang yang datang untuk bersantai.

“Lihat! usaha kita berhasil!” kata Deven dengan bangga.

“Iya, gak nyangka. Ternyata hal kecil bisa membawa perubahan sebesar ini ya.” jawabku.

“Aku senang banget lihat taman ini bersih dan indah kembali.” kata Richelle dengan gembira.

Kami semua bangga melihat kerja keras kami membuahkan hasil. Sejak saat itu, kami berjanji untuk selalu menjaga lingkungan dan mengajak orang-orang untuk melakukan hal yang sama. Bagi kami, bumi akan selalu indah jika kita menjaganya. (BP/ KM)*

 

Catatan: Cerpen ini merupakan karya peserta FLS3N Tingkat Kecamatan Pangkalanbaru Tahun 2026 Cabang Menulis Cerita.

Exit mobile version