Penulis: Belva Al Akhab, Satrio dan Eko
Bekaespedia.com, Bangka Barat, – Sekitar 700 ekor ayam hidup dan bertelur di balik tembok Rutan Kelas IIB Mentok, Kabupaten Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung. Dari kandang itu, sekitar 350 butir telur setiap hari dihasilkan. Sebagian masuk ke dapur Rutan, sebagian lainnya menembus keluar tembok untuk memenuhi kebutuhan konsumen.
Namun, yang sedang dibangun di sana sesungguhnya bukan hanya kandang ayam.
Di area Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE), warga binaan sedang belajar sesuatu yang jauh lebih panjang dari sekadar cara memelihara unggas: bagaimana menghasilkan pangan, mengelola pekerjaan, menjaga kualitas produksi dan membawa keterampilan itu pulang ketika masa pidana berakhir.
Di sanalah ketahanan pangan bertemu dengan ketahanan manusia.
Sekitar 600 ekor merupakan ayam petelur, sedangkan lebih dari 100 ekor lainnya ayam kampung Merawang. Dari ayam petelur, produksi saat ini mencapai sekitar 300 butir telur per hari. Sementara ayam kampung Merawang menghasilkan sekitar 50 butir telur setiap harinya.
Angka-angka tersebut mungkin terlihat sederhana jika dibandingkan dengan skala kebutuhan pangan masyarakat. Tetapi di balik angka itu terdapat sebuah proses pembinaan yang tidak sederhana untuk mengubah waktu di balik jeruji menjadi pengalaman kerja yang dapat digunakan setelah seseorang kembali ke tengah masyarakat.
Kepala Rutan Kelas IIB Mentok, Andri Ferly, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan 15 Program Aksi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan serta Asta Cita Presiden Republik Indonesia, khususnya dalam bidang ketahanan pangan.
Setiap butir telur yang dihasilkan dari kandang tersebut memiliki dua perjalanan.
Telur ayam petelur diserap untuk memenuhi kebutuhan bahan makanan di Rutan Mentok. Pengelolaan bahan makanan dilakukan oleh pihak ketiga yang membeli telur melalui Koperasi Pegawai Rutan Mentok.
“Kalau ayam petelur, telur ayam petelur itu langsung diambil oleh pengelola bahan makanan di Rutan Mentok, yaitu pihak ketiga. Mereka langsung membeli kesini, karena dikelola oleh Koperasi Pegawai Rutan Mentok,” ujar Andri saat dikonfirmasi, Senin, 6 Oktober 2026.
Sementara telur ayam kampung Merawang dipasarkan ke luar Rutan. Produk tersebut telah memiliki pelanggan yang datang mengambilnya secara langsung untuk kebutuhan konsumsi.
Dengan demikian, kegiatan di SAE tidak berhenti ketika telur keluar dari kandang.
Ada produksi. Ada penyerapan. Ada distribusi. Dan ada proses belajar yang berlangsung bersamaan.
Dalam skala mikro, siklus tersebut memperlihatkan bagaimana ketahanan pangan tidak selalu harus dimulai dari lahan yang luas atau industri besar. Ia dapat tumbuh dari ruang-ruang kecil, termasuk dari balik tembok lembaga pemasyarakatan.
Ketahanan pangan sering dibaca melalui ketersediaan bahan makanan: apakah pangan cukup, apakah produksi berjalan dan apakah kebutuhan konsumsi dapat dipenuhi.
Tetapi pembangunan ketahanan pangan di Rutan Mentok membawa makna lain.
Pangan yang dihasilkan bukan sekadar komoditas. Proses menghasilkan pangan menjadi instrumen pembinaan.
Warga binaan tidak hanya melihat ayam sebagai hewan yang harus diberi makan. Mereka belajar bahwa produksi membutuhkan ketekunan, keteraturan dan tanggung jawab.
Ayam harus diberi pakan. Air minum harus tersedia. Kandang harus dijaga. Kebersihan harus diperhatikan. Kondisi ayam harus dipantau. Produksi telur harus dijaga agar tetap optimal.
Kesalahan kecil dalam pemeliharaan dapat berpengaruh pada hasil.
Dalam ruang semacam itulah pembinaan menemukan bentuknya yang konkret.
Bukan ceramah tentang disiplin, melainkan pekerjaan yang menuntut disiplin.
Bukan sekadar nasihat tentang tanggung jawab, melainkan rutinitas yang membuat seseorang bertanggung jawab terhadap makhluk hidup dan hasil pekerjaan yang berada di bawah pengawasannya.
Pengelolaan peternakan tersebut dilakukan oleh warga binaan yang telah memasuki sekitar setengah masa pidana atau tahap reintegrasi sosial menuju integrasi sosial maupun pembebasan bersyarat.
Artinya, kegiatan tersebut ditempatkan sebagai bagian dari perjalanan seorang warga binaan sebelum kembali ke masyarakat.
Andri menegaskan, kesempatan mengikuti kegiatan tersebut tidak diberikan secara khusus kepada orang tertentu.
“Yang mengurus dan merawat itu para warga binaan yang sudah masuk setengah masa pidana atau masa reintegrasi sosial untuk menuju integrasi sosial atau pembebasan bersyarat, dan itu berlaku kepada seluruh narapidana, seluruh warga binaan, tidak ada perlakuan khusus,” lanjutnya.
Di titik ini, kandang ayam berubah menjadi semacam sekolah kehidupan.
Warga binaan belajar dari rutinitas yang sederhana tetapi memiliki konsekuensi nyata.
Ayam tidak mengenal hari libur ketika harus diberi makan. Kandang tidak akan membersihkan dirinya sendiri. Produksi tidak akan datang tanpa pemeliharaan.
Ada hubungan langsung antara pekerjaan dan hasil.
Mungkin justru di situlah nilai pembinaan tersebut berada.
Bagi lembaga pemasyarakatan, keberhasilan pembinaan pada akhirnya tidak semata-mata diukur dari apa yang terjadi selama seseorang berada di balik tembok.
Pertanyaan yang lebih penting adalah apa yang terjadi setelah tembok itu tidak lagi mengurungnya.
Ketika pintu Rutan terbuka dan warga binaan kembali ke rumah, ke keluarga, ke lingkungan sosial, mereka membutuhkan lebih dari sekadar status telah selesai menjalani masa pidana.
Mereka membutuhkan kemampuan untuk berdiri kembali.
Budidaya ayam petelur menjadi salah satu upaya untuk memberikan kemampuan tersebut.
Andri mengatakan, warga binaan mendapatkan pengetahuan praktis mengenai cara memelihara ayam, mengatur pakan dan minum, menjaga kondisi kandang hingga mempertahankan kualitas produksi telur.
“Sangat, sangat. Ini jadi bekal mereka untuk mengetahui bagaimana beternak ayam petelur, bagaimana memaksimalkan telur ayam itu berproduksi dengan bagus, cangkangnya, makannya seperti apa, minumnya seperti apa, supaya enggak bau kandangnya seperti apa,” tuturnya.
Pengetahuan itu mungkin terlihat sederhana.
Tetapi bagi seseorang yang sedang mempersiapkan diri kembali ke masyarakat, keterampilan sederhana dapat menjadi modal yang berarti.
Seseorang yang sebelumnya hanya menjalani hari demi hari di balik jeruji kini memiliki pengalaman merawat ternak, memahami proses produksi dan mengenal bagaimana sebuah kegiatan pangan dikelola.
Dari Jeruji Menuju Kemandirian
Di sinilah pembangunan ketahanan pangan di Rutan Mentok memiliki lapisan makna yang lebih dalam.
Jika pangan menjadi kebutuhan dasar manusia, maka kemampuan menghasilkan pangan merupakan salah satu bentuk kemandirian.
Karena itu, ketika warga binaan dilibatkan dalam peternakan, yang sedang dibangun bukan hanya pasokan telur.
Yang sedang dibangun tentang kemampuan manusia untuk kembali produktif.
Ketahanan pangan dan reintegrasi sosial akhirnya bertemu di tempat yang sama.
Satu berada di kandang.
Satu lagi berada dalam diri manusia yang bekerja di dalamnya.
Sekitar 350 butir telur yang dihasilkan setiap hari menjadi bukti bahwa kegiatan tersebut memiliki keluaran produksi. Namun ukuran keberhasilannya tidak seharusnya berhenti pada jumlah telur.
Ada ukuran lain yang jauh lebih panjang tentang berapa banyak keterampilan yang berhasil dipelajari, berapa banyak tanggung jawab yang tumbuh, dan sejauh mana pengalaman tersebut dapat menjadi bekal ketika warga binaan kembali ke masyarakat.
Pembangunan ketahanan pangan kerap dibicarakan dengan bahasa angka: produksi, konsumsi, distribusi dan ketersediaan.
Tetapi dari balik tembok Rutan Mentok, ketahanan pangan memperlihatkan wajah yang lebih manusiawi.
Ada tangan-tangan warga binaan yang memberi pakan.
Ada rutinitas membersihkan kandang.
Ada telur yang dikumpulkan setiap hari.
Ada produk yang masuk ke dapur Rutan.
Ada telur Merawang yang dibawa keluar dan dibeli pelanggan.
Ada manusia yang perlahan belajar bahwa sebuah hasil tidak pernah datang tanpa proses.
Kandang itu mungkin hanya berada di belakang tembok kedua Rutan Mentok.
Namun maknanya dapat berjalan lebih jauh daripada batas tembok tersebut.
Sebab ketika seseorang belajar menghasilkan pangan, sesungguhnya ia sedang belajar tentang kehidupan: bahwa sesuatu yang dirawat dengan disiplin dapat menghasilkan manfaat.
Pada akhirnya, ayam-ayam itu bukan hanya sedang diternakkan.
Harapan pun sedang dipelihara.
Ketahanan pangan menjadi pintu masuk. Pembinaan menjadi prosesnya. Keterampilan menjadi bekalnya. Kemandirian menjadi tujuan yang hendak dicapai.
Sebab keberhasilan pemasyarakatan bukan hanya ketika seorang warga binaan keluar dari pintu Rutan.
Keberhasilan yang lebih besar adalah ketika ia keluar dengan kemampuan untuk kembali bekerja, kembali produktif dan kembali mengambil bagian dalam kehidupan masyarakat.
Di balik tembok Rutan Mentok, sekitar 700 ekor ayam mungkin sedang menghasilkan telur setiap hari.
Tetapi yang sesungguhnya sedang dibangun adalah sesuatu yang tidak dapat dihitung dengan butir telur tentang kesempatan untuk memulai kembali kehidupan.












