Jembatan Seribu Aksara 

Oleh: Jesika Oktaviani (SMPN 2 Koba)

 

Selat bunyi adalah garis batas paling sunyi di dunia, bukan karena tidak ada suara melainkan karena suara-suara di sana tidak pernah bertemu. la terbentang seperti luka biru, memisahkan dua peradaban bahasa yang kontras. Di Timur Selat, berdiri Desa Logat, sebuah permadani warna-warni yang ditenun dari percakapan. Di sana setiap kalimat adalah musik mengalir deras, penuh irama, dialek, kearifan lokal, dan intonasi yang spontan sebuah bahasa yang hidup di ujung lidah dan hati. Di barat terhampar kota ejaan metropolis kaca, baja, dan logika.

Di sana komunikasi adalah sains dan efisien. Kata-kata harus diukur, distrukturkan, dan bebas dari ambiguitas emosional. Bahasa adalah algoritma yang harus diselesaikan. Di Desa Logat hiduplah Lina seorang gadis tujuh belas tahun yang senyumnya sehangat dialek ibunya yang kaya metafora. Lina adalah pencerita alami ia bisa mengubah nuansa cerita dari tragedi menjadi komedi hanya dengan menggeserkan sedikit intonasi. Ia percaya kata-kata tanpa rasa adalah tubuh tanpa jiwa. Di seberang selat di Kota Ejaan ada Arif seorang insinyur muda berusia delapan belas tahun lulusan terbaik yang pandai merangkai kode dan kalimat baku dengan sempurna.

Namun, di luar ruang server dan dokumen teknis, ia canggung dalam obrolan bebas. Baginya, setiap kata adalah variabel yang harus memberi hasil yang definitif, bukan emosi yang terukur. Festival tahunan mendekat. Festival itu seharusnya menjadi momen persatuan diadakan tepat di atas jembatan tengah, alih-alih merajut, festival itu justru merobek. Panitia dari kedua sisi bersitegang dalam rapat terakhir yang berakhir dramatis. “Penyampaian harus lisan, penuh rasa, dan menggunakan bahasa hati bahasa kita adalah warisan, bukan diktat!” Teriakan perwakilan Desa Logat, Haji Durma yang suaranya selalu bergema.

“Tidak bisa! Harus baku, terstruktur, dan disajikan oleh proyektor agar bisa dipahami secara universal!” Kata profesor Baskara. Dengan nada logis dan dingin, emosi menguburkan makna struktur adalah jembatan sebenarnya! Ketegangan itu terasa seperti udara dingin yang tebal, melayang diatas jembatan. Jembatan tengah yang seharusnya menjadi simbol, kini terasa seperti medan perang yang beku. Suatu sore Lina yang muak dengan pertengkaran orang tua menyelinap ke jembatan tengah, tujuannya adalah mencari sisa-sisa kayu cendana yang konon bisa mengharumkan kata-kata dan menenangkan hati yang marah. Saat tiba di sana, di bagian tengah jembatan ia menemukan Arif yang duduk bersila di depan penerjemah otomatis yang mati total. Arif tampak frustasi, memukul-mukul keyboard dengan kepalan tangan.”Kenapa Mas? komputer Mas, ngambek ya?” sapa Lina dengan nada dialek logat yang renyah. Arif bingung mesin itu adalah upaya terakhir dari kota ejaan untuk mengatur Festival ke bahasa baku secara real-time. Arif menoleh sedikit terkejut dengan nada bicara yang asing. “sistemnya eror entah kenapa kode bahasa logat saling menolak.”

Aku sudah mencoba syntax formal, bahkan compiler terbaru. Data bahasa logat tidak mau masuk ke dalam logika frame work. “Ia menghela napas, gestur yang jarang ia lakukan. Lina mendekat mengabaikan kabel-kabel yang berserakan. Ia memperhatikan alur kabel yang ruwet, tidak peduli pada digital melainkan pada koneksi fisik.

“Bisa jadi bukan karena syntax yang salah Mas, tapi urutan rasanya. Di logat kami mulai dari rasa dulu baru cari katanya. Katanya menyesuaikan perasaan yang ingin disampaikan.”

Arif mengerutkan kening, ia kebingungan antara menghina atau terkesima.

“Rasa? Itu tidak logis, bahasa adalah logika. Struktur, aturan, rasa adalah anomali yang harus dieliminasi untuk komunikasi yang efisien.”

Lina tidak tersinggung ia mengambil potongan kayu kecil satu lurus dan kaku dari bekas kontruksi ejaan, satu lagi berlekuk dan harum dari cendana logat.

“Coba lihat, Mas” ia menyilangkan keduanya, “bahasa itu jembatan, kalo cuma satu sisi yang kokoh, terbuat dari baja logika, sementara sisi lain kayu yang fleksibel, mana bisa menyeberang? Kita harus menggunakan keduanya.”

Arif terdiam tatapannya teralih dari layar mati ke silangan kayu di tanggan Lina, ia merasakan ada sesuatu yang tidak beres, ia telah menghabiskan waktu untuk membangun tembok logika, tembok tidak akan menjadi jembatan. Sejak hari itu, mereka mulai bertemu secara diam-diam.

Jembatan tengah menjadi ruang kelas rahasia mereka. Ia duduk di pasar logat mendengarkan Lina tawar-menawar dengan penjual gerabah. Ia menuliskan semua dialek mencoba menyusunya ke dalam database linguistik yang logis. Namun, setiap intonasi Lina mengubah definisinya.

“Apa maksud mu dengan nggong?” tanya Arif kebingungan sambil melihat catatan penuh istilah lokal.

Lina tertawa suaranya seperti gemercik air. “ng-gong, Mas, itu bunyi saat membuat gerabah, saat diputar, tangan kita memijatnya. Itu juga bisa berarti kerja keras yang dilakukan dengan hati.”

Arif mengangguk, masih terlihat bingung. “Aku rasa aku perlu waktu untuk memahami dialek ini.”

Ini seperti mempelajari bahasa pemograman yang baru, yang seluruhnya terdiri dari bug yang indah, Mas,” balas Lina. la berjuang dengan kerangka tata bahasa kaku yang diajarkan Arif. Di sisi lain, Lina merasa frustrasi dengan kekauan Arif. Saat mereka berjalan di pasar, ia mencoba menarik Arif kedalam obrolan santai.

“Tidak perlu selalu formal, Mas, kadang-kadang kita bisa bicara biasa saja seperti air mengalir, tidak perlu diukur setiap tetesannya,” katanya.

Arif tersenyum tipis, senyum yang terasa kaku.

“Aku ingin memastikan bahwa aku bisa menjelaskan dengan tepat, Lina. Jika aku mengunakan kata sekadar, padahal maksud ku adalah hanya. Itu adalah ketidaktepatan linguistik yang bisa disalahpahami”.

Perbedaan pandang mereka tentang rasa menjadi inti dari perdebatan mereka.

“Rasa itu tentang nuansa, emosi, dan ikatan, Mas”, kata Lina menjelaskan bagaimana sebuah kata yang sama bisa berarti rindu, marah, atau bahagia tergantung dari tarik nafas kata.

“Tapi bagaimana dengan logika? Bahasa harus memiliki struktur yang jelas. Bagaimana kita bisa membangun fondasi jika definisi selalu berubah-ubah seperti pasir? fondasi yang baik itu fleksibel, Mas. Seperti akar pohon, yang bisa bergerak,” jawab Lina, dengan metafora yang mengalir spontan.

Mereka mulai menemukan titik temu. Arif mulai menyadari bahwa intonasi Lina semacam metadata emosional yang melengkapi kata-kata, memberinya konteks keantusiasan yang hilang dalam bahasa baku. Lina, disisi lain belajar bahwa struktur Arif adalah tiang penyangga yang kokoh membuat pesan tidak mudah roboh di tengah emosi saat festival tiba, konflik mencapai puncaknya, Arif dan Lina berdiri di atas jembatan, Haji Durma dan Profesor Baskara saling berhadapan siap kembali ke wilayah masing-masing.

Tepat saat matahari tengelam. Lina dan Arif melangkah ke tengah. Penerjemah otomatis yang sudah mereka perbaiki kini ditaruh di sana tetapi mereka mematikannya. Mereka berdiri di antara dua dunia. Lina mulai, ia bercerita tentang jembatan tengah, tentang bagaimana kayu dan besi harus menyatu berdiri tegak, ia mengunakan dialek paling khasnya penuh cengkok dan penuh logika orang-orang kota, ejaan bingung, mereka hanya mendengar bunyi yang indah tapi tidak dapat mereka pahami. Lalu, Arif mengambil alih. Ia tidak menerjemahkan kata demi kata, melainkan rasa cerita Lina. Ia mengungkapkan cerita Lina, tetapi dalam bahasa baku yang jelas, menjelaskan makna harfiahnya, dan yang terpenting, menjelaskan mengapa Lina memilih intonasi tertentu.

“ini adalah penekanan pada kata menyatu,” kata Arif, menunjuk ke titik di mana Lina meninggikan suaranya. Di logat penekanan ini menyiratkan kesatuan kemudian mereka melakukannya lagi. Arif menceritakan desain jembatan tengah menggunakan istilah kata ejaan teknis tumpu tegangan, dan arsitektur cantilefer. Logat bingung. Lina mengulangnya. Ia tidak mengunakan istilah teknis yang sama tetapi menggantinya dengan loga metafora yang hangat. Ia menceritakan ikatan kayu dan besi yang tak terputus. la menyempurnakan cerita baku itu dengan intonasi Logat, menambahkan nyanyian logat yang menjelaskan bahwa struktur yang kuat adalah wujud dari pengorbanan bersama. Tiba-tiba, seeorang anak dari Kota Ejaan tertawa terbahak-bahak mendengar cara Lina menirukan intonasi khas ayahnya. Seeorang kakek dari Desa Logat mengangguk terharu ketika Arif menjelaskan arti kata kuno yang hampir hilang dari bahasa baku.

“Kita berbeda, tapi kita sama!” seru Lina, kini berbicara dalam bahasa logat dan ejaan yang ia ciptakan sendiri. Ia mengambil dari kata baku dan memberinya cengkok logat.

Bahasa itu bukan tembok! Ia adalah jembatan seribu aksara yang kita bangun dari kata. Mereka tidak lagi mencari pemenang bahasa, tetapi mencari cara untuk saling mendengar. Mereka tidak lagi melihat perbedaaan secara ancaman, jembatan tengah menjadi panggung, ada cerita dibawakan dalam dialek, lalu diterjemahkan oleh sukarelawan muda ke dalam bahasa baku. Ada teks baku yang ditempatkan di Selat Bunyi tidak lagi sunyi. Ia bergema dengan harmonisasi bahasa yang kaku dan bahasa yang lincah, kini menari bersama. (BP/ KM)*

 

 

Cerpen ini merupakan karya peserta Lomba Menulis Cerpen dalam rangka memperingati Bulan Bahasa yang diselenggarakan oleh MGMP Bahasa Indonesia, Bangka Tengah di Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, 23 Oktober 2025. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *