Zakat dan Kepemimpinan: Fondasi Pembangunan Sosial, Moral dan Menguatkan Solidaritas Bangka Barat

Laporan : Belva Al Akhab & Satrio

Bekaespedia.com., Kelapa,- senja turun perlahan di Desa Kayu Arang. Cahaya lampu Masjid Nurul Islam menyala temaram, memantulkan bayang-bayang wajah warga yang duduk bersila. Di ruang itulah, Wakil Bupati Bangka Barat, H. Yus Derahman, memosisikan Ramadan bukan sekadar ritual tahunan, melainkan fondasi pembangunan nilai sosial.

Safari Ramadhan 1447 H/2026 M pada Rabu (4/3/2026) menjelma lebih dari agenda seremonial. Ia menjadi panggung di mana negara, lembaga zakat dan korporasi bertemu dalam satu narasi yaitu pelayanan sosial sebagai wajah kepemimpinan.

“Ramadan adalah madrasah kehidupan. Kita belajar menahan lapar, tetapi juga menahan amarah dan keserakahan. Jika nilai ini kita amalkan, Bangka Barat akan tumbuh bukan hanya secara ekonomi, tetapi juga secara moral,” ujar Yus Derahman di hadapan jamaah.

Di tengah tantangan pembangunan daerah, pernyataan itu seperti garis tegas bahwa infrastruktur tanpa karakter hanyalah bangunan sunyi. Dalam perspektifnya, moralitas adalah tanah tempat kebijakan berakar. Pembangunan jiwa menjadi arsitektur yang tak kasatmata, tetapi menentukan kokohnya stabilitas sosial.

Malam itu, tidak ada jarak protokoler. Anak-anak duduk di lantai masjid, para orang tua menyimak dengan khidmat, pejabat daerah membaur tanpa sekat simbolik. Safari Ramadhan menjadi “kebijakan kehadiran” sebuah pendekatan di mana pemerintah turun langsung, menyentuh denyut sosial masyarakat.

Camat Kelapa, Hj. Resmayana, menyebut santunan yang disalurkan sebagai tanda konkret empati negara.

“Bantuan ini bukan sekadar materi, tetapi simbol bahwa negara hadir,” ujarnya.

Bagi Resmayana, Kecamatan Kelapa bukan sekadar wilayah administratif. Ia adalah simpul yang menjahit aspirasi desa dengan kebijakan kabupaten. Di titik itu, pelayanan publik menemukan wajahnya yang paling manusiawi dalam mendengar, menyapa dan merangkul.

Zakat sebagai Bahasa Solidaritas

Di dalam masjid, zakat berbicara dalam bahasa yang lebih lembut dari angka. BAZNAS Bangka Barat menyalurkan bantuan tunai kepada 20 penerima manfaat. Bagian Kesra menghadirkan perlengkapan masjid terdiri dari kipas angin, sajadah, vacuum cleaner, Al-Qur’an. Bank Sumsel Babel menyerahkan 10 paket sembako, sementara PT THEP menambah lima paket sembako.

Ketua BAZNAS Bangka Barat, Drs. Lili Suhendra NATO, menegaskan dimensi batin dari zakat.

“Zakat bukan sekadar angka, tetapi doa yang berubah menjadi beras, menjadi uang tunai, menjadi harapan.” ucap Lili Suhendra.

Dalam lanskap nasional, potensi zakat Indonesia disebut mencapai ratusan triliun rupiah per tahun. Namun di Kayu Arang, zakat tidak dibaca sebagai statistik. Ia hadir sebagai pelukan kemanusiaan.

Wakil Ketua Pengumpulan, H. Hasyim Baharudin, melihat sinergi ini sebagai pertemuan kekuatan sosial.

“Kolaborasi ini membuktikan bahwa zakat bisa bergerak bersama pemerintah dan perusahaan untuk memperkuat solidaritas umat.” jelas Hasyim.

Wakil Ketua Keuangan, H. Zumrowi Achyar, menekankan amanah dalam setiap rupiah.

“Setiap rupiah zakat adalah tangisan harapan masyarakat. Kami pastikan bantuan ini sampai dengan jujur dan tepat.” tutur Zumrowi.

Sementara Wakil Ketua Administrasi, H. Nurzali Hamid, menegaskan bahwa santunan tidak mengenal sekat identitas.

“Bantuan ini tidak melihat perbedaan suku atau agama. Yang dilihat adalah siapa yang membutuhkan.” jelas Nurzali.

Di sudut lain, anggota BAZNAS, Wasis Utama Edi, mengaku terharu menyaksikan respons warga.

“Saya melihat bukan hanya senyum penerima, tetapi pelukan toleransi di antara warga. Inilah makna Safari Ramadhan sebagai zakat yang menghidupkan kasih sayang lintas iman.” tutur Wasis dengan penuh haru.

Tausiah Ustadz Mudalil Muzakir menambah lapisan makna. Ia menyebut empat golongan yang dirindukan surga yaitu pembaca Al-Qur’an, penjaga lisan, pemberi makan orang lapar dan orang yang berpuasa.

Empat pesan itu menemukan wujudnya malam itu yaitu ayat-ayat dilantunkan, lisan dijaga dalam silaturahmi, makanan dibagikan melalui santunan, dan puasa dijalankan bersama. Ritual kolektif menjadi ekologi sosial yaitu ruang di mana solidaritas tumbuh dan kepercayaan dipupuk.

Dalam pendekatan sosiologi agama, ritual bersama memperkuat kohesi masyarakat. Di Kayu Arang, kohesi itu mengambil bentuk kolaborasi antara pemerintah, lembaga zakat dan sektor swasta. Pembangunan nilai sosial tidak hanya dibicarakan tetapi ia dipraktikkan.

Safari Ramadhan ini secara strategis membingkai tiga citra yang saling menguatkan:

H. Yus Derahman sebagai pemimpin yang menjadikan Ramadan fondasi pembangunan moral.

BAZNAS Bangka Barat sebagai pengelola zakat yang profesional dan humanis.

Kecamatan Kelapa sebagai penggerak pelayanan sosial yang responsif.

Namun di balik citra itu, ada kerja senyap yang lebih dalam untuk membangun kepercayaan publik. Ketika pemimpin hadir di desa, ketika zakat disalurkan dengan transparan, ketika kecamatan menjembatani aspirasi warga di situlah legitimasi tumbuh.

Senja berubah menjadi malam. Lampu masjid memancarkan cahaya lembut, wajah-wajah penerima bantuan menyiratkan harap. Safari Ramadhan mungkin berlangsung beberapa jam, tetapi narasi yang ditinggalkannya lebih panjang yaitu tentang pembangunan yang tidak hanya menata jalan dan gedung, tetapi juga menata jiwa.

Di Desa Kayu Arang, Ramadan menjadi ruang di mana kepemimpinan, zakat dan pelayanan publik menyatu dalam satu tenunan makna bahwa pembangunan sosial adalah cahaya yang menyala dari desa, lalu menerangi Bangka Barat.

Exit mobile version