Puisi  

Sarung Melilit, Hati Terang  

Karya: YIA

 

Di dinding pondok yang menua dan tenang

terukir doa di setiap sudut ruang

kami yang menyepi dari hiruk dunia

menemukan cahaya di dalam ilmu yang nyata

 

Sarung melilit di pinggang bukan sekadar ikatan

tapi janji setia tak akan pernah dikhianati

menjaga lisan, menjaga tingkah dan hati

menjadi saksi di setiap langkah kaki

 

Lilin kecil di meja belajar menyala

menemani malam yang larut tanpa suara

di antara lembar kitab yang dibaca berulang

kami temukan arah dan jalan pulang

 

Bukan hidup mewah yang kami cari

hanya ridha Ilmu yang selalu kami cari

sederhana pakaian, sederhana tempat pulang

namun harapan di dada tak pernah hilang

 

Tak ada kemegahan di tempat kami belajar

hanya keikhlasan yang menjadi pelita

dari lisan guru yang penuh kesabaran

tumbuh jiwa-jiwa yang tangguh dan jujur

 

Dunia boleh berubah dengan cepatnya

tapi prinsip kami takkan pernah bergeser

keimanan adalah benteng yang kokoh

ilmu adalah lentera di jalan yang jauh

 

Kami bukan siapa-siapa di mata dunia

tapi di mata Tuhan kami ada harapan

dari sudut pondok yang sederhana ini

akan lahir pelita bagi negeri

 

Sabuk melilit, hati terang benderang

membawa pesan damai ke segenap penjuru

meski langkah pelan, tak pernah berhenti

karena di ujung jalan ada cahaya abadi

 

Selamat Hari Santri, wahai saudaraku!

tetaplah teguh, tak pernah menyerah

karena cahaya yang kau jaga malam ini

akan menerangi jalan bagi masa depan negeri

Toboali, 22 Oktober 2026

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *