Wisata Religi dan Jejak Islamisasi Dari Masjid Tertua Di Mentok 

Masjid Jamik Mentok Bangka Barat

Penulis: Belva Al Akhab dan Satrio

Bekaespedia.com, Mentok,-  Pagi Kamis (19/02/2026), embun masih menempel di daun kelapa ketika azan Subuh mengalun dari menara tua di jantung kota Mentok. Suaranya lembut seperti doa yang melintas di atas rumah-rumah kayu, ruko-ruko tua berplafon tinggi dan gang sempit yang dulu menjadi jalur para pedagang timah menuju pelabuhan.

Di kejauhan, asap dupa dari altar Klenteng Kong Fuk Miau mengepul tipis, bercampur dengan udara asin dari pesisir barat Pulau Bangka.

Di kota kecil ini, azan dan dupa telah hidup berdampingan lebih dari satu abad dan di tengah pertemuan sunyi itu berdiri Masjid Jami Mentok, masjid tertua di Mentok, saksi perjalanan Islam di tanah timah sekaligus saksi persaudaraan lintas iman yang bertahan hingga hari ini.

Bangka Barat dikenal sebagai gerbang awal kolonialisme di Bangka. Dari pelabuhan Mentok, timah dikirim ke Eropa, India dan Cina. Kapal-kapal membawa pedagang Melayu, Arab, Gujarat dan Tionghoa.

Namun sebelum kolonialisme menorehkan garis di peta, jalur laut Nusantara telah menjadi jalan dakwah.

Islam datang bukan dengan pedang, tetapi dengan pelayaran, perkawinan, dan kejujuran para pedagang.

Di Mentok, para saudagar dari Palembang dan Riau mengajar anak-anak mengaji di serambi rumah. Para nelayan belajar doa sebelum melaut. Para ibu menghafal surah pendek sambil menumbuk lada.

Mento

Islam tumbuh seperti rumput liar yang lembut diam-diam, tapi kuat.

Masjid permanen baru muncul ketika masyarakat Muslim Mentok telah mapan secara ekonomi dan sosial.

Itulah awal berdirinya Masjid Jami Mentok.

Menurut Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Bangka Barat, M. Ferhad Irvan.S.T., masjid ini dibangun tahun 1880 dan diresmikan 1883.

Masjid ini menjadi masjid pertama di Bangka yang dibangun dari batu. Sebelumnya, surau-surau kecil hanya terbuat dari papan.

“Masjid ini menandai perubahan penting dalam sejarah Islam di Bangka,” kata M.Ferhad Irvan.

Dinding batu masjid menjadi simbol kemapanan ekonomi masyarakat Muslim Mentok yang tumbuh dari perdagangan timah.

Di dalam masjid, lantai dingin menyimpan jejak ratusan Ramadhan, ribuan doa dan jutaan sujud.

Masjid ini bukan sekadar bangunan. Ia adalah ingatan kolektif.

Demang yang Bermimpi Tentang Kota

Masjid ini lahir dari mimpi seorang demang Mentok abad ke-19, Abang Muhammad Ali.

Ia pernah mengunjungi kota-kota di Jawa dan Semenanjung Melayu, melihat masjid megah berdiri di pusat kota. Ia percaya Mentok juga harus memiliki masjid yang menjadi cahaya spiritual masyarakat.

Sebagai pemimpin distrik dan saudagar, ia mengumpulkan tokoh masyarakat dan pemilik harta. Mereka bergotong royong membangun masjid.

Masjid ini bukan proyek individu, tetapi proyek umat.

Pemilihan lokasinya pun penuh hikmah.

Pada abad ke-19, masyarakat Melayu Mentok terbagi dalam beberapa kelompok keluarga besar. Masjid dibangun di titik netral agar semua kelompok datang bersama.

Masjid menjadi alat persatuan.

Hingga hari ini, saf-saf shalat di masjid itu masih diisi orang dari kampung-kampung berbeda.

Tak jauh dari masjid berdiri Klenteng Kong Fuk Miau, dibangun lebih dulu sekitar 1830.

Kedua bangunan berdiri berdampingan.

Bagi wisatawan, itu simbol toleransi.

Bagi warga Mentok, itu kehidupan sehari-hari.

Di hari raya Imlek, warga Muslim membantu parkir kendaraan di klenteng. Saat Idul Fitri, warga Tionghoa datang bersilaturahmi.

Di pasar, bahasa Melayu bercampur dialek Hakka. Di dapur, bumbu Tionghoa berpadu rempah Melayu.

Masjid dan klenteng bukan hanya bangunan.

Mereka adalah dua doa yang tumbuh dari tanah yang sama.

Islamisasi di Mentok tidak terjadi lewat konflik. Ia terjadi lewat kehidupan.

Anak-anak belajar Al-Qur’an di serambi masjid. Pedagang mengajarkan kejujuran. Ulama mengajarkan tasawuf dan akhlak.

Dalam tradisi Melayu Bangka, adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah.

Masjid Jami Mentok menjadi pusat pendidikan agama dan budaya.

Di sanalah orang belajar membaca Al-Qur’an, menikah, bermusyawarah, dan berdamai.

Jejak Islamisasi bukan hanya di kitab, tetapi di kebiasaan.

Pada bulan Ramadhan, Masjid Jami Mentok menjadi lautan cahaya.

Lampu serambi menyala kuning lembut. Anak-anak duduk membaca mushaf kecil. Para nelayan datang setelah melaut.

Bubur kacang hijau dibagi di halaman. Kurma disusun di piring seng tua.

Suara tarawih mengalun hingga ke gang-gang kota tua.

Ramadhan di Mentok bukan hanya ibadah tetapi ia wisata ruhani.

Pengunjung dari luar daerah datang merasakan suasana ibadah di masjid berusia lebih dari seabad.

Di bawah langit laut barat Bangka, tarawih terasa lebih khusyuk.

Potensi Wisata Religi yang Terlupakan

Mentok memiliki pelabuhan tua, rumah kolonial, makam tokoh perang dunia dan masjid bersejarah.

Namun wisata religi belum tergarap serius.

Masjid Jami Mentok jarang masuk peta wisata nasional.

Padahal ia menyimpan narasi besar tentang Islam Nusantara, toleransi dan sejarah perdagangan.

Jika dirawat dan dipromosikan, Mentok bisa menjadi kota wisata religi penting di Indonesia.

Tur sejarah masjid, dokumentasi arsip, papan informasi multibahasa dan festival Ramadhan bisa menjadi langkah awal.

Wisata religi bukan sekadar kunjungan. Ia perjalanan batin.

Bangunan tua di Mentok banyak rusak. Arsip hilang. Generasi muda tidak mengenal sejarah kota mereka.

Modernisasi tanpa perawatan bisa menghapus jejak masa lalu.

Jika Masjid Jami Mentok tidak dirawat sebagai warisan budaya, ia bisa kehilangan maknanya.

Masjid ini bukan hanya milik umat Islam, tetapi milik sejarah Bangka.

Di tengah meningkatnya intoleransi di berbagai tempat, kisah Mentok memberi pelajaran.

Bahwa Islam di Nusantara tumbuh bersama budaya lokal.

Bahwa toleransi lahir dari kebiasaan sehari-hari.

Bahwa masjid bisa menjadi pusat perdamaian.

Masjid Jami Mentok berdiri sebagai saksi bahwa keberagaman bukan ancaman.

Ia adalah kekayaan.

Sore hari, azan Magrib kembali menggema. Lampu-lampu klenteng menyala merah di kejauhan.

Anak-anak bermain di halaman masjid. Pedagang bakso lewat. Orang tua duduk di bangku kayu bercerita tentang masa lalu.

Masjid Jami Mentok berdiri diam.

Ia melihat kolonialisme datang dan pergi. Ia melihat tambang timah naik dan jatuh. Ia melihat generasi berganti.

Ia tetap berdiri di antara azan dan dupa sebagai saksi bahwa kota kecil di pesisir Bangka pernah menemukan cara hidup bersama.

Dari menara tuanya, azan terus memanggil manusia pulang.

Exit mobile version