Aditya Group Menanam Harapan: 65 Santunan Jejak Kepedulian Zakat Mal Dalam Misi Kemanusiaan

Laporan : Hariyanti, Belva Al Akhab dan Satrio

Bekaespedia.com, Mentok,- Senja turun perlahan di ufuk barat Muntok, menyapu langit dengan warna keemasan yang nyaris redup. Di bawah rimbun pepohonan yang masih setia menjaga kesejukan, sekelompok warga duduk dalam lingkar sederhana. Tidak ada panggung megah, tidak ada gemerlap cahaya. Hanya ada manusia dengan harapan yang disimpan diam-diam dan tangan-tangan yang saling terulur.

Di tempat itulah, Rabu (18/03/2026), Aditya Group bersama para karyawan menghadirkan sebuah peristiwa kecil yang diam-diam memiliki gema besar yaitu santunan zakat mal yang dirangkai dengan buka puasa bersama bagi 60 warga dari RT 02 dan RT 03.

Di tengah dunia yang semakin bising oleh angka dan pertumbuhan, kegiatan ini hadir sebagai jeda. Sebuah pengingat bahwa kehidupan tidak selalu tentang seberapa besar yang dimiliki, tetapi tentang seberapa dalam makna yang dibagikan.

Aditya, CEO Aditya Group, Survryadi, S.Tp. M.M., berdiri tanpa jarak di hadapan warga. Suaranya tidak meninggi, tetapi cukup untuk menjangkau hati yang hadir.

“Walaupun tidak banyak, kami berharap santunan ini bisa bermanfaat dan sedikit meringankan beban masyarakat,” ujar Surveyadi, S.Tp. M.M., dalam pidatonya di depan para penerima santunan.

Namun di balik kalimat yang terdengar sederhana itu, tersimpan filosofi yang lebih luas tentang arah sebuah perjalanan usaha bahwa keberhasilan tidak hanya diukur dari pertumbuhan, tetapi dari kebermanfaatan.

“Bagi kami, usaha tidak hanya tentang tumbuh dan berkembang, tetapi juga tentang bagaimana keberadaan Aditya Group bisa memberi arti bagi lingkungan sekitar. Ramadan adalah pengingat bahwa rezeki yang kita miliki sejatinya adalah titipan. Di situlah kami ingin hadir menjadi jembatan kecil bagi harapan, menjadi bagian dari tangan-tangan yang terulur ketika masyarakat membutuhkan,” ucap Surveyadi, pelan namun tegas.

Kata-kata itu seperti mengendap di udara sore, menyatu dengan aroma makanan yang tersusun rapi di sudut halaman. Paket-paket berbuka menunggu azan, sebagaimana warga menunggu waktu dan mungkin juga menunggu sedikit kelegaan dari beban hidup yang kian terasa menjelang Hari Raya.

Di hadapan Aditya, wajah-wajah itu berbicara dalam diam. Ibu-ibu dengan kerudung sederhana, para lansia yang duduk bersila dengan tenang dan para pekerja harian yang menggenggam erat kantong bantuan semuanya menghadirkan satu narasi yang sama tentang bertahan, tentang berharap.

Sebagian dari mereka menangkupkan tangan, bukan sekadar sebagai gestur doa, tetapi sebagai bahasa sunyi yang hanya dimengerti oleh hati yang pernah merasa kekurangan.

Di belakang mereka, sebuah spanduk besar bertuliskan Aditya Group membentang. Di dalamnya tergambar berbagai lini usaha kendaraan, penginapan, jasa, hingga layanan lainnya. Namun pada sore itu, semua identitas tersebut seperti luluh, kehilangan batasnya dan menjelma menjadi satu makna yaitu kehadiran.

Kehadiran yang tidak datang untuk dilihat, tetapi untuk dirasakan.

“Kami ingin Aditya Group tidak hanya dikenal sebagai pelaku usaha, tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat itu sendiri. Tumbuh bersama, merasakan bersama, dan berbagi bersama,” lanjut Surveyadi.

Kalimat itu bukan sekadar pernyataan. Ia adalah upaya membangun jembatan antara dunia usaha dan realitas sosial sebuah ruang di mana keuntungan tidak berdiri sendiri, tetapi berjalan berdampingan dengan kepedulian.

Ramadan, dalam banyak hal, selalu datang dengan keheningan yang mengajarkan. Ia mengajarkan bahwa lapar bukan sekadar rasa, tetapi pengalaman yang menyatukan manusia dalam posisi yang setara. Ia mengajarkan bahwa memberi bukan tentang kelebihan, tetapi tentang kesadaran.

Di tempat itu, kesadaran itu tampak hidup.

Siti Aminah (52), salah seorang penerima santunan, menundukkan wajahnya sejenak sebelum berbicara. Suaranya lirih, namun sarat makna.

“Alhamdulillah, bantuan dari Aditya Group ini sangat membantu kami. Bukan hanya soal isinya, tapi kami merasa diperhatikan. Di saat banyak orang sibuk dengan urusan masing-masing, masih ada yang peduli dengan kami,” ujarnya.

Di sisi lain, Hasan (60) memandang kegiatan ini sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar rutinitas tahunan.

“Setiap tahun mereka datang, tidak pernah lupa dengan masyarakat kecil seperti kami. Ini bukan hanya santunan, tapi bukti bahwa Aditya Group punya hati untuk berbagi. Kami merasa dihargai sebagai manusia,” katanya.

Pernyataan itu mengalir seperti sungai kecil dengan tenang, tetapi membawa kehidupan.

Menjelang azan magrib, cahaya matahari semakin menipis. Langit Muntok perlahan berubah warna, dari terang menuju gelap. Namun di antara perubahan itu, ada sesuatu yang tidak ikut redup yaitu rasa kebersamaan.

Di tengah dunia yang kerap melupakan yang kecil dan yang sunyi, kegiatan ini menjadi penanda bahwa masih ada ruang untuk peduli. Bahwa masih ada usaha yang memilih untuk tidak hanya berdiri di atas keuntungan, tetapi juga menunduk pada kemanusiaan.

Ramadan pun hampir pergi. Seperti biasa, ia datang dengan penuh makna dan pergi meninggalkan pertanyaan sudahkah kita cukup peduli?

Di halaman sederhana itu, jawaban mungkin tidak diucapkan.
Tetapi ia terlihat di tangan yang memberi, di tangan yang menerima, dan di antara keduanya yaitu sebuah kepercayaan bahwa manusia masih saling menjaga.

Di sanalah, Aditya Group tidak hanya menjalankan usaha, tetapi sedang menulis jejak-jejak tentang kemanusiaan yang tak selalu terlihat, tetapi selalu terasa.

Exit mobile version