Laporan : Belva
Bekaespedia.com, Mentok, Bangka Barat — Malam itu, Sabtu, 6 September 2025, cahaya lampion merah bergoyang lembut di antara tiang-tiang tua Kelenteng Kong Fuk Miao. Aroma dupa menebar harum, menembus dingin angin desiran yang datang dari suasana malam. Ribuan orang berkumpul, tua-muda, Tionghoa maupun bukan, menyatu dalam satu ritual tahunan: Sembahyang Rebut, atau dalam bahasa Hakka disebut Chit Ngiat Pan.
Tradisi ini, yang sudah berurat akar dalam kehidupan masyarakat Tionghoa Bangka, kembali dilaksanakan dengan khidmat dan meriah. Dari halaman kelenteng, suara tabuhan tambur dan denting simbal mengalun, bersahut-sahutan dengan doa yang dipanjatkan. Di atas meja persembahan, buah-buahan, sayur mayur, ayam panggang, hingga kue-kue tradisional tersusun rapi, seakan sedang menanti tamu-tamu tak kasat mata: para leluhur dan arwah yang kembali “berkunjung” ke dunia.
Namun, Sembahyang Rebut bukan sekadar ritual. Ia adalah napas panjang kebudayaan, cermin persaudaraan, dan ajaran tentang bagaimana manusia harus merawat keseimbangan hidup.
Ketua Panitia penyelenggara, dalam sambutannya, menjelaskan bahwa tujuan utama Sembahyang Rebut adalah untuk menghormati arwah leluhur dan arwah “liar” yang tidak dikenal. Menurut kepercayaan Khonghucu, pada bulan ketujuh penanggalan Tionghoa, gerbang alam baka terbuka. Roh-roh leluhur kembali ke bumi, mencari rumah, mencari keluarga, mencari doa.
“Mereka tidak boleh kita biarkan lapar atau tersesat,” ujar sang panitia. “Dengan memberi persembahan, dengan doa, kita menjaga keseimbangan. Kita menghormati mereka yang mendahului kita, kita menenangkan yang tanpa keluarga, kita belajar bahwa hidup adalah tentang memberi dan berbagi.”
Di sinilah letak spiritualitas Sembahyang Rebut. Ia tidak hanya tentang dunia yang tampak, tetapi juga tentang dunia yang tak terlihat. Dalam asap dupa yang melayang, tersimpan doa agar keseimbangan semesta terjaga, agar manusia dijauhkan dari mara bahaya, dan agar kerukunan tetap tumbuh.
Kelenteng Kong Fuk Miao malam itu seperti sebuah panggung raksasa kehidupan. Ribuan pasang mata menyaksikan jalannya ritual. Anak-anak kecil berlari di antara kerumunan sambil memegang kertas uang arwah (kim cua), sementara orang-orang tua dengan khusyuk membakar dupa dan membungkuk tiga kali di hadapan altar.
Di sisi kanan kelenteng, sebuah meja panjang dipenuhi sesaji berupa pisang raja kuning, jeruk manis, nanas, sayuran hijau, hingga daging segar. Setiap makanan mengandung simbol. Pisang melambangkan kelimpahan, jeruk berarti keberuntungan, nanas bermakna rezeki yang datang tanpa henti.
Lampion merah bergoyang tertiup angin. Api lilin menari, seakan menyapa roh-roh yang hadir malam itu. Di tengah suasana religius, musik tradisional barongsai dan tabuhan tambur menambah kemeriahan. Namun, tak ada yang sekadar pesta. Semua berdiri dalam lingkaran keyakinan yaitu hidup manusia tak lepas dari leluhur, dan leluhur tak boleh dilupakan.
Dalam acara tersebut, Bupati Bangka Barat, Markus, S.H., hadir memberikan sambutan. Dengan suara tegas namun penuh kehangatan, ia menyampaikan bahwa Sembahyang Rebut bukan sekadar acara keagamaan, tetapi sudah menjadi agenda budaya dan pariwisata daerah.
“Tradisi ini adalah warisan leluhur yang wajib kita jaga,” ucap Markus. “Kami pemerintah daerah mendukung penuh pelestariannya. Tahun depan, Sembahyang Rebut akan menjadi salah satu agenda wisata budaya resmi Kabupaten Bangka Barat. Kami sudah menganggarkan lebih dari 1,2 miliar rupiah untuk mendukung kegiatan adat yang ada di Bangka Barat. Karena kami percaya, adat dan budaya adalah jiwa daerah ini.”
Pidato Bupati ini menegaskan posisi penting Sembahyang Rebut dalam lanskap kebudayaan Bangka Belitung. Ia bukan sekadar ritual komunitas Tionghoa, melainkan juga identitas bersama yang memperkuat harmoni di tengah masyarakat multikultural.
Uniknya, Sembahyang Rebut tidak hanya diikuti oleh warga Tionghoa. Banyak masyarakat non-Tionghoa juga turut hadir, baik sebagai penonton maupun peserta. Bagi mereka, acara ini bukan hanya milik satu etnis, melainkan milik bersama.
Di tengah ritual, tampak seorang ibu Melayu bersama anak-anaknya ikut memberikan buah jeruk ke meja persembahan. “Saya datang setiap tahun,” katanya. “Bagi kami ini bukan soal agama, tapi soal kebersamaan. Di sini kita bisa belajar menghargai leluhur, belajar berbagi makanan, dan belajar hidup rukun.”
Inilah yang membuat Sembahyang Rebut di Muntok istimewa. Ia bukan sekadar acara etnis, melainkan jembatan yang menghubungkan perbedaan. Dari sini lahir nilai kebangsaan yang sesungguhnya yaitu toleransi, saling menghargai, dan merawat persaudaraan.
Sembahyang Rebut di Muntok telah ditetapkan sebagai aset budaya Kabupaten Bangka Barat. Tradisi ini masuk dalam Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) 2025–2029, sebagai bagian dari upaya perlindungan dan pengembangan budaya lokal.
Pemerintah daerah bersama masyarakat kini sedang mendorong agar tradisi ini menjadi objek wisata budaya. Harapannya, orang dari luar Bangka Barat bisa datang, menyaksikan langsung, dan merasakan makna ritual ini.
Namun, wisata budaya bukan berarti mengkomersialkan. “Yang terpenting adalah menjaga kesakralannya,” tegas Bupati Markus. “Kita ingin Sembahyang Rebut tetap murni sebagai warisan leluhur, tetapi juga bisa dikenal luas.”
Sambutan Bupati malam itu ditutup dengan pantun khas Bangka Barat. Bait-baitnya sederhana, namun sarat makna:
Orang ke laut mencari ikan
Ikan ditangkap dengan jala
Sembahyang Rebut kita lestarikan
Tradisi leluhur yang wajib dijaga
Pantun itu bukan hanya hiburan. Ia adalah simbol. Ia menegaskan bahwa budaya adalah bahasa persaudaraan. Pantun Melayu menyatu dengan ritual Tionghoa, membentuk mozaik indah kehidupan di Muntok.
Bagi masyarakat Tionghoa, Sembahyang Rebut adalah ajaran moral dan etika. Ia mengingatkan manusia untuk selalu menghormati leluhur, berbuat baik, dan menjaga keseimbangan hidup.
“Ini tentang bakti,” ujar seorang tokoh Khonghucu. “Kalau kita tidak menghormati leluhur, bagaimana mungkin kita berharap anak cucu nanti menghormati kita? Tradisi ini adalah pelajaran tentang sebab-akibat, tentang karma, tentang keseimbangan antara memberi dan menerima.”
Filosofi ini menjadi jembatan antar generasi. Anak-anak yang datang melihat, belajar bahwa hidup bukan hanya tentang diri sendiri. Hidup adalah tentang keluarga, tentang leluhur, tentang masyarakat, tentang semesta.
Sembahyang Rebut di Muntok adalah cermin kehidupan masyarakat Bangka Barat. Ia memperlihatkan bagaimana agama, budaya, dan kehidupan sosial bisa menyatu. Ia menunjukkan bahwa warisan leluhur bukan sekadar benda mati, tetapi napas yang terus hidup dalam masyarakat.
Di tengah modernisasi, tradisi ini tetap bertahan. Asap dupa terus naik, doa terus dipanjatkan, makanan terus dipersembahkan. Semua demi menjaga hubungan antara dunia manusia dan dunia leluhur.
Dan di atas segalanya, Sembahyang Rebut adalah tentang cinta: cinta kepada leluhur, cinta kepada sesama, cinta kepada budaya, dan cinta kepada tanah kelahiran












