Tony Wen (Boen Kin To)

Keterangan Gambar: Tony Wen (Boen Kin To), sumber THHK School di Djakarta.

 

Oleh Dato’ Akhmad Elvian,DPMP, CECH *)

Pada masa era revolusi kemerdekaan terdapat juga orang Tionghoa Bangka yang lahir di Sungailiat yang membantu perjuangan revolusi kemerdekaan melalui penyelundupan. Bangka adalah lokasi yang tepat untuk ini (penyelundupan). Bulan November 1945 hingga November 1946 merupakan priode puncaknya penyelundupan melalui kapal laut. Banyak kapal lewat, banyak juga yang melalui Bangka. Kabar angin menyebutkan, bahwa pulau Kelapa dan Pongok (maksudnya pulau Liat/Leat) di Bangka Selatan adalah pos untuk perdagangan senjata antara Singapura dan Banten, wilayah Republik. Dua orang dari Bangka dikenal namanya sebagai penyelundup selama Revolusi. Mereka adalah Tony Wen dan Lie Kwet Tjeng. Keduanya membantu Republik memperdagangkan persediaan candunya untuk mendapat senjata di Singapura (Heidhues, 2008:195). Pada 7 Maret 1948, Tony Wen berangkat dari pantai Popoh, dekat Tulungagung melewati selat Lombok menuju perairan Laut Jawa dan candu berhasil dibawa ke Singapura. Pada penyelundupan kedua dengan membawa candu seberat 2,5 ton ke Singapura dengan pesawat Ampibi Catalina dan uang candu berhasil dibelikan senjata, pesawat mendarat di Campur Darat Tulungagung. Tony Wen sempat ditahan di Singapura akibat pembelian senjata yang dilakukannya. Tony Wen atau Boen Kin To lahir di Sungailiat, 26 April 1911 dan ayahnya adalah pejabat Kepala Parit di perusahaan Tambang Timah Belanda. Tony Wen mengenyam pendidikan dasarnya di Sungailiat dan melanjutkan Pendidikan lanjutan dan menengahnya ke Singapura, serta kemudian kuliah di U Ciang University, Shanghai dan Liang Nam University, Canton di Guangzhau. Setelah kembali ke Jakarta Tony Wen menjadi guru olahraga di sekolah Pa Hoa (THHK) dan menjadi kapten kesebelasan UMS (Union Makes Strenth). Pada masa pendudukan Jepang bekerja sebagai Juru bahasa di salah satu kantor urusan Hoa Kiao (Kakyo Hanbu) di bagian pusat intelijen Jepang (Sambu Beppan). Setelah Jepang menyerah kepada sekutu kemudian Tony Wen pindah dari Jakarta ke Solo, memimpin barisan pejuang Tionghoa membantu logistik pasukan Republik dan bekerjasama dengan Barisan Pelopor di bawah komandan Sudiro. Setelah kemerdekaan Tony Wen menjadi Anggota PNI. Pada Tahun 1950 Tony Wen diangkat menjadi anggota Komite Olimpiade Indonesia dan pengurus PSSI. Pada Tahun 1954-1956 Tony Wen menjabat sebagai anggota Konstituante dari PNI. Tony Wen meninggal karena sakit pada 30 Mei 1963 dan dimakamkan di Menteng Pulo Jakarta. Untuk mengenang jasanya pemerintah Kota Pangkalpinang mengabadikan namanya menjadi nama jalan Tony Wen. Selengkapnya bisa dibaca di kolom komentar karena tulisan ini bagian Sepuluh dari Tulisan di Babelpos tentang Sungailiat atau Sungaileat…..

 

*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia 

 

 

Exit mobile version