Oleh: Naila Aghniya Ilmi (Siswa SDIT Bina Insan Mulia, Koba)
“Eco-anxiety,” begitulah sepenggal ucapan psikiater kemarin mengenai kecemasan dan rasa takut yang aku alami akan kerusakan bumi. Membayangkannya saja sudah membuatku merinding. Apalagi pada masa sekarang semua sudah serba instan dan banyak produk sekali pakai. Bagaimana kalau bumi ini benar-benar akan hancur hanya karena plastik? Bagaimana kalau es di kutub mencair karena polusi udara yang meningkat setiap harinya? Apakah bumi ini benar-benar akan hilang tanpa ada harapan.
“Rin, Ririn…” Suara sayup-sayup itu perlahan terdengar semakin jelas menyadarkanku dari lamunanku.
“Nih untuk kamu. Berhentilah memikirkan hal yang belum tentu terjadi!” Celetuk Andini seolah bisa membaca pikiranku. la menyodorkan sebungkus minuman berembun di depan wajahku. Seketika aku pun tertegun dengan aksi tiba-tiba Dini dan diiringi perasaan mual yang samar. Perasaan mual samar-samar ini bukan karena isi esnya, melainkan dua bungkus plastik yang digenggam oleh Dini. Ya, benar dua bungkus plastik yang akan menjadi sampah penyebab kehancuran bumi.
“Kenapa Rin? Mau tanya ini apa? Ini es cekek Rin, ES CEKEK…” Seru Dini seakan bisa membaca pikiranku kembali.
“Bukan itu Din. Bukankah lebih baik jika memakai tumbler kita sendiri, dibanding memakai plastik,” hela napas beratku dan perlahan mencoba menenangkan diri. Di detik itu juga Dini memutarkan bola matanya seakan sudah lelah dengan kata-kata yang selalu aku ucapkan.
“Coba kamu lihat suhu udara di ponselmu sekarang!” Pinta Dini. Tanganku langsung meraih dan menghidupkan layar ponsel tepat di meja depanku.
“35,6 derajat Celcius!” Ujarku sedikit kaget dengan angka yang ditampilkan di layar. Dini mengangguk tegas.
“Yap, betul! Dengan cuaca sepanas ini sangat melelahkan Rin, jika harus jalan kaki dari lapangan menuju kelas, menaiki dua lantai pula. Membayangkannya saja aku tidak sanggup Rin, sedangkan tenggorokanku rasanya sudah sangat mengering,” ucap Dini dengan gaya bicara hebohnya itu.
“Sudahlah, intinya ini hanya sebungkus es Rin.” Lanjutnya dengan ketus.
Akupun menatap Dini dengan pandangan yang menajam. “Kamu tahu berapa lama selembar plastik es dan sebuah sedotan yang kamu gunakan untuk minum dapat terurai di tanah?”
“Tapikan, tidak membuat dunia langsung kiamat besok Rin,” bantah Dini tak mau mengalah sedikit pun.
Pluk! Sebuah tepukan ringan mendarat tepat mengenai belakan kepala Andini. Ternyata tepukan itu berasal dari tangan kak Hegan yang merupakan kakak kelas kami sekaligus kakaknya Andini.
“Aduh kakak, jangan sembarangan menepuk kepala Dini! Nanti Dini jadi bodoh!” Protes Dini sangat kesal dengan tindakan kakaknya itu.
“Tanpa kakak tepuk kepalamu pun bukannya kamu memang begitu?” Canda kakaknya dengan senyum tipis yang terlihat di ujung bibirnya.
“Lagian kenapa susahnya meminta maaf dan mengakui kalau kamu salah. Padahal yang diucapkan oleh Ririn itu benar loh,” kak Hegan yang ternyata sudah sedari tadi memerhatikan perdebatan diantara kami dari ambang pintu. la kini duduk di tengah-tengah kami mecoba menenangkan agar perdebatan tidak semakin memanas.
“Kondisi bumi kita saat ini sedang kurang sehat. Tidak perlu jauh-jauh membahas bumi, lihatlah Jakarta tempat yang kita tinggali sekarang ini. Bukankah kamu sendiri yang sudah merasakan banjir tiap kali musim hujan tiba? Tidak jarang juga gempa serta bencana alam yang lainnya?” Tanya kak Hegan.
“Banjir itu terjadi karena ketidakpedulian masyarakat yang menganggap remeh sebutir sampah seperti kamu sekarang ini. Bukan hanya kamu, tidak sedikit juga orang yang dengan seenaknya membuang sampah sembarangan tanpa merasa bersalah,” tambah Kak Hegan.
“Tapi kan kak, Dini tidak membuangnya sembarangan,” ucap Dini dengan alis bertaut rapat tak mau disalahkan oleh kakaknya.
“Itu tetap akan berdampak pada kesehatan bumi. Sampah yang kita buang ke tempat sampah nantinya akan dikumpulkan di TPST Bantargebang lalu diolah menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah, lalu ada juga yang diolah menjadi bahan bakar (RDF). Kedua-duanya akan menghasilkan emisi karbon,” jelas kak Hegan berusaha menyadarkan adiknya sembari menatap adiknya dengan intens.
“Hehehe,” Dini tersenyum kuda setelah tepergok kakaknya karena telah menyesap habis kedua es cekek di tangannya itu. Tak sadar kalau bagian yang ditawarkan ke Ririn pun ikut ia habiskan.
“Emisi karbon itu apa kak?” Dini yang merasa tidak paham sedikit memiringkan kepalanya.
“Emisi karbon itu dapat disebut juga dengan polusi udara, penyebab gas rumah kaca. Salah satu dampaknya yaitu fenomena cuaca ekstrem,” kak Hegan berusaha menerangkan sedetail mungkin agar adiknya paham.
“Ooo, sekarang Dini mengerti. Maafkan Dini ya Rin, kak ternyata benda sekecil ini menjadi penyumbang terbesar terhadap kerusakan bumi. Terima kasih juga Ririn dan kakak yang sudah menyadarkan Dini. Lain kali Dini akan membawa tumbler dan kotak bekal makan sendiri.” Ucap Dini dengan mata berkaca-kaca karena merasa bersalah.
“Syukurlah kamu sadar, belum terlambat untuk berubah. Ngomong-ngomong tentang cuaca ekstrem lebih baik kita pulang sekarang, lihatlah cuaca mulai gelap!” Ujarku sembari menunjuk awan yang mulai gelap.
“Mau ikut kita pulang naik GrabCar Rin?” Ucap kak Hegan memberi tawaran.
“Terima kasih kak atas tawarannya, tapi Ririn pulang jalan kaki saja karena kosan Ririn dekat kok dari sekolah. Cuma 15 menit dan hitung-hitug olahraga sore,” jawabku menolak secara halus.
“Baiklah kalau begitu, cepat ya jalannya dan hati-hati karena sepertinya hujan akan deras,” kata kak Hegan mengingatkan.
“Kami duluan ya Rin,” lambai Andini dengan senyum lembut yang perlahan menghilang dari pandanganku.
Benar saja, cuaca yang semula terasa sangat menyengat, tiba-tiba berubah menjadi gelap gulita. Hujan turun dengan derasnya, membuat aspal kota berubah menjadi cermin raksasa yang kelam. Seakan bumi sedang mengalami demam tinggi dan kini ia menangis untuk mendinginkan lukanya sendiri. Mungkin sebagian orang di luar sana bermimpi untuk menetap digemerlapnya Jakarta yang mewah bak istana. Pemandangan gedung-gedung pencakar langit yang tiap harinya berlomba-lomba meninggikan kepala. Ditambah lagi pabrik besar yang menawarkan berbagai keuntungan, tapi tidak peduli dengan polusi udara dan limbah yang dihasilkan akan membuat bumi sulit bernapas. Sayangnya, mereka tidak peduli dengan rasa sakit yang di rasakan bumi. Apalah daya, korban bisu dibalik keserakahan itu.
Aku menengok di balik jendela kamar kosku. Berdiri sesosok bapak paruh baya di tengah guyuran hujan. Menepi karena menunggu penumpang yang tak kunjung datang. Bapak itu sedang berjuang demi sesuap nasi untuk keluarganya. Walaupun kendaraannya menjadi penyumbang polusi udara. Aku tidak bisa menyalahkannya karena dia hanyalah rakyat kecil yang sedang bertaruh nyawa demi keluarga kecilnya. Melihat semua ini, hatiku terasa begitu sedih. Seakan rasa sakit yang dirasakan oleh bumi mengalir di nadiku. Setiap tetesan air hujan yang jatuh bagikan isak tangis bumi yang memohon untuk diselamatkan dari polusi udara dan tumpukan sampah.
“Maafkan aku bumi, aku sadar kalau aku masih menjadi penyebab kerusakanmu. Walau tidak banyak hal yang dapat aku lakukan tapi, aku akan berusaha semampuku untuk mengurangi hal-hal yang dapat merusakmu. Aku akan memulainya dari diriku sendiri. Aku akan berhenti untuk membeli makanan dan minuman yang menggunakan plastik. Aku juga akan berhenti menggunakan jasa pesan antar, selain sampahnya yang akan menumpuk juga akan menyebabkan polusi udara. Aku akan mencoba menanam pohon walaupun kecil, setidaknya dapat membuatmu sedikit bernapas lebih lega. Tindakan ini kecil memang. Tapi aku tahu tindakan yang aku ambil ini tidak akan sia-sia. Menyembuhkan bumi memang butuh waktu yang lama, tapi asalkan aku berusaha dan konsisten. Harapan bumi sehat itu masih ada. (BP/ KM)*
Catatan: Cerpen ini merupakan karya peserta FLS3N Tingkat Kecamatan Koba Tahun 2026 cabang menulis cerita.
