Oleh : Mysha Idayu Algiffari (Siswa SDN 7 Namang)
Halo, namaku Mysha. Aku murid kelas 4 SD yang baru saja memulai petualangan baru di pulau Bangka. Sebenarnya, aku anak pindahan dari Jakarta. Kepindahanku ke sini karena ayahku yang seorang tentara mendapatkan tugas baru sebagai komandan di daerah dekat batalyon sini.
Sekarang, aku dan keluargaku tinggal di perumahan tentara yang temboknya berwarna hijau, dan suasananya sangat tenang setiap harinya.
Awalnya, memilih sekolah di tempat baru bukan hal yang mudah bagi keluargaku. Ayahku sangat peduli pada pendidikanku, jadi beliau meminta asistennya untuk melakukan survey ke beberapa sekolah di sekitaran batalyon. Ayah ingin aku mendapatkan pendidikan terbaik. Setelah melihat hasil survey dan arahan dari asisten ayah, pilihan akhirnya jatuh pada SD Negeri 7 Namang. Jujur saja, awalnya aku merasa sangat asing. Karena di Jakarta, pandanganku hanya Gedung-gedung tinggi yang mencakar langit, mal yang mewah, dan kemacetan yang tak ada habisnya. Di sini semuanya berbeda, langitnya jauh lebih biru, dan udaranya sangat segar.
Awalnya, aku sempat merasa kesepian karena belum punya teman dekat untuk berbagi cerita. Untungnya di SD Negeri 7 Namang aku bertemu dengan Felicia.
Dia teman sekelasku yang sangat baik, pintar dan selalu tersenyum padaku. Suatu hari di jam istirahat sekolah, Felicia menghampiriku dengan wajah yang sangat ceria.
“Mysha, besok malam mampir ke rumahku yuk di Desa Kayu Besi, ada tradisi Cap Go Meh yang seru sekali! “ajaknya dengan mata berbinar. Aku sempat bingung. Aku tahu perayaan Imlek sudah lewat beberapa minggu yang lalu, tapi apa itu Cap Go Meh? Karena sangat penasaran aku pun meminta izin pada ayah dan ibu di rumah.
Untungnya, ayah membolehkan dan aku di antar oleh sopir kantor ayah memakai mobil. Perjalanan dari perumahan tentara menuju desa Kayu Besi ternyata sangat menyenangkan.
Sepanjang perjalanan aku tidak lagi melihat gedung-gedung tinggi, mataku justru dimanjakan oleh hamparan pohon sawit yang sangat luas di kanan sampai kiri jalan.
Saat mobil sampai di gerbang desa. Desa Kayu Besi berubah menjadi merah meriah. Ada ratusan lampion merah digantung yang berayun-ayun cantik di depan rumah warga.
Felicia sudah menunggu di depan rumah. “Mysha sini, duduk di teras dulu!” Felicia menarik tanganku dengan akrab
Dia mulai menjelaskan kalau Cap Go Meh adalah hari ke-15 setelah Imlek, dan acara yang paling di tunggu-tunggu warga desa. “Tradisi ini sudah ada sejak zaman kakek buyut kami Iho, Mysha!” kata Felicia dengan wajah bangga.
Aku mendengar ceritanya dengan serius. Aku melihat ada warga yang memakai jilbab sedang asyik mengobrol dengan warga keturunan Tionghoa sambil menikmati lontong Cap Go Meh yang kuah santan kuningnya membuat perutku keroncongan. Felicia memberiku satu porsi besar lontong Cap Go Meh. Rasanya enak, sangat juara.
Tiba tiba, suara tetabuhan gendang terdengar membuat jantungku ikut berdebar kencang. Aku dan Felicia ikut menonton bersama anak-anak desa lainnya.
Barongsai dan naga meliuk-liuk dengan semangat. Udara di Desa Kayu besi mulai terasa dingin, tapi itu tidak membuatku menggigil. Dari sanalah aku mulai sadar, aku terasa hangat karena senyum dan tawa para penonton. Walaupun aku tidak tinggal di Desa Kayu Besi, warga desa menyambutku seperti keluarga sendiri.
Malam semakin larut, aku harus pulang ke perumahan tentara karena besok aku harus sekolah. Aku mengucapkan salam perpisahan pada Felicia dan tidak bisa berhenti senyum-senyum sendiri di mobil. Setelah sampai di rumah aku langsung bercerita panjang lebar pada ayah dan ibu. Aku bilang pada ayah kalau aku bangga bersekolah di SD Negeri 7 Namang karena bisa bertemu teman sehebat Felicia. Dari perjalanan singkatku di Desa Kayu Besi, aku belajar banyak hal. Indonesia itu ternyata sangat luas dan penuh dengan cerita indah di setiap sudutnya. Lampion yang kulihat tadi bukan hanya menerangi jalanan desa yang gelap saja, tapi juga menerangi hatiku untuk terus bangga terhadap keberagaman kita. Aku janji akan menuliskan cerita ini di buku harianku dengan rapi. Agar suatu saat nanti kalau aku balik ke Jakarta, teman-temanku di sana tahu betapa keren, meriah, dan hangatnya tradisi Cap Go Meh di Bangka Tengah. (BP / KM)*
Catatan : Cerpen ini merupakan karya peserta FLS3N Tingkat Kecamatan Namang Tahun 2026.
