Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH dan Ali Usman (Ketua dan Sekretaris Masyarakat Sejarawan Indonesia Bangka Belitung)
Pada Tanggal 13 Februari 1946, dengan menggunakan Sembilan unit Truk dan dengan kekuatan 500 orang tentara serta dengan peralatan tempur yang lengkap, pasukan sekutu dan NICA mulai bergerak dari Kota Mentok menuju ke Kota Pangkalpinang (menempuh jarak sekitar 138 km), untuk menduduki dan menguasai Kota Pangkalpinang sebagai pusat Keresidenan Bangka Belitung dan sebagai lokasi markas Komando Resimen TRI Bangka Belitung. Mengetahui rencana pasukan sekutu yang membonceng di dalamnya pasukan NICA Belanda, markas besar TRI Bangka Belitung di Pangkalpinang kemudian berkoordinasi dengan seluruh kesatuan TRI yang berada di pulau Bangka untuk menghadapi dan menghambat laju pasukan sekutu dan NICA Belanda. Salah satu cara yang digunakan untuk menghambat dan menghadang laju pasukan Stoottroepen (pasukan kejut dan gerak cepat) yang dilakukan TRI adalah bersama dengan masyarakat menebang pohon-pohon di tepi jalan yang kemudian pohon tersebut dilintangkan di jalan antara Mentok menuju Pangkalpinang, serta dengan merobohkan beberapa jembatan penghubung antara Mentok menuju ke Pangkalpinang.
Berdasarkan Kajian Sejarah Objek Diduga Cagar Budaya Gedung Nasional Toboali di Kota Toboali Kabupaten Bangka Selatan oleh Akhmad Elvian dan Ali Usman Tahun 2023 bahwa, berita kemenangan Pasukan Sekutu yang di dalamnya membonceng pasukan NICA Belanda dipublikasikan oleh beberapa media seperti Nieuwe courant (25 Februari 1946), Helmondsche courant (13 April 1946), Nieuwsblad van het Zuiden : dagblad met ochtend- en avond-editie (23 Maret 1946) dan Strijdend Nederland (27 Juli 1946). Harian Helmondsche Courant menguraikan proses kedatangan militer Belanda di Mentok sampai berhasil menduduki Kota Toboali dengan judul Banka’s Bezetting Door de Stoottroepen. Pada tanggal 15 Februari 1949, pukul 2.30 pagi, Dua kompi militer Belanda berhasil memasuki dan menguasai Kota Pangkalpinang. Tanggal 18 Februari 1946, militer Belanda melanjutkan perjalanan menuju Kota Koba dan berhasil dikuasai tanpa perlawanan yang berarti. Mereka berhasil memasuki dan menguasai Kota Toboali pada tanggal 19 Februari 1946 jam 3.30 pagi. Dalam harian Nieuwsblad van het Zuiden: dagblad met ochtend- en avond-editie, dijelaskan lebih dramatis lagi tentang kedatangan tentara sekutu dan NICA ke Toboali: Tanggal 18 Februari 1946 berangkat menuju Toboali melalui Koba. Mereka menghadapi kendala yang cukup merepotkan yakni pohon berdiameter 2 meter melintang di jalan dan butuh 2 jam untuk membersihkannya. Saat memasuki Kota Toboali, militer Belanda disambut orang China; orang-orang berlarian di jalan-jalan sambil membawa tombak, pisau, pentungan dan beberapa karabin berkarat dengan bendera Cina. Mereka berhasil menduduki pelabuhan, menahan beberapa orang dan membebaskan banyak tahanan yang dipenjara sebelumnya oleh TRI. Harian Strijdend Nederland menulis dengan judul “Wij namen Toboali” artinya Kami Merebut Toboali, untuk menggambarkan keberhasilan memasuki kota Toboali dan disambut oleh orang-orang China dengan antusias dan bersahabat. Selengkapnya Harian Strijdend Nederland edisi 27-07-1946 , Wij namen Toboali: “Wij zullen onze entree in de stad niet licht vergeten, het was een schouwspel dat ons deed denken aan een opstand der hoorigen en lijfeigenen uit den rumoerigen tijd der Middeleeuwen. Met volle snelheid kwamen onze wagens binnenstuiven, gespannen wachtten wij, de wapens gereed tot vuren, op de dingen die komen zouden. En daar had je het! Uit huizen en hutten, uit hoeken en gaten kwamen plotseling kerels en vrouwen de straat op stormen. Zij waren gewapend met hoog opgeheven puntige stokken, speren en dreigende karabijnen of zwaaiden met flikkerende hakmessen en dolken. Op dit tumult remden onze chauffeurs snel af, wij waanden ons verzeild geraakt te midden van een extremistische bende en doken als de bliksem van de wagens. Maar spoedig bleek dat de brullende en als razenden te keer gaande menigte langszij ons niet vijandig gezind was en dat ‘t gejoel en het zwaaien met de opgeheven moordtuigen slechts enthousiaste verwelkoming beteekende. Het was de ondergrondsche beweging der Chineezen van Toboali, die wij voor ons haddens”. Artinya secara bebas kira-kira: “Kami merebut Toboali. Kami tidak akan dengan mudah melupakan pintu masuk kami ke kota, itu adalah tontonan yang mengingatkan kami pada pemberontakan para budak dan budak dari masa pergolakan Abad Pertengahan. Kereta kami datang dengan kecepatan penuh, kami menunggu dengan tegang, senjata siap ditembakkan, hal-hal yang akan datang. Dan begitulah! Dari rumah dan gubuk, dari sudut dan celah, pria dan wanita tiba-tiba menyerbu ke jalan. Mereka dipersenjatai dengan tongkat berduri tinggi, tombak dan karabin yang mengancam atau golok dan belati yang diacungkan. Pengemudi kami mengerem dengan cepat pada keributan ini, kami pikir kami telah tiba di tengah-tengah geng ekstremis dan menukik seperti kilat dari mobil. Tetapi segera menjadi jelas bahwa massa yang berteriak dan hiruk pikuk di samping kami tidak memusuhi kami, dan bahwa ejekan dan lambaian alat pembunuhan yang diangkat hanya berarti sambutan yang antusias. Itu adalah gerakan bawah tanah orang Tionghoa Toboali yang kami miliki sebelum kami”. Orang Tionghoa yang menyambut kedatangan tentara sekutu tersebut adalah dari Tentara Keamanan Tionghoa (TKT) atau Po On To. Tentara Keamanan Tionghoa (TKT) atau Po On To adalah sekelompok orang Tionghoa di pulau Bangka yang tidak mendukung Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dan mereka masih berharap Belanda akan kembali berkuasa di pulau Bangka.
Perlawanan TRI dan rakyat Bangka tidak berhenti total. 30 TRI yang barusan mendarat di pantai barat pulau Bangka, berusaha menduduki kota Toboali dan memutus jalan menuju Koba. Sebuah patroli militer Belanda bertemu dengan 40 TRI bersenjata di 5 km sebelah timur Tanjung (?), terjadi pertempuran singkat dan akhirnya melarikan diri. Tidak ada korban jiwa di pihak militer Belanda. Sebuah perahu TRI berhasil ditangkap dan menyita sejumlah dokumen di Mentok. Berita ini dimuat oleh harian Algemeen Handelsblad 27 Februari 1946, Provinciale Drentsche en Asser courant 27 Februari 1946, Trouw 27 Februari 1946, Amigoe di Curacao : weekblad voor de Curacaosche eilanden 27 Februari 1946, Nieuwe Haarlemsche courant 27 Februari 1946, dan Zeeuwsch Dagblad 28 Februari 1946. Harian Strijdend Nederland pada tanggal 27 April 1946 memuat kisah seorang tentara saat bertugas di Bangka, dari pertempuran di Tanjung Berikat melawan 300 TRI dan mengejar TRI yang melarikan diri sampai di wilayah onderafdeling Toboali. Pertempuran terjadi di wilayah Pemoedas (?) dan Rimboe (?) pada hari ke-4 dengan dukungan Kapal militer HNLMS Willem van de Zaan dari laut. Korban berjatuhan di kalangan TRI dan rakyat setempat, sementara wanita dan anak-anak Indonesia dibebaskan.
Berita lain dimuat harian Helmondesche Courant (8 November 1946), Nieuwsblad van het Zuiden : dagblad met ochtend- en avond-editie (9 November 1946), Axelsche Courant, Nieuws En Advertentieblad voor Zeeuwsch-Vlanderen (16 November 1946), Harlinger courant (10 Desember 1946), De Graafschapper (13 Desember 1946) dan Harlinger courant (17 Desember 1946) saat militer Belanda berusaha menjinakkan ranjau kapal yang mengancam operasional kapal keruk tambang timah di pulau Lepar dan Pulau Liat. Mereka melakukan perjalanan dari Toboali menuju Tokak (kini Desa Tukak Kecamatan Tukak Sadai), dilanjutkan naik Kapal Layar menyeberang ke Pulau Lepar, berlabuh di Kampung Sungai Sangat, menjelajahi Kampong Sungai Pangko, Tanjung Labu, dan terakhir ke Pongok (Pulau Leat). Walau tidak dijelaskan kapan peristiwa ini, namun kita bisa berasumsi peristiwa ini terjadi sekitar bulan Agustus-Oktober 1946, beberapa bulan setelah Toboali dikuasai Belanda. Gerilya TRI dan rakyat Toboali terus dilakukan dengan memasang ranjau laut yang mengancam operasional kapal keruk tambang timah milik BTW di Pulau Lepar. Berdasarkan tulisan artikel Rusmin Sopian, berjudul: “Umar Matali, Sahabat Bung Karno, Tutup Usia di Bangka” dari laman: https://nasional.tempo.co/read/734987/umar-matali-sahabat-bung-karno-tutup-usia-di-bangka, yang diakses tanggal 3 November 2023, dinyatakan, bahwa …berdasarkan kesaksian orang-orang tua di Toboali, salah satu upaya perlawanan terhadap militer Belanda dipimpin seorang Suhaili Toha yang dengan gagah berani melakukan penyerangan terhadap pos-pos militer di Kota Toboali, terutama di sekitar Benteng Toboali dan sekitar lokasi yang nanti dibangun Gedung Nasional Toboali (Tahun 1951). Dalam pertempuran ini, hanya Umar Matali (wafat 11 Januari 2016) yang selamat dan menjadi saksi sejarah atas peristiwa ini. Sementara Suhaili Toha, Karto Saleh (?), Alising, Said, Iso Sahak, Hamid dan Abdurahman yang bergabung dalam batalion 2 Bangka tewas.
Aksi pembersihan terus dilakukan oleh tentara sekutu dan NICA Belanda, terhadap TRI di seluruh wilayah pulau Bangka. Sisa-sisa pasukan TRI, yang membangun markas di Gunung Maras juga tidak luput dari penyerbuan oleh pasukan sekutu dan NICA Belanda. Terakhir pasukan sekutu dan NICA Belanda, pada Tanggal 12 April 1946 berhasil menangkap dan membawa Lima orang pemimpin TRI Bangka ke markas militernya di kampung Nibung (wilayah Kabupaten Bangka). Pada Tanggal 15 April 1946, Empat dari Lima pasukan TRI yang ditawan tersebut dihukum mati yaitu: Mayor Muhidin, Kapten H. Safiie, Kapten Yusuf Toyib, dan Kapten Suraiman Arif. Empat orang pasukan TRI yang dihukum mati pasukan NICA Belanda di kampung Nibung kemudian dikenal masyakat Bangka dengan sebutan Pahlawan Empat. Sementara itu seorang lagi dari anggota TRI yang ditangkap yaitu Letnan Admi Husin, dibawa pasukan NICA Belanda untuk menunjukkan lokasi persembunyian sisa-sisa pasukan TRI, akan tetapi kemudian Letnan Admi Husin bersama sisa pasukan TRI berhasil menyelamatkan diri.
Perlawanan TRI Resimen Bangka Belitung terus dilanjutkan dengan pertempuran melawan pasukan sekutu dan NICA Belanda di wilayah Tanjung Berikat (Bangka Tengah), di antara Resimen TRI Bangka Belitung kemudian ada yang menyeberang ke wilayah Sumatera Selatan. Pasukan TRI dari pulau Bangka yang terus berjuang di Palembang Sumatera Selatan ditetapkan dan ditempatkan dalam Kompi khusus yaitu Kompi Bangka Istimewa. Kompi Bangka Istimewa kemudian ikut terlibat dalam pertempuran Lima hari Lima malam di Palembang pada Tanggal 1 Januari 1947.
Aktifitas perlawanan TRI di pulau Bangka berhenti sekitar bulan Mei Tahun 1946, ketika Empatpuluh prajurit TRI menyerah dan Dua puluh dua lainnya ditangkap. Pada pertengahan bulan Juni 1946 pasukan penggempur Belanda meninggalkan Bangka dan hanya polisi dan Dua detasemen KNIL (Koninklijk Nederlands Indisch Leger atau Tentara Kerajaan Hindia Belanda) yang tetap di sana (Heidhues, 2008:190). (Habis).
