Karya: Meilanto
“Kakak, boleh minta tolong isi biodata dibuku diary saya?” pinta Arul pada kakak kelasnya, Nurul. “Ya tentu boleh dong, kita tukar ya, kamu menulis biodata di buku diary kakak, kakak menulis biodata di buku diary kamu!” Saat itu sedang Masa Orientasi Siswa baru dijenjang SMP. Setiap siswa baru kelas 1 SMP, wajib mengikuti MOS sebagai bekal untuk mengikuti pelajaran di SMP.
Setiap peserta kelas 1 SMP diwajibkan membawa buku diary. Buku diary itu memuat biodata kakak kelas. Setiap peserta diminta menemui kakak kelas sebanyak mungkin. Ini bertujuan supaya sebagai siswa baru, bisa lebih kenal dengan kakak kelas dan warga sekolah lainnya.
Sebagai siswa baru, Arul bisa diterima di SMP negeri dengan nilai tertinggi di SD dan ia masuk peringkat 10 besar.
“Oh nama kamu Amirul Siddik, ya? Nama yang bagus!” ujar Nurul.
“Ya kakak, terima kasih.”
Amirul menuliskan data pada buku diary kakak kelasnya. Sebagai siswa baru di SMP, ia berusaha mengenal warga sekolah sebanyak mungkin.
“Hobi: Membaca buku;
Cita-cita: menjadi guru.”
Arul menulis dengan hati-hati biodata pada buku diary kakak kelasnya, Nurul.
“Wah, hobi kamu sangat bagus ya?”
“Ya kak, bagi saya membaca itu sudah seperti candu. Bikin nagih, heee.”
“Ya, Rul, kakak juga mempunyai hobi yang sama dengan kamu.”
“Rul, cita-citamu sangat mulia. Menjadi guru. Kakak doakan semoga cita-citamu berhasil.”
“Aamiin, terima kasih kakak.”
Setiap kali menulis biodatanya, Arul menulis cita-citanya “menjadi guru”. Biodatanya sudah menyebar ke sebagian warga sekolah. Setiap teman satu angkatan dan kakak kelas maupun guru yang membaca biodata Arul, selalu mengaamiinkan cita-cita Arul.
Setelah pertemuan Arul dengan kak Nurul saat MOS, Arul bergabung di ekstrakurikuler literasi. Ternyata Kak Nurul sebagai pengurus inti ekstrakurikuler literasi. Kegiatan ekstrakurikuler literasi diadakan seminggu sekali, pada sore Jumat.
Materi yang diberikan seputar literasi. Bagaimana anggota ekstrakurikuler menulis cerpen, pantun, kalimat mutiara, mading, puisi dan lain-lain. Bagi Arul, kegiatan ekstrakurikuler literasi sangat membantu ia menulis. Karyanya sering muncul di mading sekolah.
Saat SMP, nama Arul bersinar. Selain langganan juara kelas, karya-karyanya sering mejeng di media cetak lokal. Dari tulisan-tulisannya itu, ia menerima honor dari media cetak. Lumayan untuk menambah uang jajannya bahkan sebagian ia tabung.
Honor yang ia terima bisa membantu biaya sekolahnya. Ayah dan ibunya sebagai petani di kampung dengan pendapatan pas-pasan. Pagi hari menyadap getah karet dan sore hari mengurus kebun.
Doa kedua orang tuanya tak pernah lepas untuk Arul. Doa-doa yang selalu dilambungkan kepada pemegang dunia dan seisinya, Sang Maha Kaya, Tuhan Yang Maha Esa. Arul memahami keadaan ekonomi keluarganya. la belajar dengan tekun untuk menggapa cita-cita dan harapan kedua orang tuanya, menjadi guru. Cita-cita itu bukan dorongan kedua orang tuanya melainkan memang cita-cita dari Arul sendiri. Baginya menjadi guru adalah pekerjaan yang mulia. Mencetak generasi penerus bangsa sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.
Kini, Arul melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA. Ia harus hijrah ke kota karena SMA belum berdiri di kampungnya. Sebagai anak kost yang harus menghemat keuangan, ia sering puasa sunat Senin Kamis. Selain itu ia juga aktif di ekstrakurikuler literasi, pramuka dan Rohis. Dengan aktif diberbagai ekstrakurikuler, tidak menyurutkan semangat Arul untuk belajar. Bahkan ia mendapat beasiswa dari pemerintah karena memang tergolong siswa yang altif dan juara kelas.
la selalu juara kelas dan namanya sering nongol di mading sekolah. Selain itu ia juga sering mengrimkan tulisannya ke media cetak lokal. Ia meneruskan tradisi saat ia di SMP dulu.
Tak terasa tiga tahun berlalu. Hari itu adalah hari pengumuman kelulusan. Seluruh siswa kelas III dan orang tahu wajib hadir untuk menerima kelulusan putra-putrinya. Begitu juga dengan orang tua Arul. Ayah dan ibunya ia datangkan ke SMA untuk menerima kelulusan.
“Lulusan terbaik pertama, jatuh kepada Amirul Siddik…” suara pembawa acara terdengar jelas. Suara tepuk tangan riuh rendah. “Mohon kepada Amirul Siddik dan kedua orang tuanya naik ke panggung!”
Dengan langkah penuh semangat, Amirul Siddik yang biasa dipanggil Arul menggandeng kedua orang tua naik ke panggung. la menerima tropi, piagam penghargaan dan sejumlah bonus. Arul tersenyum bahagia. Begitu juga dengan kedua orang tuanya. Rasa bangga karena anaknya menjadi lulusan terbaik di SMA.
“Selamat, ya Pak, Ibu, ananda Amirul ini sangat cerdas!” puji kepala sekolah saat menyerahkan tropi, piagam penghargaan dan bonus juara.
“Terima kasih, Pak.” Senyum mengambang dari bibir kedua orang tua Arul. Rasa bahagia dan haru karena putranya telah lulus dari SMA sebagai lulusan terbaik. Jerih payah keduanya berbuah manis. Doa-doa yang mereka lantunkan setiap habis salat diijabah oleh Allah SWT.
Dengan dorongan kedua orang tuanya, Arul bisa melanjutkan studi strata 1. Disaat tidak ada jadwal kuliah, ia membantu kedua orang tuanya dikebun. la tidak malu dengan teman-temannya. la bekerja keras membentu ekonomi keluarga. Saat libur ia mengajar Les anak-anak di kampungnya. Selain itu ia juga membina pramuka di sekolah di kampungnya. Pekerjaan apapun ia lakukan selama itu halal dan tidak mengganggu jadwal kuliahnya.
Hari bersejarah itupun tiba. Arul berhasil lulus strata 1. Gelar S,Pd pun ia sandang. Amirul Siddik, S.Pd. Rasa syukur atas pencapaian langkah-langkah hidupnya karena doa-doa dan harapan kedua orang tuanya.
Kini, Arul mengabdi menjadi guru di sebuah SD di kampungnya sebagai CPNS. Cita-citanya yang sejak SMP selalu ia tulis di buku diary teman-temannya kini menjadi kenyataan. Ribuan bahkan jutaan doa telah disampaikan oleh orang tua, keluarga, dan teman-temannya kini berbuah manis. Dengan pencapaian itu, Arul tidak pernah sombong bahkan ia selalu mengucapkan rasa syukur. Memang, ucapan adalah doa-doa yang selalu dirangkaikan dan dilambungkan kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa. (BP/ KM)*
Catatan: Cerpen ini telah dibukukan dalam antologi Makna Kata Antologi Batch 11 oleh PT. LAN TULUNGAGUNG, September 2023.
