Editor : Belva Al Akhab
Bekaespedia.com, Jambi,- Pagi itu, ruang belajar menjadi tempat bertemunya dua hal yang sempat berjalan berlawanan dalam hidup Renaldi Pratama untuk mencari nafkah dan mengejar pendidikan.
Sejak lulus SMP, Renaldi harus bekerja sebagai pencuci motor. Penghasilannya sekitar Rp50.000 per hari. Pilihan itu bukan karena ia berhenti bermimpi, melainkan karena keadaan membuatnya harus membantu perekonomian keluarga.
Kini, Renaldi kembali menjadi pelajar.
Ia mengikuti Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) di Kabupaten Bungo, Jambi. Program yang dikoordinasikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) itu menjadi jalan bagi Anak Tidak Sekolah (ATS) untuk kembali mengenyam pendidikan formal tanpa harus sepenuhnya meninggalkan pekerjaan.
Saat berdialog dengan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq, Renaldi menyampaikan harapan sederhana yang selama ini ia simpan.
“Harapan saya bisa dimudahkan dapat ijazah sambil tetap bisa bekerja,” ujar Renaldi.
Harapan itu kini memiliki jalan. PJJ memungkinkan Renaldi dan anak-anak lain yang mengalami persoalan serupa untuk kembali belajar dengan pola pendidikan yang menyesuaikan kondisi mereka.
Wamendikdasmen Fajar Riza Ul Haq melihat langsung pelaksanaan PJJ saat meninjau pembelajaran di SMAN 1 Bungo, Jumat (7/8/2026). Kunjungan tersebut sekaligus menjadi kesempatan untuk memberikan motivasi kepada murid angkatan pertama.
Di hadapan para murid, Fajar memastikan bahwa PJJ bukan pendidikan yang berdiri di luar sistem sekolah formal.
Para peserta PJJ tercatat sebagai murid pada sekolah induk, yakni SMA Negeri 10 Jambi. Setelah menyelesaikan pendidikan sesuai ketentuan, mereka berhak memperoleh ijazah.
“Nanti adik-adik resmi menjadi murid SMA yang terdaftar di sekolah induk di Kota Jambi. Nilainya sama, kualitasnya sama,” kata Fajar.
Pesan tersebut menjadi penting bagi anak-anak yang sempat ragu untuk kembali sekolah. Sebab, bagi mereka, pendidikan bukan hanya soal duduk di ruang kelas, tetapi juga tentang kepastian bahwa usaha yang mereka lakukan akan memiliki pengakuan secara resmi.
Renaldi bukan satu-satunya anak yang kembali membuka buku melalui PJJ.
Ada Yanita Franselina Manik dan Muhammad Ali Imron yang turut mengikuti program tersebut. Mereka memiliki alasan yang hampir sama tentang keadaan ekonomi keluarga membuat pendidikan harus tertunda.
Namun, keinginan untuk belajar tidak pernah benar-benar hilang.
Yanita berharap PJJ dapat membantunya mendapatkan ijazah sekaligus menjadi pribadi yang lebih baik.
Sementara Imron kembali belajar setelah sempat tidak bersekolah selama setahun. Ia ingin pendidikan menjadi bekal untuk mendapatkan pekerjaan sekaligus mewujudkan cita-cita yang terdengar tinggi, tetapi menurutnya bukan sesuatu yang mustahil.
“Saya ingin mempermudah dapat kerja, dan mungkin bisa jadi Bupati, itu tidak mustahil,” ujar Imron.
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, di baliknya ada keberanian seorang anak yang kembali bermimpi setelah sempat terhenti dari bangku sekolah.
PJJ bagi Imron bukan sekadar program pendidikan. Ia menjadi kesempatan kedua untuk kembali menyusun masa depan.
Di tingkat daerah, Pemerintah Provinsi Jambi ikut memperkuat pelaksanaan PJJ melalui program Pro-Jambi Cerdas.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jambi, Umar, mengatakan program tersebut menyediakan perlengkapan sekolah bagi murid dari keluarga prasejahtera yang terdata, mulai dari pakaian, tas, buku hingga sepatu.
Pemerintah juga tidak hanya menunggu anak-anak datang mendaftarkan diri.
Upaya menemukan ATS dilakukan secara jemput bola, termasuk melalui sosialisasi dari kantor desa hingga tingkat RT.
“Kami mengapresiasi inovasi Kemendikdasmen ini dan telah melakukan berbagai upaya jemput bola, termasuk sosialisasi door-to-door ke kantor desa hingga tingkat RT guna menjaring ATS,” jelas Umar.
Langkah tersebut menjadi penting karena persoalan anak tidak sekolah sering kali tidak terlihat dari ruang-ruang administrasi. Sebagian dari mereka sudah bekerja, membantu orang tua atau tinggal di wilayah yang membuat akses pendidikan tidak mudah.
Mereka bukan tidak ingin sekolah. Dalam banyak kasus, mereka hanya membutuhkan jalur yang memungkinkan pendidikan berjalan berdampingan dengan kehidupan sehari-hari.
SMAN 1 Bungo menjadi salah satu sekolah mitra dalam pelaksanaan PJJ. Sekolah tersebut terus berkoordinasi dengan SMA Negeri 10 Jambi sebagai sekolah induk.
Kepala SMAN 1 Bungo, Lugimin, mengatakan informasi mengenai PJJ terus disebarkan melalui media sosial serta jaringan perangkat desa di 17 kecamatan di Kabupaten Bungo.
Menurut Lugimin, salah satu hal yang perlu terus disampaikan kepada masyarakat adalah kepastian status pendidikan dan ijazah para peserta.
“Kami berupaya meyakinkan masyarakat bahwa ijazah yang diterima nantinya benar-benar resmi dari SMA negeri di Kota Jambi,” ujar Lugimin.
Kepastian tersebut diharapkan dapat menghapus keraguan anak dan keluarga yang ingin memanfaatkan program PJJ.
Dengan status sebagai bagian dari pendidikan formal, para peserta tidak sekadar kembali belajar, tetapi juga memiliki kesempatan menyelesaikan pendidikan hingga memperoleh ijazah sesuai ketentuan.
Di sisi lain, pelaksanaan PJJ membutuhkan dukungan yang tidak sedikit. Infrastruktur teknologi dan kemampuan guru pendamping menjadi dua hal yang terus didorong untuk diperkuat.
Fajar mendorong dinas pendidikan dan sekolah meningkatkan dukungan terhadap kedua aspek tersebut agar proses belajar tidak berhenti pada penyediaan akses.
Pemprov Jambi pun menyiapkan langkah lanjutan.
Umar menyampaikan bahwa pemerintah daerah akan menganggarkan pengadaan cloud server serta pelatihan pembuatan konten video pembelajaran bagi para pendidik pada tahun depan.
Dukungan teknologi diharapkan membuat pembelajaran semakin mudah diakses sekaligus membantu guru memberikan pendampingan yang lebih optimal.
Bagi Renaldi, teknologi dan PJJ kini bukan sekadar istilah dalam kebijakan pendidikan. Keduanya telah menjadi jalan agar ia bisa melakukan dua hal sekaligus: tetap bekerja dan kembali belajar.
Begitu pula bagi Yanita dan Imron.
Mereka sebagai wajah dari anak-anak yang pernah meninggalkan sekolah bukan karena kehilangan mimpi, tetapi karena kehidupan memaksa mereka memilih.
Kini, pilihan itu tidak harus lagi antara bekerja atau belajar.
Melalui PJJ, keduanya bisa berjalan beriringan.
Bagi seorang anak seperti Imron, bahkan mimpi menjadi bupati pun kembali terasa dekat.
Sebab, terkadang yang dibutuhkan seseorang untuk kembali mengejar cita-cita bukanlah jalan yang sempurna, melainkan kesempatan kedua untuk memulainya.












