Lempah Kuning Warisan Leluhur 

Oleh: Meilanto

 

Liburan sekolah telah tiba. Sesuai dengan rencana, liburan kali ini, Deni akan menghabiskan masa liburan di kampung halaman ayahnya, di Pulau Bangka. Ayah dan ibu mengambil cuti tahunan dari rutinitas kerja demi waktu terbaik bersama keluarga di kampung. Memang, ayah Deni yang merupakan putra asli Pulau Bangka telah delapan tahun terakhir tidak pulang kampung. Semenjak menikah dan menetap di ibukota, keluarga kecil itu belum pernah pulang ke kampung halaman ayahnya.

Deni, anak satu-satunya di keluarga itu. Ia duduk di kelas 2 SD. Liburan kali ini merupakan moment berharga bagi Deni karena ia pertama kali bisa menginjakkan kakinya di tanah leluhur dari garis ayah.

“Pulau Bangka itu keren ya, Yah?” ujar Deni saat pesawat hampir mendarat di bandara udara Depati Amir Pangkalpinang.

“Iya Nak, Pulau Bangka terkenal dengan panorama pantainya yang indah, selain itu kulinernya bisa menggoyangkan lidah,” ujar Ayah sambil mencolek pipi Deni.

“Yah, nanti kita liburannya di kebun nenek aja, ya!” ujar Ibu yang duduk di sebelah kiri ayah. “Iya, nanti kita usahakan bermalam di pondok kebun nenek, pasti seru dan Deni akan memperoleh pengalaman baru,”

“Yes, asyik liburan kali ini akan menjadi cerita Deni di kelas nanti.”

Berita kedatangan keluarga Amirul dan keluarga kecilnya sudah disampaikan kepada keluarga di Bangka. Walaupun mereka jarang ketemu tatap muka, komunikasi dengan handphone tetap jalan.

Sepanjang perjalanan menuju kampung, ibu Deni dan Deni terkesima melihat rumah-rumah penduduk yang berjejer rapi di kiri kanan jalan raya. Jalan raya yang tidak terlalu lebar bebas dari kemacetan. Berbeda dengan di ibukota, walaupun jalan lebar, macet di mana-mana sehingga menimbulkan kebosanan.

Lima belas menit berlalu, Deni beserta ayah dan ibunya tiba di rumah yang tampak sederhana. Rumah tempat bernaung Amirul dan sepuluh kakak dan adiknya dari hujan panas. Rumah yang penuh dengan suka dan duka yang turut mengantar Amirul sukses meniti karier di ibukota.

Peluk haru dan kangen bersama keluarga menjadi pemandangan kepulangan Amirul yang membawa anak dan istrinya. Memang saat Amirul menikah, ayah dan ibunya dari kampung dibawa serta.

“Ayah, ibu, ini Deni, cucu ayah dan ibu, Ayo, Nak salaman dulu dengan kakek dan nenekmu!” Deni bersalaman dengan kakek dan neneknya dan keluarga lainnya. Begitu juga ibunya bersalaman dengan keluarga besarnya. Di dapur telah tersedia berbagai macam makanan yang memang disediakan untuk menyambut kedatangan Amirul dan keluarganya.

“Ayo kita makan dulu, bibimu sudah menyiapkan lempah kuning kesukaanmu. Ayah yakin, lempah kuning ini resepnya sama dengan yang diwarisi nenekmu dulu, Amirul.”

Semua duduk rapi menyantap makanan yang telah disediakan. Ada nasi merah, lempah kuning, sambal terasi, lalapan, sayur darat.

“Kalau di tempat kami, makanan ini tidak ada sama sekali,” ujar ibu Deni sambil mengambil daging ikan lempah kuning dan sayur darat.

“Bagaimana rasanya, Bu?” tanya Amirul.

“Walaupun ini baru pertama kali ibu menikmatinya, rasanya, subhanallah, luar biasa!” puji istri Amirul.

“Bibi, saya boleh ya belajar memasak lempah, apa ini namanya?” tanya Ibu Deni.

“Lempah kuning, Bu.” Jawab Amirul.

“Iya, lempah kuning, boleh ya, Bi?”

“Tentu boleh, sore nanti kita memasak lempah kuning lagi. Biar Amirul ke pasar membeli ikan yang masih segar dan nanas,” ujar Bibi.

“Oh siap bibi,” kata Amirul.

Setelah makan siang, mereka melepas rindu. Amirul, istri dan Deni saling bertukar cerita dengan keluarga. Tak lupa mereka membagikan oleh-oleh yang mereka bawa.

***

“Bibi, ayo kita membersihkan ikan untuk kita masak!” ajak bibi kepada istri Amirul. Istri Amirul cepat beradaptasi dengan keluarga di kampung. Rasa ingin tahunya tentang lempah kuning akan menjadi pengetahuan yang akan dia pulang nanti.

“Ikan untuk lempah ini haruslah ikan yang masih segar, kemudian untuk asamnya boleh menggunakan nanas, rasanya dijamin, nagih!” ujar Bibi sambil membersihkan ikan. Ibu Deni menyiapkan bumbu-bumbu seperti kunyit, cabai, garam, terasi dan nanas untuk asam.

Ikan sudah selesai dibersihkan dan dipotong-potong sesuai selera. Bumbu-bumbu sudah ditumbuk.

“Mengapa tidak menggunakan blender untuk menghaluskan bumbu-bumbu ini?” tanya Ibu Deni.

“Kalau menggunakan blender, bumbu-bumbunya terlalu halus dan sensasi lempah kuningnya kurang berasa,” jawab Bibi.

Ibu Deni menumbuk bumbu-bumbu dengan lesung batu. Ia sangat menikmati aktivitas membuat lauk makan malam. Nasi merah hasil berladang telah matang.

“Setelah airnya mendidih, masukkan bumbu-bumbu. Tunggu sampai mendidih lagi, baru masukkan ikan-ikan dan nanas yang telah dipotong-potong ini!” tambah Bibi lagi. Amirul turut memperhatikan istrinya belajar memasak lempah kuning sambil bercerita dengan ibu dan ayahnya.

Azan magrib berkumandang. Amirul salat berjamaah bersama ayahnya ibu dan keluarga lainnya. Setelah itu mereka menikmati makan malam dengan menu lempah kuning asam nanas lagi yang dimasak oleh istri Amirul dan dibantu oleh Bibi.

“Bagaimana rasanya, Bu?” tanya istri Amirul kepada ibu mertuanya.

“Kamu hebat, Nak. Pengalaman ini bisa kamu terapkan di rumahmu nanti. Bisa mengobati rindu Amirul terhadap makanan kesukaannya dan rindu kampung halamannya,” jawab Ibu.

“Istriku memang pintar memasak, Bu!” puji Amirul diiringi senyum simpul istrinya.

“Ini warisan leluhur nenek moyang yang diwariskan secara turun temurun. Lempah kuning dengan campuran asam nanas, bisa membuat lidah bergoyang,” tutur Ibu diiringi gelak tawa.

“Ye ibuku hebat!” ujar Deni.

Setelah menghabiskan waktu liburan di kampung termasuk tidur di kebun, saatnya Amirul beserta anak dan istri harus balik ke ibukota.

“Nanti, ibu akan memasak lempah kuning kesukaan ayah kalau kita sudah tiba di rumah,” ujar Ibu Deni.

“Dengan resep yang sama, ya! Haaa” Amirul tertawa. (BP/ KM)*

 

Catatan: Cerpen ini telah dibukukan dalam antologi Pecah Rasa Menemukan Kuliner Lokal yang yang Otentik dan Tersembunyi diterbitkan oleh Alineaku Publisher, 2025.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *