Tiga Anak Muda Babel Membawa Mahkota Pulang dari Jambi, Menjadikan Prestasi sebagai Bahasa Baru Pariwisata

Laporan : Belva Al Akhab

 

 

Bekaespedia.com, Jambi,- Tiga anak muda Kepulauan Bangka Belitung pulang dari Jambi dengan membawa lebih dari sekadar mahkota.

 

Difa Minati, Annisa Nurul Izza, dan Rifky Aulia Wahyudi membawa pulang prestasi dari panggung Duta Wisata Nasional 2026, sekaligus membawa cerita tentang sebuah daerah kepulauan yang sedang mencari cara baru untuk memperkenalkan kekayaan wisatanya kepada Indonesia.

 

Ajang yang berlangsung di Wiltop Hotel, Kota Jambi, pada 13–15 Agustus 2026 itu mempertemukan perwakilan dari berbagai daerah. Di tengah persaingan tersebut, tiga delegasi Babel tampil dengan capaian masing-masing.

 

Difa Minati meraih Winner Puteri Pesona Indonesia 2026 sekaligus Best Talent Duta Wisata Nasional 2026.

 

Annisa Nurul Izza berhasil menyandang gelar Winner Puteri Duta Wisata Nasional 2026.

 

Sementara Rifky Aulia Wahyudi, pemuda asal Kelapa, Bangka Barat, meraih Runner Up Mister Wonderful Indonesia 2026 sekaligus dinobatkan sebagai Duta Wisata Nasional Favorit 2026.

 

Tiga gelar itu sekaligus menjadi kabar tentang wajah lain Bangka Belitung. Bukan hanya daerah dengan pantai, laut, pulau dan batu granit, melainkan daerah yang memiliki generasi muda dengan kemampuan untuk membawa identitas daerah ke ruang nasional.

 

Sebab pembangunan pariwisata pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang membangun destinasi.

 

Ia juga berbicara tentang membangun manusia yang mampu membuat destinasi itu dikenal, dicintai, dan dikunjungi.

 

Ada banyak cara sebuah daerah memperkenalkan dirinya.

 

Bisa melalui peta, promosi digital, festival, foto, video, maupun kampanye pariwisata.

 

Tetapi ada satu cara yang paling tua sekaligus paling manusiawi:m dengan cara bercerita.

 

Di panggung nasional itu, Difa, Annisa dan Rifky menjadi bagian dari cerita tersebut.

 

Mereka membawa nama Bangka Belitung sekaligus memperkenalkan sejumlah potensi wisata daerah, mulai dari Pantai Tanjung Tinggi, Pulau Lengkuas, Geopark Belitong, budaya Melayu hingga kuliner khas daerah.

 

Di balik setiap nama destinasi terdapat kisah yang jauh lebih panjang.

 

Ada masyarakat yang hidup berdampingan dengan laut. Ada tradisi yang diwariskan lintas generasi. Ada kuliner yang lahir dari kebiasaan masyarakat pesisir. Ada lanskap alam yang menyimpan sejarah bumi.

 

Semua itu membutuhkan manusia untuk menerjemahkannya.

 

Generasi muda dapat menjadi penerjemah tersebut.

 

Difa Minati menunjukkan bagaimana sebuah bakat personal dapat menjadi kekuatan untuk membawa nama daerah.

 

Ia berhasil meraih dua gelar sekaligus, Winner Puteri Pesona Indonesia 2026 dan Best Talent Duta Wisata Nasional 2026.

 

Penampilan, kemampuan komunikasi dan bakat yang ditunjukkannya menjadi bagian dari keberhasilan tersebut.

 

Namun di balik panggung kompetisi, kemenangan Difa menyimpan pesan yang lebih besar.

 

Bahwa bakat anak muda tidak harus berhenti sebagai prestasi pribadi.

 

Jika diarahkan dan diberi ruang, bakat itu dapat menjadi energi promosi daerah.

 

Ketika Difa berdiri di panggung nasional, yang terlihat bukan hanya seorang peserta kompetisi.

 

Ada nama Bangka Belitung yang ikut berdiri bersamanya.

 

Annisa Nurul Izza membawa kekuatan yang berbeda.

 

Mahasiswi Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung itu berhasil meraih gelar Winner Puteri Duta Wisata Nasional 2026.

 

Kemampuan public speaking, wawasan kepariwisataan dan pemahamannya terhadap budaya serta potensi wisata daerah menjadi modal penting selama kompetisi.

 

Di sinilah kemampuan komunikasi menemukan relevansinya dalam pembangunan pariwisata.

 

Destinasi yang indah membutuhkan orang yang mampu menjelaskan mengapa ia indah.

 

Budaya membutuhkan generasi yang mampu menjelaskan mengapa ia penting.

 

Kuliner membutuhkan cerita tentang bagaimana sebuah rasa lahir dari perjalanan masyarakatnya.

 

Pariwisata membutuhkan manusia yang mampu menjahit semua cerita itu menjadi sebuah pengalaman.

 

Annisa menjadi bagian dari generasi yang memiliki peran tersebut.

 

Kisah Rifky Aulia Wahyudi memiliki warna tersendiri.

 

Pemuda asal Kelapa, Bangka Barat itu baru pertama kali memasuki dunia pageant dan duta wisata.

 

Ia datang dengan pengalaman yang masih baru.

 

Namun keberanian untuk mencoba membawanya melewati persaingan hingga meraih dua penghargaan: Runner Up Mister Wonderful Indonesia 2026 dan Duta Wisata Nasional Favorit 2026.

 

Prestasi itu menunjukkan bahwa pengalaman pertama tidak selalu harus menjadi alasan untuk menunggu.

 

Kadang-kadang, langkah pertama justru menjadi pintu menuju kesempatan yang lebih besar.

 

Rifky membawa cerita itu dari Kelapa ke panggung nasional.

 

Ia memperlihatkan bahwa anak muda dari daerah pun dapat memiliki ruang untuk tampil, berkembang dan bersaing ketika diberikan kesempatan.

 

National Director sekaligus CEO Josa Entertainment, Adijosa, mengatakan keberhasilan ketiga delegasi Babel merupakan hasil dari proses panjang.

 

Menurut dia, pencapaian tersebut tidak datang secara tiba-tiba, tetapi dibentuk melalui kerja keras, disiplin, pembinaan dan semangat untuk terus belajar.

 

“Ini bukan hanya kemenangan untuk individu, tetapi juga kemenangan bagi Bangka Belitung,” ujar Adijosa.

 

Ia menilai ketiga delegasi telah memperlihatkan bahwa generasi muda daerah mempunyai kualitas, karakter dan kemampuan untuk bersaing di tingkat nasional.

 

“Mereka telah membuktikan bahwa generasi muda daerah memiliki kualitas, karakter, dan kemampuan yang mampu bersaing di tingkat nasional,” katanya.

 

Adijosa berharap prestasi tersebut tidak berhenti menjadi kebanggaan setelah kompetisi selesai.

 

Menurut dia, kemenangan harus mampu melahirkan inspirasi dan membuka keberanian bagi anak muda lain untuk mengembangkan potensi masing-masing.

 

“Kami berharap prestasi ini menjadi inspirasi bagi anak-anak muda lainnya untuk terus berani bermimpi, mengembangkan potensi diri, dan membawa nama daerah ke tingkat yang lebih tinggi,” ujarnya.

 

Pesan itu sekaligus memperluas makna sebuah kemenangan.

 

Mahkota bukan tujuan akhir.

 

Gelar bukan garis finis.

 

Keduanya justru dapat menjadi awal dari tanggung jawab baru.

 

Selama bertahun-tahun, pembangunan pariwisata kerap dibayangkan melalui pembangunan fisik: jalan menuju destinasi, fasilitas wisata, penginapan, ruang publik, pusat kuliner dan infrastruktur pendukung lainnya.

 

Semua itu penting.

 

Namun ada satu pembangunan yang sering kali tidak terlihat tentang pembangunan manusia.

 

Difa, Annisa dan Rifky memperlihatkan bagaimana sumber daya manusia dapat menjadi bagian dari ekosistem pariwisata.

 

Mereka sebagai komunikator.

 

Mereka sebagai promotor.

 

Mereka sebagai representasi generasi yang dapat memperkenalkan daerah dengan bahasa yang dekat dengan zamannya.

 

Melalui mereka, pariwisata tidak hanya hadir sebagai pemandangan, tetapi sebagai cerita.

 

Cerita memiliki kekuatan yang tidak selalu dimiliki angka.

 

Sebuah foto Pantai Tanjung Tinggi dapat memperlihatkan keindahannya.

 

Namun cerita tentang masyarakat yang hidup di sekitarnya dapat membuat orang memahami maknanya.

 

Foto Pulau Lengkuas dapat mengundang rasa ingin tahu.

 

Tetapi kisah tentang perjalanan menuju pulau itu dapat membuat seseorang ingin mengalaminya sendiri.

 

Di situlah manusia menjadi bagian penting dari pembangunan pariwisata.

 

Prestasi tiga delegasi Bangka Belitung di Jambi pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang siapa yang menang dan siapa yang pulang membawa gelar.

 

Ia berbicara tentang bagaimana sebuah daerah memandang masa depannya.

 

Jika destinasi sebagai tubuh pariwisata, maka manusia sebagai jiwanya.

 

Jika alam adalah modal awal, maka kreativitas generasi muda sebagai energi yang menggerakkannya.

 

Difa, Annisa dan Rifky telah menunjukkan bahwa mereka mampu menjadi bagian dari energi tersebut.

 

Mereka membawa nama Bangka Belitung ke panggung nasional.

 

Mereka memperkenalkan kekayaan budaya dan pariwisata daerah.

 

Mereka memperlihatkan bahwa generasi muda dapat mengambil bagian dalam pembangunan tanpa harus menunggu menjadi siapa-siapa terlebih dahulu.

 

Pada akhirnya, lampu panggung akan padam.

 

Tepuk tangan akan berhenti.

 

Mahkota akan disimpan.

 

Tetapi pekerjaan sebagai duta tidak selesai bersama berakhirnya kompetisi.

 

Justru setelah pulang, cerita baru dimulai.

 

Cerita tentang bagaimana menjadikan Bangka Belitung bukan sekadar tempat yang indah di dalam foto, melainkan tempat yang memiliki cerita, memiliki manusia, memiliki budaya dan memiliki alasan bagi siapa pun untuk datang kembali.

 

Sebab pariwisata yang besar bukan hanya dibangun dari destinasi yang indah, tetapi dari manusia yang mampu membuat keindahan itu tinggal lama di dalam ingatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *