Oleh: Nasyifa Azhila (Siswa SDN 10 Koba)
Duniaku biasanya dipenuhi dengan teka-teki silang dan jejak kaki semut yang ku cari menggunakan kaca pembesar. Namaku Gendis. Liburan kali ini ayah membawaku pulang ke tanah leluhurnya di pelosok desa Pulau Bangka ke sebuah rumah panggung panjang yang megah di tepi hutan. Di sana, pepohonannya setinggi raksasa seharusnya bernyanyi ditiup angin.
Sabtu pagi itu, aku menemukan sebuah misteri yang mencekam. Saat aku melangkah ke arah hutan di belakang rumah, suasananya aneh. Hutan yang kusebut sebagai “Istana hijau” itu tampak pucat. Daun-daun pohon meranti yang biasanya segar kini menguning layu.Burung enggang yang biasanya riuh, entah menghilang ke mana. Hutan itu sunyi, seolah sedang menahan tangis.
“Kenapa kalian lesu sekali? Di mana nyanyian kalian?” Bisikku menyentuh batang pohon yang terasa panas.
Tiba-tiba, sebuah suara parau terdengar dari balik rimbunnya akar pohon kayu ulin. “Kami tidak bisa bernapas, Gendis. Napas hutan sedang dicari oleh si Monster Transparan.”
Aku terlonjak hampir menjatuhkan kaca pembesarku. Dari balik tumpukkan sampah plastik, muncul seekor katak pohon berwarna hijau tua. Tubuhnya kurus, matanya lelah. Sebagai detektif, aku langsung mengeluarkan buku catatan kecilku untuk memproses katak yang tubuhnya kurus dan matanya lelah.
Setelah dari itu, aku bergegas menyelidiki si monster transparan yang sedang mencari napas hutan yang hilang. Di sana, terdapat tumpukan botol plastik yang menguning, kantong kresek yang tersangkut seperti hantu, dan potongan styrofoam yang hancur menjadi butiran debu. Setelah dari itu, Aku pun bergegas memanggil ayahku untuk melihat si monster transparan. kami berlari melewati aliran sungai kecil yang tersumbat. Baunya menyengat seperti bau yang tidak sedap. Aku mengeluarkan buku catatan kecilku dan menulis satu kalimat dengan huruf kapital: RENCANA
Tugas Gendis kini bukan sekadar mencari jejak kaki semut melainkan tugas yang jauh lebih besar.
Gendis mengeluarkan peluit kecil pemberian kakeknya sambil merogok saku celananya. Pesan kakekku, “jika peluitnya ditiup dengan niat tulus, hutan akan mendengarnya.”
Gendis pun meniupnya tetapi bukannya kuat melainkan rendah dan bergetar.
Gendis memberi pesan kepada ayahnya bahwa dia menemukan sebuah monster transparan. Gendis berteriak, “ayo semua yang ada di sini termasuk hewan-hewan segera berlari, si Monster transparan segera mendekat!”.
Mereka berlari mendengar teriakan Gendis. Ketika mereka berlari melewati sebuah aliran sungai, keajaiban pun terjadi. Aliran sungai yang tadi tersumbat kini mengalir perlahan.
Mereka yang melihat itu pun berhenti menghampiri sungai tersebut. Tetapi tumpukkan botol plastik yang menguning, kantong kresek yang tersangkut, dan potongan styrofoam membuat sungai tersebut kotor seperti tidak terawat. Gendis mengumpulkan botol plastik, kantong kresek, dan potongan styrofoam agar terlihat lebih bersih. Sungai itupun terlihat lebih bersih dan lebih jernih.
Bau yang menyengat seperti bau tak sedap, kini Kembali bersih dan layak untuk mandi atau untuk lainnya. Gendis dan ayahnya senang melihat keajaiban tersebut. setelah membersihkan sungai tersebut, ayah Gendis mengajak pulang ke rumah panggung. Tetapi Gendis mengajak ayahnya untuk bermain sebentar di sungai tersebut. Akhirnya ayah nya menuruti kemauan Gendis. Mereka bermain dengan riang gembira. Pada akhirnya saat hari mulai gelap mereka bergegas untuk pulang dan mereka pulang ke rumah panggung. Gendis mulai mengantuk dan mereka tidur dengan nyenyak. (BP/ KM)*
Catatan: Cerpen ini merupakan karya peserta FLS3N Tingkat Kecamatan Koba Tahun 2026 cabang menulis cerita.
